Mengejar Cinta Eiliyah

Mengejar Cinta Eiliyah
MCE 48


__ADS_3

Malam pun tiba Aksa baru keluar dari kamarnya. Ia terlihat lesu dan terlihat kurang tidur karna terlihat kantung matanya yang menghitam. Saat Aksa menuruni tangga terlihat di sana mama dan papanya sedang menikmati makan malam mereka.


“kamu mau kemana sa, Ayo makan malam dulu” ajak mama Renna ketika melihat Aksa berjalan menuruni tangga.


“aksa mau keluar dulu ma” di liriknya papa Yogi yang sedang menikmati makan malamnya.


“Kamu makan malam dulu sa, pasti sejak kamu pulang kamu belum makan apa-apa” tebak mama Renna. Karna mam Renna hafal betul jika Aksa tidak di ingatkan untuk makan dia tidak akan makan.


“nanti aja ma sekalian makan di luar” tolak Aksa.


“Mama nggak terima penolakan, mama mau kamu makan di depan mama titik” mama Renna langsung mengambilkan nasi dan lauk untuk Aksa makan.


“maa... Aksa bukan anak kecil lagi, yang harus habisin makanannya di depan mamanya” Tegur Aksa, karna melihat kelakuan sang mama yang memperlakukannya seperti anak kecil.


“mau kamu sebesar apapun, di mata mama kamu adalah Aksa kecil mama, putra manja mama. Selsaikan makan malammu baru kamu bisa pergi” jawab mama Renna.


Mendengar itu Aksa hanya menghela nafas dan segerah menikmati makan malam yang sudah di ambilkan oleh sang mama. Karna ia merasa percuma jika sudah berdebat dengan sang mama.


Setelah Aksa menyelesaikan makan malamnya ia langsung pamit untuk keluar bertemu dengan para sahabatnya. Karna sebelum ia keluar dari kamar tadi ia menghubungi sahabatnya untuk berkumpul.


Sekarang Aksa sedang mengendarai mobilnya menuju kafe tempat ia berkumpul dengan para sahabatnya. Tapi sebelum itu Aksa mampir ke rumah eiliyah, ia ingin melihat apakah eiliyah sudah pulang dan dia juga kangen dengan zie. Dengan kecepatan tinggi Aksa mengemudikan mobilnya. Setelah beberapa detik Aksa mengendarai mobilnya akhirnya sampai juga Aksa di rumah eiliyah.


Tok... Tok... Tok...


Tok... Tok... Tok...


Cklak...


“eh tuan Aksa” sambut asisten rumah tangga eiliyah.


“Bik... Eiliyah udah pulang belum” tanya Aksa.


“Mbak ei lagi ke Surabaya tuan” jawabnya


“kira-kira pulang kapan ya bik” tanya Aksa lagi.


“mungkin besok tuan, soalnya kalau den Zie nggak ikut mbak ei pulangnya cepet tuang” Aksa manggut-manggut mendengar penjelasan dari asisten rumah tangga eiliyah.

__ADS_1


“Terus zienya mana, saya mau ketemu dia” karna Aksa melihat seperti tiadak ada orang selain asisten rumah tangga eiliyah.


“den Zie ikut tuan Rio pulang mas, karna tadi pulang sekolah den Zie Cuma ambil baju ganti terus ikut tuan Rio” Aksa mengerutkan dahinya mendengar penjelasan ART eiliyah.


“Rio... Ada apa ini” gumam Aksa dalam hati.


“Yaudah bik saya permisi assalamualaikum”


“Waalaikum salam” Aksa bergegas menaiki mobilnya, dan melanjutkan perjalanan menuju kafe tempat mereka berkumpul.


Tak menunggu waktu lama untuk Aksa sampai ke kafe yang ia tuju. Karna Aksa mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, apa lagi sekarang pikirannya hanya eiliyah eiliyah dan eiliyah.


“Aaaaah... Bisa gila aku mikirin kamu” Aksa mengacak-acak rambutnya. Terlihat ia semakin frustasi merasakan sikap eiliyah yang tiba-tiba tidak mau menerima panggilan darinya sampai ia memblokir nomornya.


Dihirupnya nafas panjang dari hidung kemudian menghembuskannya pelan-pelan lewat mulut agar ia bisa lebih rileks. Kemudian ia keluat dari mobil tak lupa pula ia merapikan rambutnya yang berantakan.


Aksa memasuki kafe itu dan langsung menuju ketempat yang sudah ia pesan bersama dengan para sahabatnya.


Terlihat di sana sudah ada Tio dan Dimas yang sudah menikmati kopi dan rokoknya. Ezra tidak datang karna masih dalam perjalan pulang dari luar kota. Aksa mendudukkan dirinya di sebelah Dimas.


“Nih dia orangnya” ucap Tio.


“sialan lu kalau ngomong” Aksa melempar bungkus rokok yang berada di depannya kearah Tio.


“Wetz... sabar Brio, nggak usah esmosi” Tio mengangkat bungkur ro#ok yang di lemparkan Aksa ke arahnya.


Dimas yang melihat itu hanya mengelengkan kepalanya.


“emangnya lu kenapa sih ka” tanya Dimas.


“tau... Gua binggung Ama makhluk yang namanya cewek” mendengar itu Dimas mengerutkan keningnya.


“hahahaha... Baru tau lu” ejek Tio.


“diem lu, bikin gua tambah emosi aja” Aksa membakar ujung ro#oknya kemudian menyesapnya dalam-dalam.


“udah diem dulu, dari pada bangunin singa tidur” tegur Dimas.

__ADS_1


“Ok... Ok...” ucap Tio sambil mengangkat kedua tangannya.


Setelah itu mereka sama-sama diam. Karna ingin mendengar cerita ke galauan Aksa.


Aksa melirik mereka karna tidak mendengar perdebatan mereka berdua. Ternyat mereka sedang fokus melihat kearahnya.


Aksa menghembuskan nafasnya kasar sebelum mulai bercerita.


“dari kemaren eiliyah ngak mau angkat atau pun balas pesan dari gue” ucap Aksa sambil meng hembuskan kebulan asap rokok yang ia hisap.


“hahahaha... sumpeh lu... Cuma gitu doang lu segalau ini” seketika ruangan yang tenang langsung di penuhi dengan tawa Tio. Selah Tio Setelah mendengar ucapan Aksa.


Mendengar Tio yang t henti-hentinya tertawa Aksa dan Dimas menatap Tio dengan tatapan yang tajam.


“maaf... Maaf... Lanjutin deh” ucap Tio yang merasa tidak enak.


“Bahkan dia juga blokir no ponsel gue” lanjut Aksa.


“lah elu merasa buat kesalahan nggak?” tanya Dimas.


“Gue baik-baik aja, nggak perna ada masalah, ngak tau kenapa waktu aku keluar kota tiba-tiba dia nggak mau teriama telfon. Mana acara pertunangan gue malah di percepat Ama bokap makin puyeng gue” Aksa menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang ia duduki.


“Elu mau nikah sama siapa?” tanya Rio kaget.


“Bokap jodohin gue Ama Siska” jawab Aksa.


“terus eiliyah udah tau kalau lu di jodoin Ama bokap lu” Aksa hanya mengelengkan kepalnya mendengar pertanyaan dari dimas.


“jangan-jangan Siska yang kasih tau eiliyah kalau kalian mau nikah” tanya Tio.


“terus elu udah temui dia” tanya Dimas.


“Dia sedang di Surabaya, dan anehnya lagi Zie sekarang ikut kerumah Rio. Nggak biasanya Zie di titipin ke orang” jelas Aksa.


“Siapa Rio” tanya Dimas.


“Dia senior eiliyah” jawab Aksa pelan.

__ADS_1


Begitu panjang curhatan hati Aksa, sedangkan Tio dan Dimas hanya bisa mendengarkan dan memberi nasehat yang baik-baik.


__ADS_2