
Masih dengan posisi yang saling berhadapan, Naura masih menatap Rama dengan wajah yang cemas, sedangkan Rama sendiri menatap penampilan gadis itu dari atas sampai bawah dengan sangat lekat, Rama kembali menelan kasar ludahnya, setelah diperhatikan Rama baru sadar jika Naura sangat lah memikat dengan tubuh yang seksi dan berisi, dengan buah dada yang sintal, Rama membayangkan jika dipegang pasti sangat lah pas digenggaman pria itu, oh tidak kenapa dia jadi mesum seperti itu, Rama menggelengkan kepalanya berulang kali untuk mengusir pikiran kotor yang bersarang dikepalanya.
" Kak, kak Rama tidak apa-apa kan?" tanya Naura sekali lagi, gadis itu melihat wajah Rama seperti kepiting rebus
" Kak Rama sakit? Karna aku timpa tadi ya? Maaf ya kak? habisnya kak Rama sih." Naura masih menyalahkan pemuda itu namun Rama masih diam tak menanggapi ucapan gadis itu, sepertinya Rama masih shock atas apa yang terjadi tadi
" Kak Rama!" panggil Naura dengan suaranya yang memekakkan telinga
" I-iya aku juga dengar kali Na, gak usah teriak gitu, budek aku nya tau gak." kesal Rama karna suara cempreng Naura yang membuat telinganya sakit.
( Apa Naura tidak merasakan apa yang aku rasakan ya? Kok dia nya biasa aja, padahal kan tadi gunung nya itu nemplok di wajah aku )
Batin Rama, pemuda itu mengalihkan perhatiannya kearah lain, untuk menetralkan detak jantungnya yang sejak tadi tidak beraturan.
" Loh kak Rama mau kemana kak?" tanya Naura merasa bingung, pasalnya Rama bangkit dan pergi begitu saja, dengan cepat lelaki itu melompat dari balkon rumah Naura menuju balkon kamar miliknya, meninggalkan Naura yang masih merasa bingung sendiri, gadis itu berpikir mungkin Rama marah padanya, gadis itu juga berpikir jika Rama memang benar- benar sakit dan itu karna ulahnya barusan, sepertinya gadis itu memang tidak menyadari apa yang barusan terjadi.
" Sepertinya nanti aku harus minta maaf sama kak Rama deh." gumam nya, lalu masuk kekamar miliknya untuk membersihkan diri.
Hari sudah menjelang malam, dikamar nya terlihat Rama yang sedang duduk diatas tempat tidur sambil melamun, entah apa yang dipikirkan pemuda itu, sampai Irma yang sudah berada didalam kamarnya pun tidak ia sadari.
" Astaga anak ini ternyata lagi melamun toh, kirain lagi dikamar mandi sejak tadi dipanggil tidak menjawab." gumam Irma sambil menggerutu, wanita paruh baya itu kesal karna sejak tadi ia terus mengetuk pintu namun tak dijawab karna anak perjaka nya ternyata sedang melamun.
" Rama sayang kamu kenapa? Sakit?" tanya Irma, wanita itu duduk di sisi ranjang tepat disamping putranya tersebut.
" Eh bunda, kok bunda tiba-tiba ada disini sejak kapan?" tanya Rama bingung
__ADS_1
" Sejak tadi sayang, kamu melamunin apa sih? Wajah kamu juga merah, kamu sakit?" ucap Irma sambil memeriksa kening Rama
" Bun aku gak sakit kok." jawabnya sambil menurunkan tangan irma dari keningnya
" Masa sih, tapi wajah kamu memang merah, seperti yang dikatakan Naura tadi." sambung Irma
" Naura?" beo Rama
" Iya, Naura bilang kamu sakit, dia cerita kalau wajah kamu sangat merah saat pulang dari rumahnya tadi, oya dia juga ada dibawah loh, katanya Naura mau ketemu sama kamu, sepertinya dia khawatir sama kamu, soalnya dia bilang karna dia kamu jadi sakit, memangnya benar?" tanya Irma." Apa yang gadis itu lakukan hingga membuat anak perjaka bunda seperti ini hem?" Irma mencoba mencari tau, Irma menangkap gelagat aneh pada diri putra bungsunya itu, seperti salah tingkah.
" Sayang kamu gak apa-apa kan?" tanya Irma lagi memastikan saat melihat raut wajah Rama yang kian aneh menurut nya
Beberapa saat kemudian Rama keluar dari kamarnya, pemuda itu menuruni anak tangga satu persatu, dari atas Rama bisa mendengar suara gelak tawa dari lantai satu, dan pemuda itu tau jelas jika pemilik suara tersebut adalah Naura, namun ia tidak tau apa yang membuat gadis itu tertawa sampai sekencang itu. Rama yang merasa penasaran akhirnya mempercepat langkahnya hingga kini ia sudah berada dilantai dasar. Seketika wajah pemuda itu menjadi masam saat melihat interaksi Naura bersama Radit diruang tengah, ya siapa lagi yang membuat Naura bisa tertawa sampai selebar itu kalau bukan abangnya.
" Ekhem." Rama sengaja berdehem dengan keras agar keduanya menghentikan gurauan mereka yang membuat Rama sedikit kesal. Ya kesal karna melihat Naura sepertinya lebih dekat dengan Adit daripada dirinya, padahal kan yang ia tau Naura mencintai nya, tapi kenapa lebih dekat kepada abangnya sendiri dari pada dirinya, memikirkan itu membuat Rama menjadi bingung, aneh sekali memang, padahal dulu dia sendiri yang melarang Naura untuk menjaga jarak dengannya, namun sekarang pemuda itu ingin selalu berdekatan dengan gadis itu. Rama terus mencuri lirik kearah Naura yang ia lihat sepertinya sangat bahagia saat bersama abangnya, atau mungkin Naura memang sudah mulai menyukai abangnya Adit? membayangkan semua itu membuat hati Rama memanas.
( Pantas saja dia tidak merasa terganggu saat Amel terus menempel padaku saat dikelas tadi, mungkinkah karna Naura memang sudah mulai suka sama bang Adit? )
__ADS_1
" Eh, Ram, Naura bilang kamu sakit?" ucap Adit, membuyarkan lamunan Rama, pemuda dua puluh tahun itu memperhatikan wajah Rama yang terlihat biasa saja, tidak seperti orang sakit seperti yang dikatakan Naura tadi padanya.
" Iya kak aku khawatir makanya aku kesini mau lihat keadaan kamu." sambung Naura
" Benarkah? Memang kamu seperduli itu sama aku?" tanya Rama dengan senyum mengejek
" Maksud kamu apa kak? Tentu saja aku perduli, kalau gak mana mungkin aku datang kesini." jawab Naura kesal, gadis itu tak terima dengan ucapan Rama, karna memang dia sangat perduli pada pemuda itu
" Oya? Tapi tadi saat aku turun kamu malah asik tuh tertawa bersama bang Adit, lagi pula kalau memang kamu perduli, tidak mungkin kamu ada disini bersama Abang ku, pasti kamu langsung ke kamarku, bukannya malah bunda yang mengecek keadaanku." ucap Rama panjang lebar, sampai Adit terpelongo melihat Rama berbicara seperti itu, namun sedetik kemudian pria itu tersenyum tipis, saat ia menyadari sesuatu, sepertinya memang usahanya dan Naura selama ini tidak sia-sia, dan sebentar lagi membuahkan hasil.
Rama membalikan tubuhnya dan kembali melangkah menuju anak tangga, sepertinya pemuda itu sangat kesal dengan kenyataan yang ia lihat, sebelum dirinya bertambah kesal, Rama lebih memilih untuk kembali kekamarnya.
" Loh kak, kak Rama mau kemana?" panggil Naura, namun Rama menghiraukan ucapan Naura dan terus melangkah kan kakinya menuju kamar nya yang ada dilantai dua.
" Ih kak Rama kok balik kekamar lagi sih." gerutu Naura kesal
" Ya susul dong, dia pasti ngambek itu karna melihat kita." ucap Adit santai, sambil memainkan ponselnya.
" Maksud bang Adit kak Rama jealous?" tanya Naura memastikan, dan Adit hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, Naura tidak bertanya lagi, namun gadis itu langsung melangkah kan kakinya menuju kamar Rama dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
__ADS_1
Next