
Waktu menunjukkan pukul 20.30 Aksa baru saja pulang dari kantor. Sesampainya di apartemen Aksa langsung mendudukkan dirinya di sofa tamu. Ia menyandarkan tubuh dan kepalanya di sandaran sofa, sambil memejamkan matanya. Sedari tadi ia memikirkan eiliyah, memang dia sedang marah tapi sedari tadi yang ia pikirkan hanya eiliyah. Di ambilnya ponsel di dalam saku jasnya, dan langsung memencet nomor eiliyah.
Tuuut tuuut tuuut tuuut
“Apa eiliyah marah” gumamnya lirih, saat sekali dua kali ia menghubungi eiliyah tidak dapat tersambung.
Tapi ia tidak menyerah, ia mencoba menghubungi eiliyah lagi.
📞 Eiliyah : “assalamualaiku”
📞 Aksa : “waalaikim salam, maaf ya” ucapnya lemas.
📞 Eiliyah : “nggak yang, harusnya aku yang minta maaf aku yang salah”
📞 Aksa : “kamu lagi apa, kok berkali-kali aku telfon nggak di angkat-angkat”
📞 Eiliyah : “aku lagi di bawa sama yang lain”
📞 Aksa : “aku ganggu ya”
📞 Eiliyah : “nggak kok, aku memang mau ambil ponsel di kamar mau ngecek pesanan dari custom yang mau pesan gaun” jelas eiliyah.
📞 Aksa : “kenapa kamu kok tiba-tiba pulang”
📞 Eiliyah : “bunda kangen aku sama Zie, udah lama aku nggak pulang. Sekalian ngomongin acara lamarannya adik aku”
📞 Aksa : “terus kamu nikahnya kapan?”
📞 Eiliyah : “kamu udah makan” ucapnya mengalihkan pembicaraan.
📞 Aksa : “belum, aku tu tanya kamu apa jawabnya apa”
📞 Eiliyah : “kok belum makan, ini udah malam loh”
📞 Aksa : “lagi nggak nafsu makan, lagian ini juga baru saja Sampek apartemen”
📞 Eiliyah : “udah cepet makan dulu yang, entar kamu sakit gimana” omelny.
📞 Aksa : “kalau aku sakit, ya kamu harus kesini dong yang”
📞 Eiliyah : “nggak mau ah, kan belum muhrim. Masak tinggal satu apartemen”
📞 Aksa : “udah penggen banget ya mau tinggal sama aku”
📞 Eiliyah : “apaan sih kamu”
📞 Aksa : “kan kamu tadi yang bilang mau tinggal satu apartemen sama aku”
📞 Eiliyah : “lah kamu nyuru aku kesan Anuar rawat kamu, kalau ngak tinggal sama kamu terus aku tinggal di mana?”
__ADS_1
📞 Aksa : “aku kan Cuma suruh kamu rawat aku, bukan tinggal sama aku. Kalau kamu kesini aku bisa sewain kamu hotel atau apartemen jadi kan kita nggak harus tinggal satu apartemen sayang”
📞 Eiliyah : “tau deh sebel aku sama kamu”
📞 Aksa : “hahahahahah...”
📞 Eiliyah : “ketawa ajah terus, udah deh aku matiin aja telfonya” ucapnya kesal, karna mendengar Aksa tak berhenti mentertawakan dirinya.
📞 Aksa : “jangan dong sayang, aku masih kangen tau sama kamu”
Aksa langsung mengalihkan panggilan telfonnya menjadi panggilan video call. Saat panggilannya sudah berganti Dengan video call terlihat di ponselnya wajah eiliyah yang masih terlihat kesal.
📱 Aksa : “udah dong yang cemberutnya, entar aku makin kangen sama kamu” goda Aksa.
📱 Eiliyah : “cepet makan malam”
📱 Aksa : “nggak ada yang masakin yang” ucapnya manja
📱 Eiliyah : “kan tiap hari delivery, manja banget”
📱 Aksa : “biarin manja sama pacar sendiri, emang aku boleh manja sama cewek lain”
📱 Eiliyah : “ya jangan” sambil mengalihkan pandangannya karna wajah eiliyah terasa mengepul akan perkataannya sendiri.
📱 Aksa : “makin pengen cepet-cepet halalin kamu” karna melihat wajah eiliyah yang bersemu merah karna malu akan perkataannya.
📱 Eiliyah : “udah ah aku matiin aja, sebel aku sama kamu”
“neng” panggil yania yang sudah memasuki kamarnya tanpa permisi.
Eiliyah yang kaget akan kedatangan yania langsung menyembunyika ponselnya di bawah bantal yang berada di pangkuannya.
“Telfon siapa neng, kok kelihatannya kaget gitu aku masuk” yania curiga akan gerak gerik eiliyah. Karna tidak biasanya ketima ada orang eiliyah langsung menyembunyikan ponselnya.
“Bukan siapa” jawabnya gugup.
“Makin penasaran aku sama neng ei” yania langsung menaiki ranjang eiliyah dan langsung duduk di sisi eiliyah.
“bukan siapa-siapa yania, kamu mau apa cari ening” Eiliyah langsung menggenggam ponselnya yang berada dibawah bantal semakin erat.
“Ayo neng kenalin sama yania” bujuk yania.
“kenalin sama siapa sih” tanya eiliyah pura-pura tidak mengerti akan pertanyaan sang adik.
“Alah... Nggak usah main rahasia-rahasiaan deh sama Nia, ayo neng” yania langsung ikut memasukkan tangannya di bawa bantal agar ia bisa merebut ponsel eiliyah.
“Bukan siapa-siapa yania” eiliyah terus menyembunyikan ponselnya karna tangan yania terus saja mencari-cari ponsel eiliyah yang berada di bawah bantal.
“janggan bohong neng” yania langsung menjauhkan ponsel eiliyah ketiaka ia sudah mendapatkannya.
__ADS_1
📱 Yania : “hay” sapa yania sambil melambaikan tangan ketika melihat layar ponsel eiliyah yang terlihat seorang pria berwajah tampan kurang lebih seumuran dengannya.
“Yania siniin ponselnya ening” Eiliyah mencobah meraih ponselnya.
📱 Aksa : “hay juga” jawab Aksa yang melihat eiliyah mencoba meraih ponselnya yang di pegang oleh seorang wanita.
“Pinjem bentar neng, nggak bakalan akurebut neng aku udah cinta mati sama Aqil jadi aku nggak akan tergoda” ucap yania.
Mendengar itu akhirnya eiliyah menyerah.
📱 Yania : “mas pacarnya neng ei ya?” tanya yania tanpa basa-basi.
📱 Aksa : “iya” jawabnya singkat sambil mengembangkan senyumnya.
“owh... Mangkanya kata bunda neng ei nggak mau di lamar sama mas ali, orang udah punya pacar ganteng. Tapi emang setiap lamaran yang datang untuk meng ei selalu di tolak” yania menebak kenapa Eiliyah menolak lamaran seseorang yang sudah meminta pada orangtuanya.
📱 Aksa : “emang eiliyah sering di lamar orang” tanyanya penasaran akan perkataan perempuan itu.
📱 Yania : “wah banyak banget, tapi ya gitu neng ei selalu ada alasan buat menolak” jelas yania
📱 Eiliyah : “kamu nggak usah ngaco kalau ngomong, nggaknusah dengerin yania yang” jelas eiliyah yang sudah melihat perubahan wajah Aksa.
“cie... Uadah panggil sayang, aku mau kasih tau bunda” yania ingin pergi dari kamar eiliyah, tapi eiliyah langsung memeluk yania erat supaya yania tidak bisa keluar dari kamarnya.
“yania jangan dong, kalau kamu lakuin itu neng bakal marah banget sama kamu” bujuk eiliyah
Aksa yang melihat pergulatan kedua wanita itu memilih untuk mematikan panggilan video call itu.
“ ya... udah mati” yania yang melihat panggilan video callnya mati.
“kamu tu kalau ngomong jangan asal ceplos ajah... Pasti dia marah” ucap eiliyah.
“ya maaf neng” yania merasa bersalah.
“Nggak papa” jawab eiliyah.
“Dia lebih mudah dari neng ei ya” tanya yania
“iya... Sebenarnya neng mau menolaknya tapi dia selalu berusaha meyakinkan Eneng untuk menerimanya, bahkan yang pertama ia dekati bukan eneng tapi Zie. Jadi setiap dia ajak keluar bilangnya bukan sama Eneng tapi sama Zie” eiliyah menjelaskan pada sang adik.
“Jadi Zie udah kenal dong” tanya yania yang makin penasaran.
“udah, yang Eneng heran Zie bisa langsung dekat sama dia. Padahal Zie sulit banget bisa akrap dengan orang yang baru ia kenal. Kemaren saja waktu di jemput mas Egi Zie nggak mau” jawab eiliyah.
“terus” yania makin penasaran.
“Ya... Aku aku bilang besok aku jemput sambil anterin om Aksa berangkat ke bandara, tapi ternyata Aksa berangkat ke bandara pagi jadi nggak jadi anterin dia” lanjut eiliyah.
“owh namanya Aksa, terus Zie nggak ngambek” tanya yania.
__ADS_1
“bukan ngambek lagi, seharian dia nggak mau ngomong sampai aku jelasin baru dia nggak ngambek lagi” jelas eiliyah.
Usai menceritakannya pada yania, eiliyah meminta Yania agar tidak menceritakan pada kedua orangtuanya dulu.