
Sarah memarkirkan kendaraannya, setelah itu ia langsung melangkah menuju bangunan tinggi yang ada didepan matanya, tidak lupa bekal makanan yang sudah ia buat, namun kali ini Sarah tidak membawakannya untuk Imron, jaga- jaga agar ia tak lagi bertemu dengan Raka, bukan karna ingin menghindar, lebih tepatnya Sarah tak ingin suaminya nanti kembali salah paham dengan kedekatan mereka.
" Siang Mala apa pak Roby ada diruangannya?" tanya Sarah pada resepsionis begitu wanita tersebut berada dikantor suaminya.
" Ada Bu, tapi sepertinya beliau masih ada tamu." jelas Mala
" Tamu?" beo Sarah yang diangguki oleh Mala
" Iya, seorang wanita dan seperti nya teman pak Roby karna saya lihat kedua nya cukup akrab." sambungnya lagi, mendengar ucapan Mala entah kenapa membuat darah Sarah berdesir, ia menduga- duga jika wanita yang dimaksud oleh Mala tak lain dan tak bukan adalah Dina, tanpa bertanya lagi akhirnya Sarah pun memutuskan untuk menemui suaminya tersebut diruangannya, Sarah ingin memastikan sendiri jika dugaannya ini tidaklah salah.
Sarah berdiri didepan pintu ruangan suaminya yang masih tertutup rapat, Sarah mencoba menempelkan telinganya didepan pintu ruangan tersebut, mungkin saja ia bisa mendengar percakapan keduanya dari dalam, namun sepertinya sia-sia saja, karna tidak mungkin telinganya dapat mendengar pembicaraan dari luar ruangan tersebut, karna jarak antara pintu dan juga ruang kerja suaminya lumayan jauh. Sarah mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu tersebut namun ia urungkan, entah kenapa jantungnya semangkin berdebar, Sarah tak sanggup jika kenyataan nya suaminya telah bermain serong dibelakangnya dengan wanita lain, jika sampai itu benar terjadi, maka Sarah akan pastikan suaminya itu membayar semuanya. Perlahan wanita itu memutar kenop pintu yang tenyata memang tidak dikunci, untung saja Rani sekertaris suaminya tidak ada diruangannya, jadi Sarah tidak perlu ijin dengan wanita itu untuk masuk keruangan suaminya disaat ada tamu didalam ruangan tersebut. Perlahan pintu mulai terbuka menampilkan sedikit ruangan yang ada didalam nya, diikuti Sarah yang mulai masuk kedalam ruangan tersebut.
" Mas Roby!" suara pekikan menggema diseluruh ruangan itu, membuat sepasang manusia yang ada didalamnya sontak menoleh kearah sumber suara dengan mata yang melotot sempurna, dan replek saling menjauh satu sama lain. Roby bangkit dari duduknya dan melangkah dengan cepat mendekati istrinya sambil terus menatap wajah yang terlihat sangat kecewa terhadapnya.
__ADS_1
" Apa yang baru aku lihat ini tidak salah kan mas?" ucap Sarah dengan menahan rasa sesak didada nya.
" Sayang ini tidak seperti yang kamu lihat, ini adalah ketidak sengajaan, tadi Dina terjatuh." ucap Roby dengan wajah yang terlihat panik, ia takut jika istrinya salah faham
" Ketidak sengajaan mas bilang?" ulang Sarah yang langsung diangguki oleh suaminya.
" Tapi kenapa pas sekali ketidak sengajaan itu, dia jatuh tepat diatas pangkuan kamu mas?" ucap Sarah sambil sedikit meninggikan suaranya.
" Sarah kamu salah faham, yang dikatakan oleh mas Dika memang benar, tadi aku hanya terjatuh." sambung Dina yang merasa harus meluruskan nya, namun ia baru ingat jika ucapan yang keluar dari mulutnya ada yang salah, dan itu membuatnya hanya bisa meringis pasrah jika Sarah kembali mempertanyakan ucapannya.
Roby yang mendengar ucapan istrinya hanya bisa terdiam, lidahnya terasa kelu untuk bicara, bagai mana bisa istrinya langsung bisa menebak semuanya, dan tebakannya itu langsung tepat sasaran. Sedangkan Dina sendiri hanya bisa terdiam, wanita itu tidak ingin kembali melakukan kesalahan dengan menjawab ucapan Sarah, biar Roby saja yang menjelaskan semua itu pikirnya.
" Kenapa kalian diam? Oh berarti tebakanku tidak salah kan? Berarti kamu Dina, mantan suamiku dan sekarang datang kembali untuk merebutnya dariku, karna cinta dari masa lalu yang belum usai?" ucap Sarah penuh dengan penekanan disetiap kalimat nya.
__ADS_1
" Sarah ini sama sekali tidak seperti yang kamu bayangkan."
" Oh ya? Aku hanya lihat faktanya saja kok, dan fakta nya adalah kamu dan suamiku mas Roby sepertinya ingin kembali bernostalgia, benar kan mas?" ucap Sarah dengan senyum sinis nya." Aku gak nyangka kamu tega bohongi aku mas, ternyata rekan kerja yang kamu bilang hanya kedok belaka." Sarah menatap suaminya yang terdiam, ia berpikir mungkin selama ini suaminya itu memang berniat untuk kembali bersama mantan kekasihnya itu. Tanpa berkata lagi Sarah langsung meningalkan ruangan tersebut, rasanya terlalu sesak jika terus berada didalam ruangan itu, apa lagi melihat suaminya yang hanya diam seolah membenar kan ucapan nya barusan.
" Mas kejar Sarah kenapa diam saja!" samar- samar Sarah masih bisa mendengar ucapan Dina yang meminta agar suaminya itu mengejar nya, bukannya Sarah senang, justru ia merasa jika Roby memang tidak menginginkannya lagi, buktinya pria itu sama sekali tak perduli dan malah diam saja, membiarkan istrinya pergi dengan kekecewaannya.
" Mas kenapa kamu biarkan Sarah pergi? Kenapa kamu gak jelasin kesalahpahaman ini?" ucap Dina pada Roby, karna memang diantara mereka saat itu memang tidak terjadi apapun, Dina terpeleset dan tidak sengaja malah jatuh diatas pangkuan Roby, dan disaat yang bersamaan Sarah membuka pintu ruangan tersebut
" Biarkan saja dulu, kalau sedang emosi seperti itu dia tidak bisa diajak bicara baik-baik, kita biarkan saja dia menenangkan pikirannya, setelah tenang aku akan menjelaskan semuanya." ucap Roby
" Kamu yakin mas? Aku hanya takut kalau Sarah--,"
" Sudahlah kamu tidak perlu khawatir, aku akan segera menyelesaikan masalahku dengan Sarah secepatnya." ucap Roby
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain, terlihat Sarah sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi." Kamu keterlaluan mas Roby, bahkan kamu sama sekali tidak mengejarku, awas kamu aku gak akan maafin kamu, lihat saja." monolognya, wanita itu mencengkram stir dengan kuat.
Next