Mencintai Abang Sepupu

Mencintai Abang Sepupu
Bab 59 . Boleh aku buka?


__ADS_3

Keduanya masih duduk diatas tempat tidur dengan saling berhadapan, Naura yang masih menunggu jawaban Rama terlihat tidak sabar, sedangkan Rama sendiri masih menatap wajah Naura yang saat ini terus tersenyum kearahnya. Perlahan Rama menyentuh tangan Naura lalu menggenggamnya, sedangkan Naura sendiri terlihat begitu gugup, apa lagi saat tangannya diremas oleh Rama, itu membuat jantung Naura berdegup dua kali lipat dari biasanya.


" Naura aku memang mulai menyukai mu." ucap Rama sambil menatap wajah cantik Naura, walaupun tanpa make' up gadis itu tetap cantik, wajahnya mulus tanpa noda dengan bibir merah merona alami yang kini selalu menjadi candu bagi Rama. Tangan Rama terangkat menyentuh wajah Naura, membelai nya dengan lembut hingga membuat Naura memejamkan mata merasakan sentuhan lembut dari lelaki itu. Laki-laki yang selalu ada dihatinya. Tanpa Naura sadari Rama mendekatkan wajahnya pada gadis itu, rasanya ia ingin kembali menikmati bibir manis milik gadis cantik tersebut, hingga tak sadar kini bibir kedua nya benar- benar sudah menempel, sedangkan Naura yang merasakan ada sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh bibirnya seketika membuka mata. Namun detik berikutnya gadis itu kembali memejamkan mata dan mulai menikmati ciuman yang diberikan oleh pujaan hatinya itu.


Rama memegang tengkuk Naura untuk memperdalam ciuman mereka, bibir Naura terasa sangat manis dilidahnya, ya Rama menjilat bibir gadis itu dan sedikit menggigitnya hingga Naura membuka mulut, untuk memberi jalan bagi lidah Rama masuk kedalam rongga mulut gadis itu, dan mengabsen semua yang ada didalamnya. Lima menit sudah berlalu, namun tak ada tanda-tanda dari Rama atau pun Naura untuk melepaskan tautan bibir mereka, sepertinya keduanya juga sudah mulai mahir melakukannya. Terdengar suara cecapan dari bibir keduanya, tak puas hanya disitu, bahkan kini Naura dengan berani duduk diatas pangkuan Rama membuat Rama menggeram tertahan saat tanpa sengaja milik Naura dan miliknya bergesekan. Naura juga sempat merasakan tonjolan dibawah bok*ongnya dan ia yakin jika itu adalah mas depan Rama yang sedang terbangun dari tidur nya, Naura bukanlah gadis yang polos, beberapa kali ia dan Amel dulu pernah menonton film dewasa karna merasa penasaran, dan itu adalah ide Amel, jadi sedikit banyaknya ia mengerti. Sedangkan Rama yang sudah mulai terbakar hawa nafsu mulai tidak terkendali, tangan pemuda itu kini mulai aktif, menyusuri punggung Naura mengusapnya naik turun membuat Naura semangkin berga*irah. Tangan Rama yang tadinya berada dipunggung naura kini sudah mulai menyusup dibalik kaos gadis itu, mengusapnya tubuh semampai itu dengan lembut, membuat sang empu merasakan geli berkepanjangan, apa lagi kini tangan Rama sudah mulai meraba dibagian depan tubuhnya.


" Oh, kak Rama ..." Naura mend*esah saat tangan pria itu sudah mendarat diatas cup br*a miliknya, mere*mas buat da*da nya dengan lembut, membuat Naura semangkin tak karuan. Ciu*man Rama kini mulai menjelajah, semua kulit tubuh milik Naura tak luput dari kecupan basahnya. Mulai dari cuping wajah dan leher gadis itu, pria itu sepertinya sudah mulai kehilangan akal sehatnya.


Rama menarik wajahnya sejenak dari ceruk leher Naura, namun tidak dengan tangannya yang masih berada diatas buah da*da milik gadis itu." Naura bolehkah aku melihat ini?" ucap Rama dengan mer*emas gunung tersebut, Naura yang paham maksud Rama langsung mengiyakannya, karna sepertinya gadis itu juga sudah terbakar gairah. Rama tersenyum saat melihat Naura menganggukan kepalanya, dengan tidak sabaran pemuda itu langsung mengangkat kaos tersebut keatas kepala gadis itu hingga terlepas dari tubuh Naura

__ADS_1


Glek..


Rama menelan paksa ludahnya, untuk membasahi tenggorokannya yang teras kering. Pemuda itu tidak menyangka jika adik sepupunya itu memiliki tubuh yang sangat menggoda, meskipun masih terbungkus oleh b*ra, namun Rama bisa melihat dengan jelas daging sintal itu, karna memang br*a yang dikenakan Naura tidak bisa membungkus miliknya sepenuhnya.


" Boleh aku buka?" tanya Rama lagi, dan sekali lagi Naura hanya menganggukan kepalanya mengiyakan permintaan Rama. Perlahan namun pasti Rama mulai membuka kaca mata besar itu, hingga kini terpampang lah dua buah melon berukuran sedang dihadapannya membuat Rama tak berkedip, pemuda itu menatap kagum pada aset milik Naura apa lagi bulatan kecil berwarna pink yang ada diatasnya, yang masih belum terlalu menonjol, namun terlihat sudah tegak dan mengeras, mungkin karna gadis itu merasa tera*ngsang.


" Ini sangat cantik." gumam Rama pelan, namun masih bisa didengar oleh Naura. Rama berdecak kagum melihat dua gunung milik Naura ingin rasanya lelaki itu menikmatinya dan juga membenamkan wajahnya disana.


" Kenapa malu? kamu tau Naura, milikmu ini sangat indah, dan aku sangat menyukainya." ucap Rama jujur, sedangkan Naura yang mendengar merasa malu, namun tak dipungkiri didalam hatinya ada kebanggaan tersendiri saat pemuda yang dicintainya itu menyukai aset miliknya.

__ADS_1


" Boleh aku mencicipinya?" tanya Rama sambil menahan gairah dalam dirinya, sungguh Rama sudah tidak tahan dengan pemandangan yang ada didepan matanya.


" Iya kak aku gak keberatan kalau kakak Rama ingin menikmatinya." jawab Naura dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus, entah dapat keberanian dari mana sampai gadis itu bisa berkata seperti itu, mungkin Rama akan berpikir jika Naura gadis murahan karna dengan gampangnya mengiyakan semua permintaan Rama, namun bagi Naura justru karna yang meminta itu adalah Rama, makanya Naura mau menurutinya, gadis itu akan melakukan apapun demi lelaki yang dicintainya, apa lagi Naura sendiri juga menginginkannya.


***


Keesokan harinya seperti biasa Naura bersiap pergi ke sekolah dengan hanya berjalan kaki, karna memang tempat Naura menimba ilmu jaraknya dekat dari tempat tinggalnya, dan hanya perlu menyebrang jalan untuk sampai disana, karna memang sekolah tersebut berada didepan rumahnya, tepatnya depan komplek perumahan tempat tinggal Naura dan juga Rama. Kedua orang tua Naura memang belum pulang sejak kemarin, namun Sarah sudah memberi kabar jika kondisi kakek mereka sudah lebih baik, jadi kemungkinan nanti malam mereka akan pulang.


Setelah menutup pintu gerbang Naura langsung melangkah menuju jalan raya, namun baru beberapa langkah gadis itu tiba- tiba mendengar seseorang memanggil namanya. Naura berbalik dan mendapati Rama yang ternyata tengah berdiri dibelakangnya dengan senyumannya yang membuat Naura terpana, karna memang Naura biasa sangat jarang melihat senyum Rama dan sekarang lelaki itu tersenyum kepadanya membuat hatinya langsung meleleh. Tiba-tiba saja Naura teringat tentang kejadian kemarin yang langsung membuat pipinya merona. Rama yang melihat itu hanya tersenyum, karna sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran gadis yang ada dihadapannya tersebut.

__ADS_1


Next


__ADS_2