Mencintai Abang Sepupu

Mencintai Abang Sepupu
Bab 41 . Rama yang egois


__ADS_3

Saat ini terlihat Naura sedang berada dibalkon kamarnya, tatapannya sejak tadi tak lepas dari jendela kamar milik Rama, berharap pemuda itu juga akan segera keluar dari kamarnya, satu jam lamanya gadis cantik itu berada dibalkon, namun tak ada tanda- tanda sepertinya Rama akan keluar dari kamarnya. Saat Naura hendak masuk ke kamarnya tiba- tiba ada suara yang membuat langkahnya terhenti.


" Sudah lama kamu disini?" ucap Rama yang seolah tau jika saat ini naura memang sedang menunggu dirinya.


" Lumayan, makanya aku berniat masuk kedalam." jawab nya dengan nada sedikit cuek, padahal dalam hati ia meras senang karna bisa melihat pemuda itu


" Yakin?" ranga Rama dengan kenaikan alis matanya sebelah


" Maksud kak Rama?"


" Ya kamu yakin mau masuk? Kan aku baru keluar, memangnya rasa kangen kamu udah hilang hanya dengan melihat sebentar?" ucap nya lagi dengan begitu PD. Sementara Naura yang mendengar hanya tercengang, kenapa bisa tau pikir nya, sebenar nya gadis itu memang masih kangen, sejak tadi ia berada dibalkon dan berharap pemuda itu akan keluar kamarnya, dan sekarang setelah keinginannya terkabul kenapa dia harus menghindar.


" Apaan sih kak Rama." ucap Naura sambil mengerucutkan bibirnya, namun tetap gadis itu memutar langkah nya kearah pemuda itu yang saat ini sedang menatap kearahnya dari balkon kamar.


" Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" ucap Rama dengan jarak satu meter dari balkon tersebut, karna memang jaraknya sangat dekat membuat Rama tak perlu berbicara dengan meninggikan suaranya, sebab dengan nada pelan saja bisa terdengar oleh Naura.


" Kak Rama mau tanya apa? biasanya juga gak perlu ijin kalau mau bicara." ucap Naura sedikit heran

__ADS_1


" Ini mengenai hubungan mu dengan bang Adit, apa kamu bahagia sama dia? Apa kamu memang benar sudah mulai mencintai dia?" ucap Rama, entar di sadari oleh Naura atau tidak, tapi kini pemuda itu sudah berdiri dihadapan Naura, membuat gadis itu sontak menatap kearahnya. Entah kenapa Rama merasa jika Naura dan abangnya tidak benar- benar berpacaran, namun ia tidak akan pernah puas jika tidak mendengar secara langsung dari bibir Naura, ah bukan nya Naura tidak pernah mengatakannya hanya saja Rama yang tidak ingin mempercayainya.


" Cepat katakan apa kah kalian berdua memang menjalin sebuah hubungan?" desak Rama, pemuda tampan itu menatap tajam kearah gadis itu membuat nyali nya menciut, tentu Rama melakukan itu bukan tanpa alasan, ia tau jika Naura paling lemah dengan tatapan tajam darinya dan yang pasti gadis itu tak akan mampu berbohong jika sudah ditatap seperti itu oleh nya


" I-itu, bukannya sudah bang Adit katakan sama kak Rama jika kami memang menjalin suatu hubungan? Kenapa kamu masih bertanya lagi?" ucap Naura, gadis itu mengalih kan perhatiannya kearah lain, sungguh ia merasa terintimidasi oleh tatapan pemuda itu.


" Aku gak percaya pada bang Adit, aku akan percaya kalau kamu yang bilang." ucap Rama, pemuda itu menarik tangan Naura agar gadis itu mau menatap kearahnya, karna sejak tadi Naura tak mau melihat kearah nya, dan itu membuat Rama kesal.


" Kak, kakak mau apa?" ucap Naura sambil memundurkan langkahnya saat tubuh Rama kian mendekat kearah gadis itu.


" Kak jangan begini." ucap Naura lirih, gadis itu menahan dada bidang Rama yang kian mendekat dan hampir menempel dengan dada miliknya, jujur saja jantungnya serasa mau copot berada dalam posisi seperti ini, apa lagi tatapan mata Rama yang seolah ingin merobek seluruh tubuhnya, membuat tubuh nya seketika bergetar.


" Aku hanya butuh jawaban darimu, lagi pula bukankah sebelum-sebelumnya kamu sangat suka berdekatan denganku seperti ini? Seharusnya kamu senang dong, bukan malah tidak nyaman." ucap Rama dengan posisi yang masih sama, pemuda itu juga tersenyum mengejek kearah Naura membuat gadis itu mengepalkan tangannya, walau pun yang dikatakan Rama benar, namun entah kenapa itu terasa menyakiti hatinya, gadis itu merasa direndahkan oleh Rama, padahal selama ini yang ia lakukan jauh lebih rendah dari yang Rama katakan barusan padanya, bahkan saat Naura mengejar cinta pemuda itu ia sama sekali tak memperdulikan harga dirinya.


" Memangnya apa perduli kamu jika aku jadian sama bang Adit? bukankah kamu tidak malasah?" tanya Naura sambil menatap mata Rama


" Masalah, tentu saja itu masalah, aku tau kalau kamu menyukai ku, dan bukankah tidak adil bagi bang Adit jika kamu menerimanya tapi hati kamu masih tertuju padaku?"

__ADS_1


Deg


( Itu kamu tau kak, tapi kenapa kamu tega menerima Amel dan mengabaikan cintaku, aku sakit kak, sakit. Setiap kali kalian bermesraan didepanku duniaku rasanya hancur.)


Batin Naura


" Jawab kenapa diam?" ucap Rama karna Naura masih belum mau untuk menjawab pertanyaannya.


" Aku akan berusaha mencintai bang Adit, dan belajar melupakanmu." ucap Naura dengan nada sedikit bergetar, matanya sedikit berkaca- kaca saat bibirnya mengatakan semua itu. Sedangkan Rama sendiri yang mendengar ucapan gadis itu sungguh merasa geram, entah kenapa ia kini merasa tidak suka jika Naura melupakan dirinya, padahal dulu Rama selalu menyuruh gadis itu jangan terlalu berharap dengannya dan harus segera melupakan nya karna baginya mereka itu adalah saudara dan tidak mungkin jika menjalin sebuah hubungan, namun sekarang entah kenapa semua jadi berbeda, pemuda itu seolah ingin selalu dicintai Naura, sungguh pria yang sangat egois bukan? tidak taukah dia jika Naura sangat sakit hati jika melihat kemesraan mereka, dan sepertinya gadis itu mulai menyerah, ia terlalu lelah, padahal misi mereka belum selesai, ya misi Naura dan Adit yang ingin mengetahui isi hati Rama tentang dirinya, awalnya dia sangat yakin jika Rama pasti berjodoh dengannya, namun setelah melihat kemesraan pemuda itu saat disekolah membuat nya sadar jika dirinya sama sekali tak berarti dimata laki- laki itu.


" Kau pikir semuda itu bisa melupakan aku hah?" ucap Rama kedua tangannya mengukung tubuh Naura membuat gadis itu tersentak kaget.


" Maksud kamu apa kak? bukankah dari awal kak Rama sendiri yang ingin aku melupakan mu? dan mulai sekarang aku akan belajar melakukannya." ucap Naura dengan wajah yang tertunduk, gadis itu tidak berani menatap mata tajam Rama, pemuda itu sangat menakutkan jika sedang dalam mode seperti itu.


Rama mengangkat dagu gadis itu hingga kini mata keduanya saling bertatapan. Naura menelan salivanya dengan susah payah, tubuhnya seakan kaku berdekatan dengan jarak yang sangat dekat, bahkan ia merasa kesulitan untuk bernafas, apa lagi menyadari jika wajah Rama yang semangkin mendekat kearahnya, membuat jiwanya semangkin ketar- ketir merasakan ancaman yang meresahkan hatinya, disaat Naura sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tak menyadari jika kini bibirnya sudah menempel dengan bibir Rama, membuat matanya seketika melotot sangkin kagetnya.


Next

__ADS_1


__ADS_2