
Sesampainya didepan pintu kamar Rama, gadis itu langsung mengetuk pintu kamar tersebut. Beberapa kali Naura ketuk namun tak ada jawaban dari dalam, karna merasa penasaran akhirnya Naura langsung memutar kenop pintu yang kebetulan tidak terkunci.
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka, Naura mendorong daun pintu tersebut agar sedikit terbuka, setelah itu Naura pun masuk kedalam kamar itu, begitu masuk indra penciumannya langsung disambut oleh aroma khas tubuh Rama yang selalu ia hirup dikala berdekatan dengan pemuda itu, aroma yang selalu membuat pikirannya tenang, dan itu adalah wangi parfum milik lelaki tersebut. Naura melihat Rama yang saat itu sedang berdiri membelakangi pintu, pemuda itu sedang menatap kearah jendela yang menghadap balkon kamarnya, entah apa yang dipikirkan pemuda itu hingga Naura masuk pun tak disadari olehnya.
Brak!!
Naura menutup pintu dengan sedikit kencang hingga menimbulkan suara yang cukup kuat, sebenar nya gadis itu tidak sengaja, mungkin terbawa angin. Sedangkan Rama sendiri langsung membalikan tubuhnya karna merasa terganggu dengan suara tersebut, wajah yang tadinya kesal kini terlihat datar didepan Naura.
" Maaf kak gak sengaja." cicitnya, gadis itu melangkah kan kakinya mendekati Rama, sedangkan pemuda itu masih terus menatap kearah Naura dengan tatapan yang sulit diartikan
" Kak, apa kakak marah sama aku?" tanya Naura, saat ini gadis itu sudah berada dihadapan Rama, pemuda yang masih terlihat menatapnya dengan datar
" Menurut kamu?" tanya balik Rama, membuat Naura hanya bisa meringis, sepertinya pemuda itu memang sedang dalam mode yang tidak baik
Naura meremas jari tangannya, bahkan tanpa sadar gadis itu menggigit bibir bawahnya, membuat Rama yang melihat itu lagi-lagi merasakan sesuatu dalam dirinya bergejolak
" Shiit!
__ADS_1
Rama mengumpat, rasanya tak tahan melihat apa yang dilakukan gadis itu, entah kenapa sejak insiden beberapa jam yang lalu itu, Rama terus memikirkan Naura, gairahnya seketika naik begitu saja jika melihat gadis itu, padahal saat bersama Amel dirinya tak pernah seperti ini, bahkan saat Amel pernah ingin menciumnya saja Rama selalu menolaknya dengan berbagai alasan, tetapi berbeda dengan Naura, gadis didepannya ini memiliki daya tarik yang luar biasa bagi Rama.
" Kak Rama aku mint---mmmffff....." belum lagi Naura menyelesaikan kalimatnya bibir Rama langsung membungkam bibir gadis itu, yang langsung, membuat mata Naura membulat sempurna, pemuda itu memegang tengkuk gadis itu agar ia bisa memperdalam ciuman nya, sedangkan Naura masih diam, tidak melakukan pergerakan apapun, mungkin terlalu shock. Rama baru melepaskan ciumannya setelah Naura menepuk-nepuk dadanya karna kehabisan nafas.
" Hah...hah....hah..."
Naura meraup oksigen banyak-banyak sebagai pasokan ditubuhnya
" Kak Rama mau bunuh aku ya?" ucapnya protes, wajahnya terasa memanas saat dirinya kembali teringat momen yang baru saja terjadi diantara mereka.
" Itu hukuman untukmu karna kamu gak mau dengerin ucapanku." ucap Rama, pemuda itu masih memperhatikan bibir Naura yang terlihat sedikit bengkak karna ulahnya, ingin rasanya Rama kembali mencium bibir tipis itu, rasanya ia belum puas.
" Bukankah sebelumnya aku pernah bilang kalau kamu gak boleh terlalu dekat dengan Bayu atau pun bang Adit, tapi kenapa masih kamu lakukan?" ucap Rama
Naura sedikit berpikir, dan ia baru ingat jika Rama memang pernah mengingatkannya," Kak Rama egois banget sih, aku gak boleh dekat dengan mereka, tapi kakak boleh dekat sama Amel gitu?" tanya Naura kesal
" Itu wajar, Amel pacar aku." jawab Rama, tanpa memikirkan perasaan Naura
" Itu wajar kakak bilang? karna Amel pacar kakak?" tanya Naura yang diangguki oleh Rama." Dasar egois, kak Rama selalu memikirkan Amel, tapi gak pernah perduli sama perasaan aku." ucap Naura, matanya sudah mengembun, jika gadis itu berkedip sedikit saja sudah dipastikan jika air mata nya itu akan jatuh." Baiklah jika kamu melarang aku dekat dengan bang Adit atau kak Bayu, aku akan turuti, asal aku tau apa alasannya, dan kenapa semua itu harus aku lakukan." sambung nya lagi
__ADS_1
Rama diam, bingung harus menjawab apa, dia sendiri tidak begitu yakin dengan perasaannya saat ini pada Naura apakah itu rasa cinta atau hanya perasaan ingin melindungi saja, namun satu yang pasti, Rama merasa tidak suka kalau naura dekat dengan pria lain, dia merasa marah, apa itu bisa dikatakan cinta? Rama juga tidak yakin.
Naura masih menunggu jawaban apa yang akan Rama katakan padanya, namun setelah beberapa menit menunggu sepertinya lelaki itu tak berniat untuk menjawab pertanyaannya." Sebaiknya aku pulang, tadinya aku kesini hanya untuk memastikan keadaan kak Rama, tapi setelah ku lihat sepertinya kamu baik-baik saja." ucap Naura, setelah mengatakan itu Naura langsung membalikan tubuhnya dan melangkah menuju pintu kamar, namun belum lagi gadis itu membuka pintu tersebut, Rama langsung melangkah kearahnya dan langsung memeluk tubuh gadis itu.
" Aku menyukaimu." ucap Rama sambil memeluk erat tubuh Naura dari belakang, Rama bisa mendengar degup jantung gadis itu yang berdetak sangat kencang. Naura melepaskan tangan Rama ditubuhnya, lalu berbalik kearah pemuda itu
" Barusan kak Rama bilang apa tadi?" Naura ingin kembali mendengar ucapan Rama agar lebih yakin lagi, sejujurnya hatinya sangat senang mendengar ucapan Rama barusan, namun Naura ingin kembali meyakinkan lagi, agar ia tidak salah.
" Aku menyukai kamu Naura, kamu itu adikku, tentu saja aku sangat menyukaimu." jawab Rama, patah sudah hati gadis itu untuk yang kesekian kalinya, sungguh bukan jawaban seperti ini yang Naura mau, tadinya gadis itu sudah berharap sekali jika Rama akan mengungkapkan perasaannya, tapi ternyata itu hanya angan-angan Naura saja seharusnya dari awal Naura tidak mengharapkan apapun.
" Oh, sebagai adik ya." ucap Naura sambil mengangguk-anggukan kepalanya, sejujurnya gadis itu sangat kecewa dengan ucapan Rama, ingin rasanya menjerit, memaki dan memukul pemuda yang ada didepannya saat ini, namun apalah daya, rasa cintanya seolah tak mengijinkan dirinya untuk melakukan semua itu, lagi pula semu itu sudah biasa ia dapatkan dari pemuda itu." Baiklah kalau gitu aku pulang dulu." setelah mengatakan itu Naura langsung bergegas keluar dari kamar itu, rasa sesak dan air mata yang sejak tadi ia tahan sudah tidak dapat lagi terbendung, walaupun Naura sudah bisa menebaknya, namun tetap saja harapan itu selalu ada dalam hatinya, harapan agar suatu saat Rama bisa mencintainya.
Setelah kepergian Naura, Rama duduk termenung ditepi kasur, tiba-tiba lelaki itu meraup kasar wajahnya, bahkan terdengar umpatan yang keluar dari mulut lelaki itu. Dasar bodoh..!! Bodoh kamu Rama..!! Kenapa kamu jadi plin-plan begini, bagai mana jika Naura membencimu dan malah menjauh darimu karna ucapan mu barusan, sedangkan kau tau jika dia sedang menunggu ungkapan perasaan hatimu." Rama bermonolog merutuki kebodohan nya, ia tidak mau sampai Naura menjauh darinya, hanya karna kebodohannya yang tidak bisa menentukan hatinya.
Sedangkan diteras depan Irma terkejut saat melihat Naura menangis saat keluar dari rumahnya, wanita paruh baya itu langsung melangkah dengan cepat kearah gadis itu.
" Sayang kamu kenapa nak? Apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?" tanya Irma sedikit khawatir
" Gak apa-apa kok Bun, kalau gitu aku pulang dulu." setelah mengatakan itu Naura langsung melanjutkan langkah nya untuk keluar dari pekarangan rumah tersebut. Sedangkan Irma hanya bisa melihat nanar kearah punggung gadis kesayangannya tersebut.
__ADS_1
Next