
Amel terus berdiri dibelakang Dina, wanita yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya sampai tak sadar jika putrinya sedang menguping pembicaraannya sejak tadi. Setelah sambungan telpon terputus Dina langsung membalikan tubuhnya, namun wanita itu terkejut saat melihat Amel yang tiba-tiba berdiri dibelakangnya
" Astaga Amel, bikin mama jantungan aja, kenapa kamu berdiri disana nak? dan sejak kapan?" tanya Dina sedikit gelisah. Dina tidak tau apakah Amel sudah mengetahui jika sebenarnya Dika adalah Roby papanya Naura sahabatnya itu, karna yang terakhir Dina tau jika Amel belum mengetahuinya, ia berpikir mungkin Naura masih belum memberitahukan hal tersebut pada Amel, meskipun begitu cepat atau lambat Amel juga pasti akan mengetahuinya.
" Mama tadi habis bicara dengan siapa mah? Om Dika?" tanya Amel menebak
" Itu...,, i-iya itu om Dika." jawab Dina terbata
" Kok kayak ragu gitu mah? Oya tadi aku sempat dengar mama sebut nama Sarah, apa itu Tante Sarah mama nya Naura mah?" selidik nya lagi, ia ingin melihat reaksi mama nya saat dirinya menyebut kan nama Sarah, entah kenapa Amel semangkin berpikir jika ini semua memang saling berhubungan, Amel menebak jika Dika itu adalah Roby papanya Naura.
" Mah tolong jawab yang jujur mah, sebenar nya om Dika itu siapa mah? Dan wanita yang bernama Sarah itu siapa? Kenapa tadi mama kayak nya maksa banget ingin ketemu sama om Dika." Amel menyerang Dina dengan berbagai pertanyaannya, membuat wanita itu sedikit bingung harus menjelaskan seperti apa.
" Sayang maaf mama belum bisa jelaskan semuanya sama kamu, sudahlah sebaiknya kamu mandi dan istirahat saja dulu, mama juga ada kerjaan yang mau mama selesaikan." setelah mengatakan itu Dina langsung melangkah menuju kamarnya, yang sebenarnya hanya untuk menghindari pertanyaan Amel, sebenar nya Dina hanya takut kalau putrinya itu kecewa karna dirinya mendekati papa dari sahabatnya Naura, Dina hanya tidak ingin Amel kecewa dengannya.
__ADS_1
" Tapi mah mama belum jawab pertanyaan ku." teriak Amel saat melihat Dina yang semangkin melangkah kan kaki ya menjauh dari ruang tamu." Aku jadi penasaran, jangan-jangan benar, om Dika itu adalah om Roby papa nya Naura, kemarin kan mama sempat bilang kalau om Dika itu udah punya istri, dan kemarin Naura kan sempat datang kesini. Sepertinya aku harus cari tau semuanya."
~
~
~
Naura melangkah kan kakinya menuju meja rias dan duduk disana, gadis itu mengambil alat rutinitasnya, setelah selesai menggunakan keseluruh wajah dan tubuhnya Naura langsung melangkah menuju tempat tidur, rasa lelah dan kantuk yang sejak tadi menyerangnya membuat Naura langsung tertidur dengan cepat. Didalam tidurnya Naura merasa sangat nyaman, apa lagi saat merasakan pelukan hangat dari seseorang. Bahkan gadis itu semangkin merapatkan tubuhnya dan mencari kenyamanan disana.
" Enak banget ya tidurnya." terdengar suara seseorang, membuat Naura yang kala itu dalam posisi yang memang setengah sadar langsung mengerenyitkan dahi, namun tetap gadis itu tak membuka mata, mungkin karena masih mengantuk, dan ia juga berpikir jika dirinya saat ini sedang bermimpi. Bermimpi sedang bersama pujaan hatinya siapa lagi kalau bukan Rama.
" Nyaman sekali rasanya meluk kak Rama." gumam gadis itu pelan, namun gadis itu tidak tau saja jika saat ini dirinya bukan hanya bermimpi, ya Rama memang ada didalam kamar gadis itu saat ini, bahkan mereka dalam selimut yang sama, memeluk erat gadis tersebut, maka nya Naura bisa merasakan pelukan pria itu. Rama yang memang tidak bisa tidur langsung menuju balkon kamar miliknya, berharap Naura ada disana, tapi sayangnya gadis itu tidak berada dibalkon, karna memang jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Meskipun begitu Rama tetap melangkah keluar dari kamarnya, sesampainya disana Rama melihat kearah jendela kaca yang juga berfungsi sebagai pintu, entah kenapa dipikiran lelaki itu terlintas untuk memasuki kamar tersebut, Rama tau jendela tersebut tak pernah dikunci oleh pemiliknya. Sejenak Rama berperang dengan pikirannya, antara mau dan tidak, hingga pada akhirnya isi pikirannya terkalahkan dengan keinginan hati pemuda tersebut hingga kini dirinya sudah berada dibawah selimut yang sama dengan gadis itu.
__ADS_1
Rama terus memperhatikan wajah Naura yang terlihat sangat menggemaskan saat tidur, dengan mulut yang sedikit terbuka membuat Rama tak tahan ingin mengecupnya
Cup
Akhirnya pemuda itu melakukannya sekilas, hanya sekilas saja, Rama tak ingin lepas kontrol jadi pemuda itu hanya mengecupnya sekilas. Namun siapa sangka saat Rama ingin menarik kepalanya tiba-tiba tengkuknya ditahan oleh Naura, membuat lelaki itu sedikit terkejut. Rama menatap wajah Naura yang terlihat masih memejamkan mata, bahkan kini bibir keduanya sudah kembali bersentuhan. Dan pada akhirnya keduanya pun melakukan ciuman panas malam itu, namun kali ini Rama sepertinya masih bisa mengontrol dirinya agar tak melakukan hal lebih pada Naura, Rama tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali, walaupun adik kecilnya sudah menegang, namun sebisa mungkin Rama tetap menahannya, dengan cepat lelaki itu langsung turun dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar itu melalui jendela kamar gadis itu. Setelah kepergian Rama tak lama mata Naura terbuka, gadis itu tersenyum tipis mengingat kejadian beberapa saat yang lalu pada dirinya dan Rama, karna ternyata gadis itu sudah terbangun beberapa waktu yang lalu, hanya saja Naura tetap berpura-pura untuk tidur, dan tentu saja karna Naura tidak ingin kehilangan momen tersebut.
Keesokan harinya terlihat dikamarnya Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi, jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi, sedangkan Naura sudah berangkat kesekolah sejak dua jam yang lalu. Sarah melirik suaminya yang kala itu terlihat sedang bersiap untuk pergi kekantor, saat menyadari tatapan Roby cepat-cepat wanita itu membuang pandangannya kearah lain.
" Mas akan berangkat kekantor sekarang." ucap Roby sambil bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Sarah yang kala itu baru selesai mandi. Roby menatap wajah cantik istrinya dari balik cermin besar yang ada dihadapan mereka, saat ini Sarah sedang duduk didepan meja rias yang terlihat sedang mengeringkan rambut sebahunya dengan handuk kecil yang tadi sempat membungkus kepalanya.
" Biar mas yang bantu keringkan sayang."
Next
__ADS_1