Mengejar Cinta Eiliyah

Mengejar Cinta Eiliyah
MCE 59


__ADS_3

“BIBIK...” Eiliyah panik karena melihat sang putra yang mengigil saat eiliyah memegang kening sang putra tenyat terasa panas.


“Ya Allah boy...” Eiliyah menangis melihat keadaan sang putra.


“Bibik...” Panggil eiliyah lagi sambil mengendong sang putra menuruni tangga.


“Ya Allah neng kenapa dengan den Zie?” Bibik kaget melihat majikannya mengendong anaknya.


“Badannya panas bik, tolong ambilkan tas dan switer saya di kamar saya mau bawa Zie ke rumah sakit” mendengar perinta majikannya bibik segerah berlari menuju kamar eiliyah untuk mengambil switer.


Setelah memakai switer yang di ambil pembantunya eiliyah segerah memakainya, karna tak mungkin eiliyah pergi kerumah sakit dengan memakai daster.


Jalanan sedikit macet berkali-kali Eiliyah membunyikan klakson berharap mobil yang berada di depannya bisa berjalan lebih cepat. Perjalanan menuju terasa lebih lama karna berkendara dengan keadaan panik karna melihat wajah sang putra memerah seperti kepiting rebus dan juga mengigil.


Sesampainya di rumah sakit eiliyah memarkirkan mobilnya sembarangan, karna ia ingin segerah menolong sang putra.


“sabar ya sayang Kita udah sampai rumah sakit” ucap eiliyah sambil berlari mengendong sang putra menuju ke IGD.


“Sus... Sus... Tolong anak saya” panggil eiliyah saat sudah berada di pelataran rumah sakit itu.


Suster jaga yang mendengar triakan eiliyah segerah menghampirinya dengan membawa bed rumah sakit. Setelah eiliyah membaringkan Zie di bed suster segerah mendorong bed itu menuju ruang IGD.


“mbak tolong tunggu di sini” setelah berkata seperti itu pintu IGD itu langsung tertutup.


Eiliyah begitu panik Air matanya tak henti-hentinya berhenti mengalir. Ia mondar mandir menunggu kabar dari dokter yang memeriksa putranya yang berada di dalam sama.

__ADS_1


Cklak...


Terdengar suara pintu IGD terbuka, eiliyah segerah menghampiri dokter yang baru keluar dari sana.


“Dok gimana keadaan putra saya?” tanya eiliyah.


“putra ibu terkena tipes, dia harus dirawat karna tubuhnya terlalu lemah” mendengar itu eiliyah tak bisa berkata apa-apa, hanya dengan derasnya air mata yang keluar dari mata cantiknya.


“Oh ya dari tadi putra anda selalu memanggil-manggil papanya, mungkin dia kangen”


Deg...


Jantung eiliyah merdetak lebih kencang mendengar perkataan dokter sebelum ia pergi dari sana.


Kaki eiliyah bersa lemas mendengar perkataan dokter. Ia duduk di kursi yang tersedia di depan ruangan itu. Eiliyah memijat pangkal hidungnya. Bagai mana ia bisa mengabulkan permintaan sang putra. Selalu saja jika permintaannya tak di penuhi badannya akan panas bahkan tipesnya akan kambuh.


“bagai mana ini, aku tak mungkin memanggil Aksa kesini” gumam eiliyah lirih.


Setelah mengurus administrasi sekarang Zie dapat di pindahkan keruang rawat inap. Hatinya sakit melihat putranya berbaring tak berdaya di bed rumah sakit dengan slang infus di sampingnya.


Sesaat eiliyah terdiam di ruang rawat Zie, terdengar suara dering ponselnya di dalam tas. Di lihatnya ternyata no rumahnya.


📞 Rumah : “assalamualaikum neng” nada bicaranya masih panik memikirkan anak majikannya.


📞 Eiliyah : “waalaikum salam bik” jawab eiliyah lesuh.

__ADS_1


📞 rumah : “gimana neng keadaannya den Zie”


📞 Eiliyah : “zie kena tipes bik, jadi harus di rawat”


📞 Rumah : “ya Allah neng, terus sekarang gimana. Apa perlu bibik kesana juga?” tanyanya makin panik.


📞 Eiliyah : “nggak usah deh bik, besok aja sekalian bawain baju ganti buat saya”


📞 Rumah : “bener neng?”


📞 Eiliyah : “iya bik”


📞 Rumah : “neng udah makan malam belom?”


📞 Eiliyah : “belum bik”


📞 Rumah : “ya Allah neng udah jam berapa ini kok belum makan, nanti kalau neng ikut sakit gimana?”


📞 Eiliyah : “iya bik biar bentar lagi saya cari makan”


📞 Rumah : “ya udah neng cepet makan ya, assalamualaikum”


📞 Eiliyah : “iya bik waalaikum salam”.


Heppy reading...

__ADS_1


__ADS_2