
“sayang” seorang wanita yang sudah tidak mudah lagi tiba-tiba masuk ke dalam kamar rawat zie. Segerah ia menghampiri zie yang sedang berbaring lemah di bad.
“bunda udah datang, kesini sama siapa bun?” tanya eiliyah sambil menyalami dan mencium punggung tangan ibundanya.
Sedangkan rio dan egi yang tadinya berada di kanan kiri badnya zie segerah menjauh dari sana, tak lupa pula ia menyalami dan mencium punggung tangan ibunda eiliyah.
“itu sama ayah sama jabbar” jawabnya yang masih memberi ciuman di wajah zie.
“sayang cucu uti mana yang sakit, kamu mau apa biar uti belikan” tanya uti sambil mengelus kepala sang cucu.
“zie kangen sama papa uti” jawab zie.
Deg...
Jantung eiliyah berdetak lebih kencang saat mendengar jawaban zie.
“lah... itu papi udah ada di sini” mbah uti menunjuk keara egi yang sedang duduk di sofa bersama dengan rio.
“assalamualakum..” ucap ayah eiliyanh yang baru masuk ruang rawat zie sambl di ikuti oleh jabbar.
“waalaikum salam” jawab mereka serempak.
“gimana yah perjalanannya, lancar?” tanya rio saat menyalami dan mencim punggung tangan ayah hari rio memang memanggil kedua orang tua eiliya dengan sebutan ayah dan bunda.
__ADS_1
“alhamdulillah lancar, udah lama di sini” sambil menerima salam dari kedua pria itu.
“lumayan yah” jawab meeka serempak.
“ternya mas egi dan mas rio kompak banget yah” sahut jabbar setelah menyalami eiliyah
“bisa saja kamu bar” jawab egi.
“gimana kuliah kamu?” tanya rio saat jabbar bersalaman dengannya.
“alhamdulillah lamcar mas” jawab jabbar sambil bersalaman dengan egi.
Sedikit ada kecanggungan saat berhadapan dengan mantan mertuanya, yang tak lain adalah orang tua eiliyah. Karna pernah membuat kecewa putri ke sayangannya.
“cepat sembuh ya, kamu mau apa kok sampai sakit seperti ini?” tanya mbah kung, karna mereka sudah sangat hafal dengan zie, jika keinginannya tak di turuti pasti badannya panas.
Bunda yang sudah mendengar jawaban cucunya hanya memandang putrinya seperti ingin meminta penjelasan darinya.
Sedangkan eiliyah yang di pandangi sang binda seperti itu hanya bisa menundukan kepalanya.
“kan papi udah ada di sini, jadi zie harus cepat sembuh ya...” mbah kung.
“bukan papi mbah kung, tapi p**apa**” mbah kung mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban cucunya.
__ADS_1
Sedangkan ketiga pria yang duduk di sofa melihat ke arah zie seolah ingin mendengar apa kelanjutan dari ucapan zie barusan.
“papa siapa sayang?” tanya mbah kung sambil melirik putri pertamanya.
“papa aksa” mendengar jawaban zie eiliyah memejamkan matanya. Karna ia harus menjelaskan kepada kedua orang tuanya sejak kapan zie mempunyai papa.
Bunda hanya menghembuskan nafasnya kasar karna ia sudah tau siapa aksa, meskipun ia masih belum pernah bertemu dengannya secara langsung.
Sedangkan ayahnya hanya melihat eiliyah sekilas.
“zie udah makan apa belum?” zie mengelengkan kepalanya.
“loh kenpa kok belum makan, kalu ngak mau makan entar nggak sembuh-sembuh loh” bujuk mbah uti.
“zie harus makan yang banyak biar cepat sembuh, kalau papa liahat zie sakit kayak gini pasti papa sedih, zie mau liahat papa sedih” zie menggelengkan kepalanya saat mendengar penjelasan mbah uti
“ayo aaaaa” mbah uti menyuapi zie.
“emb... maaf saya harus pamit sekarang” pamit egi sopan.
Egi mendekat ke arah kedua mantan mertuanya untuk bersalaman.
Setelah kepergian egi rio juga izin untuk kembali ke kantor.
__ADS_1
sekarang di ruangan itu hanya ada eiliyah zie dan kedua orang tuanya, sedangkan jabbar pada saat rio pulang ia meminta izin untuk pergi kekantin untu mengisi pertnya yang keroncongan. Karna sebelum berangkan ia tak sempat makan gara-gara keheboan ibundanya yang heboh minta menemui cucunya yang sedang di rawat di rumah sakit.
“neng ayah mau bicara berdua sama kamu” ayah keluar dari kamar rawat zie setelah berbicara dengan eiliyah.