
Setelah kepergian Siska orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tadi langsung membubarkan diri. Sedangkan eiliyah yang masih dalam keadaan yang memperihatinkan kembali ke ruangannya dengan di bantu oleh Rio.
“Makasih ya mas udah bantuin aku” Rio menganggukkan kepalanya, kemudian membantu eiliyah duduk di sofa yang berada di ruangannya.
“Aku ambilin minum dulu buat kamu ya” Rio langsung memberikan minum yang ia ambil tadi agar eiliyah bisa lebih tenang.
Seseorang yang membantunya tadi adalah Rio. Kebetulan Rio sepulangnya dari meeting ia melewati butik eiliyah. Jadilah ia sekalian mampir, karna sudal lama sejak bertemu eiliyah di restora ia belum bertemu eiliyah lagi. Tanpa di sangka saat ia masuk kedalam butik eiliyah di sana ada banya orang mengerumuni seseorang yang sedang marah. Rio langsung membelah kerumunan orang-orang berkerumun itu. Dan betapa kagetnya melihat rambut eiliyah ditarik oleh seorang wanita yang mengamuk dan mengatai eiliyah dengan kata-kata yang begitu menyakitkan.
“Aku tidak akan bertanya jika kamu tidak ingin bercerita” eiliyah hanya menangkapkan wajahnya sambil terus menangis sampai ia sesenggukan.
“Ke-kenapa... Ke-kenapa se-semua terjadi kepadaku, kenapa... Kenapa...” ucap eiliyah di selah-selah tangisannya sambil sesenggukan. Rio memeluk eiliyah dan menyandarkan kepala eiliyah di dadanya.
“Kenapa mas... Kenapa” Rio masih mengelus punggung eiliyah agar ia bisa sedikit tenang.
“a-a-aku nggak pernah tau kalau Aksa udah punya calon istri, begitu bodohnya aku terlalu percaya padanya” ucap eiliyah yangvmasi dalam pelukan Rio.
“Aku akan selalu ada untukmu ei, aku percaya ini semua bukan kesalahanmu. Aku tau kamu ei” Rio mengelus rambut eiliyah lembut.
“keluarkan air matamu sekarang, jangan sampai Zie tau. Pasti ia akan sedih melihat maminya bersedih seperti ini. Zie pulang jam berapa, aku akan menjemputnya” ucap Rio.
“Bentar lagi waktunya Zie pulang sekolah” eiliyah merenggangkan pelukannya.
“lebih baik sekarang kamu istirahat, aku akan mengantarkan Zie langsung pulang ke rumah” Rio menghapus air mata eiliyah.
Eiliyah hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia beranjak dari duduknya menuju kamar yang berada di ruang kerjanya.
Setelah melihat eiliyah masuk kedalam kamar Rio beranjak dari duduknya dan langsung pergi menuju sekalah Zie.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐
“boss...”
“boss...”
“Boss..” beberapa kali Ezra memanggil Aksa tapi tak ada sahutan darinya.
“Heem” sahut Aksa ketika merasakan sebuah tepukan di pundaknya.
“kalo kerja yang fokus dong, dari tadi gue ngomong panjang lebar ternyata elu malah asik ngelamuan” omel Ezra karna dari tadi dia menjelaskan tentang proyek yang ia pantau ternyata Aksa malah ngelamun.
“berisik lu, gua mau pulang” Aksa membalikkan ingin pergi dari sana.
“Eh... Eh... Eh... Enak aja lu main pulang ajah” cega Ezra. Aksa menghembuskan nafasnya kasar.
Aksa hanya memijat pelipisnya pelan karna terlalu memikirkan eiliyah.
“Mending lu coba hubungi pake no gue, barangkali ajah bisa nyambung” Ezra melihat Aksa yang terlihat frustasi.
Setelah menerima ponsel dari Ezra, Aksa segera kembali ke mobilnya. Segerah ia mengetik no ponsel eiliyah ketika ia sudah duduk di dalam mobil.
Terdengar sambungan teleponnya tersambung. “kenapa no gue di blok sama eiliyah” gumam Aksa dalam hati.
📞. Eiliyah : “hallo... Dengan siapa ini?”
📞. Aksa : “sayang ini aku, kenapa...”
__ADS_1
Dilihatnya layar ponsel Ezra sudah gelap. Belum sempat Aksa menyelesaikan ucapannya ternyata eiliyah sudah memutus panggilan teleponnya.
“Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini sayang, aku nggak bisa tinggal diam. Aku harus segerah pulang” gumam Aksa.
“sialan lu, nggak tau terimakasih” Ezra menangkap ponselnya yang dilemparkan Aksa kepadanya.
Ketika Aksa kembali ke mobil tidak lama Ezra menyusul Aksa.
“cariin gue tiket sekarang juga” ucap Aksa.
“Enak banget lu ngomong, nggak mau gue” tolak Ezra.
Mendengar penolakan Ezra Aksa langsung menatap Ezra dengan tatapan yang tajam.
“Ok... Ok...” kalau Aksa sudah menatapnya seperti itu bisa-bisa gajinya akan dipertaruhkan.
Ezra segera memesan tiket lewat online.
“Untuk hari ini sudah habis, adanya besok siang” mendengar perkataan Ezra Aksa hanya menghembuskan nafasnya pelan sambil memijat pangkal hidungnya.
“Ya udah lah yang penting gue bisa pulang, udah pusing banget kepala gue” ucap Aksa pasrah.
Melihat Aksa yang seperti itu sebagai seorang sahabat Ezra kasihan. Akhirnya Ezra mengantarkan sang bos sekaligus sahabatnya itu ke hotel tempat mereka menginap.
maaf ya kalau banyak typo
jangan lupa like, komen serta vote
__ADS_1
biar lebih semangat ☺️