
Malam pun tiba, sekarang Aksa sedang mengendarai motornya menuju rumah eiliyah. Sebelum ia berangkat Aksa sudah mengirimkan pesan untuk eiliyah. Kalau dia membawa motor.
Brum... Brum... Brum... Brum...
Motor Aksa sudah terparkir di halaman rumah eiliyah. Aksa langsung turun dari motor dan melepaskan helem teropongnya. Di saat Aksa akan memencet bel rumah eiliyah di saat itu juga rumah eiliyah terbuka. Terlihat disana eiliyah yang sudah siap.
“Kamu nungguin aku” tanya Aksa percaya diri.
“Ngg... Nggak” jawab eiliyah sedikit gugup.
Aksa terlihat lebih tampan tanpa menggunakan baju kantornya.
“udah siap kan, kalau udah kita berangkat sekarang saja biar nggak terlalu malam” ajak Aksa
“ayo...” ucap eiliyah.
“Kamu punya helem kan” tanya Aksa. Karna ia hanya membawa helem satu.
“ada kok helemnya speda metik aku” eiliyah langsung bergegas ke dalam rumah untuk mengambil helemnya.
Usai mengambil helem eiliyah menghampiri Aksa yang sudah siap di atas motornya.
“udah” tanya Aksa
“ini” eiliyah menunjukkan helemnya kepada Aksa.
“Kamu nggak taku rambutmu rusakkan” tanya Aksa sambil memakai helemnya.
“rusak kenapa” tanya eiliyah sambil naik di jok belakang motor Aksa.
“Ya, Barang kali saja kamu takut rusak karna aku ajak naik motor” jawab Aksa.
“Ya nggaklah” jawab eiliya.
Setelah mendengar jawaban dari eiliyah. Aksa langsung menghidupkan motornya dan langsung berangkat menuju restoran yang ia sepakati dengan teman-temannya. Aksa melajukan motornya sedikit pelan agar dia bisa merasakan pelukan eiliyah lebih lama dibelakangnya.
Beberapa detik mereka mengendarai motornya menerobos keramaian ibu kota. Akhirnya mereka sampai juga di depan restoran.
“Kamu kenapa” Aksa yang melihat eiliyah sedikit murung. Sambil menerima helem wiliyah
“aku ingat Zie, aku nggak pernah keluar kalau nggak sama Zie” jelas eiliyah
“Lah kalau Zie di ajak papinya seperti ini?” tanya Aksa lagi.
“ya... Nggak keluar kalau bukan karna pekerjaan” jelas eiliyah.
“Udah dong sayang kan aku temenin kamu” Aksa memberikan semangat pada eiliyah. Eiliyah hanya menganggukkan kepala dan merima gandengan tangan Aksa.
“Senyum dong” ucap Aksa sambil berjalan.
Saat mereka memasuki restoran Aksa langsung menuju ke ruang VVIP yang biasa ia pesan.
“sayang” eiliyah mencega Aksa yang ingin membuka pintu ruangan VVIP yang ia pesan.
__ADS_1
“ada apa?” Aksa menoleh ke arah eiliyah.
“eeemmmmbbb... kamu beneran mau kenalin aku sama teman-teman kamu? Apakamu tidak malu” eiliyah yang sedikit ragu akan pertanyaannya.
“malu... Malu kenapa” Aksa mengerutkan dahinya mendengar apa yang di katan Aksa.
“ya... Ya Malu karna punya pacar lebih tua dari kamu” eiliyah langsung menundukkan kepalanya usai menjelaskan pada Aksa.
Aksa memegang kedua pipi eiliyah agar bisa melihat wajah eiliyah dengan jelas dan menatap kedua mata eiliyah.
“Sebelum aku menjadikan kamu pujaan hatiku, aku sudah siap menerima semua konsekuensinya sayang” Aksa yang masih menatap mata eiliyah.
“jadi nggak usah berpikir yang aneh-aneh lagi aku sayang sama aku aku sayang Aksan kekurangan yang kamu miliki aku terima kamu apa adannya” jelas Aksa lagi. Eiliya menjawab dengan anggukan kepala.
“ayo masuk” ajak Aksa setelah menurunkan tangannya dari pipi eiliyah dan langsung membuka pintu ruangan itu.
Di dalam ruangan itu sudah ada Ezra, Dimas, dan Tio beserta pacarnay. Tio membawa pacarnya karena Aksa mengajak pacarnya juga. Sedangkan pacar Dimas berada diluar kota jadi dia tidak mengajaknya. Kalau Ezra belum mempunyai pacar, sebenarnya banyak wanita yang mengejar-ngejarnya tapi Ezra selalu saja menolak.
“Akhirnya pak boss kita sudah datang” sambut Tio yang melihat Aksa masuk kedalam ruangan VVIP itu.
Aksa mengandeng pergelangan tangan eiliyah mengajaknya duduk di salah satu tempat duduk yang kosong.
“boss ceweknya nggak di kenalin nih” Ezra sengaja menggoda Aksa.
“cantik juga sa cewek elu” ucap Tio.
“udah bawa cewek tapi lu masih muji cewek lain” ejek Aksa
“betah banget lu nin sama tu cowok” ucap Dimas sambil meminum jus yang ia pesan.
“Kalau bukan dia siapa lagi yang bisa gua porotin” jawab Nina asal. Sedang kan mereka yang mendengar jawaban langsung tertawa terbahak-bahak. Sedangkan eiliyah hanya tersenyum.
“Kamu kok gitu sih bee” Tio kesal akan gurauan pacarnya.
“nggak usah lebey deh bee” balas Nina.
“Yang itu Tio sama pacarnya Nina” Aksa mengenalkan sahabatnya. Eiliyah langsung menyalami sahabat Aksa dan pacar sahabtnya itu.
“kalian mau pesan apa” tanya Dimas.
Mereka langsung memilih menu yang tersedia di buku menu itu. Sambil menunggu makanan mereka datang, mereka berbincang-bincang ringan. Sebenarnya eiliyah sedikit canggung dengan sahabat-sahabat Aksa. Jadi eiliyah hanya mendengarkan obrolan mereka, sambil sekali-kali menyauti perkataan mereka.
Aksa yang menyadari kecanggungan eiliyah langsung menggenggam tangan eiliyah yang berada dibawah meja. Eiliyah yang merasakan genggaman tangan Aksa langsung menoleh ke arah Aksa. Eiliyah melihat Aksa yang masih dengan santainya bergurau dengan sahabatnya, Aksa tau jika dia merasa canggung dengan para sahabat aksa.
Akhirnya pesanan mereka yang ditunggu-tunggu datang juga.
“selamat makan” seru Dimas
Mereka Menikmati makanan mereka dengan tenang dan juga sedikit ada perbincangan.
“Mbk eiliyah kerja dimana?” tio yang melihat dari tadi eiliyah hanya sesekali menyauti perbincangan mereka, itupun karna ditanya.
“saya bekerja di butik” jawab eiliyah.
__ADS_1
“jangan-jangan yang punya butik” tebak Nina.
“Sok tau lu” ejek Dimas kepada Nina.
“namanya juga nebak, ya nggak harus benerdong” Nina langsung menikmati makanannya.
“mbk Nina betul kok” jawab eiliyah.
“Tuh kan, bener” ejek Nina kepada Dimas.
“mbk nggak usah seformal itu sama aku, pangil langsung nama saja” lanjut Nina. Eiliyah hanya menganggukkan kepalanya.
“kapan-kapan kamu mampir ke butik aku” ajak eiliyah
“Namanya butik apa mbk” tanya Nina.
“bening boutiq” jawab eiliyah.
“owh bening, temen-temen aku kemarin sih ajak aku kesana tapi akunya belum bisa” ucap Nina.
Kemudian mereka menikmati makanan yang dipesan dengan tenang.
“kalian besok berangkat jam berapa” tanya Dimas setelah menyelesaikan makanannya.
Terlihat yang lain juga sudah menyelsaikan makanannya pula.
“Siang” Ezra menjawab sambil meletakkan jus yang baru ia minum.
Dimas hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Ezra.
“Gue pamit pulang dulu ya” saut Aksa tiba-tiba.
“Buru-buru amat sa” ucap Tio.
“keburu malem” Aksa langsung berdiri.
“Halah, bilang saja kalau lu mau berduaan” goda Tio.
“Lah itu lu tau” jawab Aksa yang langsung meninggalkan tempat itu.
“woi belum dibayar” ucap Tio yang melihat Aksa sudah ingin meninggalkan tempat itu.
“itu urusan Ezra” ucap Aksa sebelum membuka pintu. Tak lupa pula dia mengandeng pergelangan tangan sang pujaan hati.
Sesampainya di prkiran Aksa langsung memakaikan helem kepada eiliyah. Baru setelah itu ia memakai helemnya sendiri. Kemudia mereka langsung pergi meninggalkan restoran itu. Di tengah perjalanan Aksa membelokkan motornya ke sebuah taman yang ia lewati.
“Kok kesini” eiliyah heran, bukannya mengantakan mulang malah belok ke sebuah taman.
“lagi pengen kesini, ayo turun” ucap Aksa setelah melepaskan helemnya.
Eiliyah hanya menurut.
Taman itu terlihat ramai, disana banyak penjual kaki lima, anak muda, sepasang suami istri yang sedang menemani putra putri merka bermain.
__ADS_1
“Ayo duduk di sana” ajak Aksa yang melihat salah satu bangku taman kosong