
Terlihat Roby yang sedang membantu istrinya mengeringkan rambut sebahu itu dengan handuk yang ada ditangannya. Tadinya Sarah sudah menolaknya, namun Roby tetap memaksa, dan pada akhirnya mau tak mau Sarah membiarkannya saja.
" Bukannya mas Roby ingin berangkat kekantor? Sebaiknya pergi saja mas, nanti kamu telat loh, sini biar aku saja yang mengeringkan rambutnya." ucap Sarah sambil tangannya menengadah untuk menerima handuk yang ada ditangan suaminya.
" Tidak apa sayang, lagian kan itu perusahaan nya mas juga, jadi gak masalah kalau pergi sedikit terlambat." jawabnya sambil menggosok rambut istrinya dengan handuk tersebut.
Ting..
Terdengar satu notifikasi yang berbunyi dari ponsel Roby yang ia letakan sebelumnya diatas nakas tempat tidur. Roby hanya melirik sekilas tanpa berniat untuk melihatnya.
" Sebaiknya kamu lihat pesan yang ada di ponselmu mas, mana tau penting." ucap Sarah dengan nada datar, wanita itu sedikit terganggu saat mendengar dua kali pesan masuk diponsel suaminya, sedangkan ia melihat suaminya seperti tak acuh.
" Nanti saja, lagi pula pasti itu tidak penting, kalau penting dia akan menghubungi mas." ucap Roby. Sedangkan Sarah tak berkata lagi, wanita itu hanya diam sambil menikmati apa yang dilakukan suaminya itu.
" Sayang nanti siang kamu ada acara kemana? Mas ingin ajak kamu kesuatu tempat apa kamu mau?" tanya Roby sambil melihat reaksi istrinya melalui pantulan cermin, Roby melihat sepertinya istrinya sudah mulai sedikit luluh
" Maaf mas aku gak bisa, karna aku dan mba Irma ada kegiatan diluar siang nanti." jawab Sarah masih dengan mode datar.
" Kegiatan apa itu? Apakah mas boleh tau?"
" Untuk apa? Bukankah semua kegiatan mas juga aku tidak pernah tau, bahkan saat bertemu dengan pelakor diluaran sana aku tidak mengetahuinya." ucap Sarah, membuat tangan Roby seketika berhenti dari aktifitasnya.
__ADS_1
" Maksud kamu apa Sarah? kenapa sih kamu selalu mengungkit nya? Mas kan sudah minta maaf." ucap Roby
Mendengar ucapan suaminya Sarah langsung memutar tubuhnya kearah sang suami yang saat itu masih berdiri dibelakangnya." Memang kamu sudah minta maaf padaku mas, tapi asal mas tau, aku masih belum bisa menerima ini semua." jelasnya membuat Roby hanya bisa menghela nafas kasar.
" Kalau begitu mas berangkat dulu." ucapnya sambil melangkah menuju nakas tempat tidur, lalu mengambil ponsel miliknya tanpa berniat untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan tersebut, sebab Roby yakin itu bukan dari rekan bisnisnya, karna sebelumnya Roby sudah mengatur nada pesan ataupun nada dering yang berbeda jika menyangkut hal pekerjaan.
Sedangkan ditempat lain terlihat seorang wanita yang sedang menggerutu sambil terus memandang ponsel yang ada dalam genggamannya." Kenapa gak diangkat sih mas, aku ingin kita bertemu sebelum kamu berangkat kerja." ucapnya dengan suara lirih, dan siapa lagi kalau bukan Dina. Entah kenapa wanita itu terus-terusan menghubungi roby, padahal dia sendiri ya g mengatakan tidak akan mengganggu rumah tangga Roby dan Sarah, tapi sepertinya pikirannya berubah.
" Kalau kamu gak mau ketemu sama aku baiklah mas, aku yang akan datang ketempat kamu." monolognya, lalu bersiap berangkat dari rumahnya.
***
Bel tanda istirahat telah berbunyi, semua murid mulai berhamburan satu persatu keluar dari kelas untuk mengistirahatkan otak barang sejenak. Ada yang kekantin dan ada juga yang pergi keperpustakaan. Sedangkan Naura terlihat masih berada didalam kelas, entah apa yang sedang dilakukan gadis itu sampai Rama yang masuk kedalam kelasnya pun ia tak menyadarinya. Pemuda itu menyandar kan tubuhnya dipintu masuk kelas sambil tangannya ia masukan kedalam saku celana, dengan pandangannya yang terus tertuju kearah Naura
" Apa nya yang selesai? Kamu mengerjakan ulangan didalam kelas?" ucap suara bass seseorang, Naura yang tadinya sibuk menyimpan buku pelajarannya sempat terkejut dengan kehadiran orang lain didalam kelas, sebab yang ia tau semua murid tadi sudah pada keluar semua.
" Kak Rama, bikin aku kaget aja sih, kirain tadi siapa." ucapnya, lalu melangkah menuju pintu kelas dimana pemuda itu berada. Sejujurnya ada rasa bahagia dalam hati gadis itu melihat rama mencarinya, ya Naura yakin kalau saat ini Rama pasti sedang mencarinya, dan gadis itu juga yakin jika pemuda itu sudah mulai memiliki rasa rindu padanya, entah kenapa tiba-tiba saja Naura mengingat kelakuan mereka tadi malam, dimana Rama dengan rakus menciumi bibirnya, seketika pipinya memanas, Namun secepat kilat Naura langsung menghilangkan ingatan itu, sebab ia tak ingin Rama mengetahui jika tadi malam sebenarnya dirinya tidak dalam keadaan tidur.
" Ngapain kakak disini? Kalau mau cari Amel sepertinya dia sudah keluar sejak tadi." ucap nya dengan nada sedikit kesal, kesal dengan ucapannya sendiri.
" Aku tau, makanya aku kesini." jawabnya sambil memperhatikan wajah Naura, gadis yang beberapa hari ini sudah mulai mencuri hatinya, meskipun begitu Rama belum mau mengakuinya secara terang-terangan , pemuda itu terlalu gengsi, apa lagi dulu dirinya sempat mengatakan pada semua sahabat dan keluarganya jika dirinya tidak akan pernah menaruh hati pada adik sepupunya itu, namun pada akhirnya ucapan yang selalu ia junjung tersebut harus terkalahkan dengan perasaannya. Perasaan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
__ADS_1
" Kak Rama mencariku?" tanya Naura dan Rama langsung menganggukan kepalanya." Ada perlu apa kak?" sambung Naura sambil menatap lekat wajah lelaki tampan yang selalu membuat hatinya berdebar itu.
" Apa butuh alasan bagiku untuk bertemu denganmu?" Rama balik bertanya, dan Naura langsung menjawab dengan gelengan kepala.
" Aku hanya tidak ingin Amel salah paham denganku kak, dia kan kekasih kak Rama, nanti kalau dia lihat gimana?" ucap Naura
" Biarkan saja, kamu kan adikku, jadi mau protes kayak gimana juga dia gak berhak larang-larang aku kalau aku ingin bersama dengan adikku sendiri." jawab Rama sambil menatap wajah cantik Naura.
Naura sebenarnya tak terima dengan ucapan Rama yang menganggap dirinya hanya sebagai adik bagi pria itu, namun ia biar kan saja." Oh, yasudah terserah kak Rama aja." ucap Naura yang langsung hendak melangkah keluar dari kelas, namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh laki-laki itu.
Maura menatap pergelangan tangannya yang digenggam oleh Rama." Ada apa lagi kak?" tanya gadis itu sedikit kesal
" Apa kamu masih menyukaiku Naura?"
" Maksud kak Rama?" sejujurnya jantung Naura sangat berdebar mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Rama, entah apa yang ingin pemuda itu katakan, Naura hanya bisa menebak- nebak.
" Aku yakin kamu tau maksud dari pertanyaan ku itu." sambung nya, sebenar nya Naura jelas tau, hanya saja gadis itu ingin lebih jelas lagi
Naura diam sejenak," Buat apa aku jawab, aku yakin kak Rama juga sudah tau apa jawabannya." ucap Naura
Rama mengangguk tanda mengerti." Naura sepertinya aku mulai menyukaimu dan aku ingin kita bersama." ucap Rama sambil melihat reaksi apa yang akan diberikan oleh Naura, tadinya Rama pikir Naura akan senang dan langsung memeluknya saat dia mengatakan tentang perasaannya itu pada gadis tersebut, tapi kenyataannya reaksi gadis itu terlihat biasa saja, dan itu membuat Rama sedikit kecewa. Pemuda itu tidak tau saja seberapa senang gadis itu setelah mendengar pengakuan Rama, dan ini adalah momen yang selalu ia nantikan selama bertahun-tahun lamanya, namun Naura tak ingin memperlihatkan nya pada Rama, Naura ingin memberi pelajaran sedikit untuk Abang sepupunya itu, bagai mana susahnya memperjuangkan seseorang yang ia cintai
__ADS_1
Next