Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Tulang Punggung


__ADS_3

Malam harinya saat Jiya ingin menyimpan uangnya di tanah yang baru ia galih, tiba-tiba Alex pulang.


“Kau lagi ngapain sayang?” tanya Alex yang telah berdiri di pintu dapur.


Jiya yang melihat kehadiran suaminya menjadi syok bukan main.


“I-ini.” Jiya yang tertangkap basah ingin menanam uang tak bisa berbohong lagi.


Kemudian Alex turun dan melihat uang yang ada dalam bungkusan plastik hitam.


“Kau dapat uang darimana?” tanya Alex penuh selidik.


“Dari mama Lex, kemarin itu aku pulang ke rumah untuk minta modal.” Jiya tak memberitahu kalau dirinya di usir.


“Oh, banyak juga ya...” Alex tak bertanya lebih lanjut apa yang terjadi selama Jiya di rumah orang tuanya.


Karena yang penting untuknya istrinya punya uang dan dia bisa meminta untuk kepentingan dirinya sendiri.


“Sayang, aku minta 100 ribu ya buat rokok.” Alex yakin kalau istrinya akan memberikannya padanya.


“Telinga mu sehatkan Lex? Aku kan tadi bilang ini untuk modal! Apa kau tidak lihat tanah kosong di depan setengahnya sudah bersih?” ucap Jiya dengan sedikit kesal.


“Lalu?” Alex yang hanya ingin uang tak menyimak baik-baik perkataan istrinya.


“Aku mau buka warung disana, inilah modalnya! Aku saja enggak ambil buat beli beras kenapa kau malah minta rokok? Lagi pula kau bilang hari ini mau kerja! Apa upah mu enggak cukup buat jajan mu sendiri?! Urusan rumahkan sudah jadi tanggungan ku saat kau lepas tanggung jawab dan ingkar janji!”


Jiya yang muak mengeluarkan sebagain isi hati yang ia pendam selama ini.


Alex yang menerima kata-kata pedas istrinya merasa sakit hati dan tak di hargai sebagai suami.


“Aku sadar kalau aku ini hanya anak yatim piatu dan orang miskin, jadi kau tak perlu seenaknya merendahkan ku Jiya.” Alex yang merasa terzolimi merajuk pada istrinya.


“Kalau begitu kau harus tahu diri, sudah jadi beban istri harusnya malu minta uang rokok, kau itu suami ku bukan anak ku, jangankan kasih nafkah lahir, piring kotor mu saja enggak bisa kau bawa ke dapur pada hal jaraknya hanya 3 langkah dari tempat kau makan!” Jiya mengkritik sikap suaminya yang pura-pura lupa tanggung jawab.


“Jiya! Aku itu sibuk!”

__ADS_1


“Iya, kau sibuk main handphone, kau sibuk tidur, kau sibuk jaga warung bu Siti, aduh Lex... sebaiknya kau berubah, ingat ya! Aku enggak akan tinggal diam kalau uang 30 juta ini berkurang selembar pun, kalau sampai kau nekat, ku jual sawah ini! Kau pikir aku buka warung untuk ku sendiri?! Konyol!” pekik Jiya.


Karena sudah ketahuan Jiya pun tak jadi menanam uangnya.


Ia pun masuk ke dalam rumah dengan terus mengoceh.


Meski yang di katakan Jiya itu benar namun Alex tidak bisa menerimanya. Ia justru menjadi dendam pada Jiya yang menurutnya telah menginjak-injak harga dirinya.


“Pada hal aku adalah kepala keluarga, derajat ku lebih tinggi darinya tapi dia seenaknya bicara pada ku, dasar istri durhaka.” Alex sangat murka pada Jiya.


Sebenarnya Alex ingin sekali memberi pelajaran pada istrinya, tapi ia takut jika istrinya yang baik hati malah kabur lagi.


Sudah bagus dia pulang, coba kalau pergi selamanya pasti aku juga yang repot, mana sekarang cari uang susah, rokok tambah mahal, harga perempuan juga naik, batin Alex.


Ia yang tak ingin kehilangan tulang punggungnya terpaksa mengalah dan pura-pura menyesali segala perbuatannya selama ini.


“Sebaiknya aku minta maaf padanya.” Alex pun masuk ke dalam rumah tak lupa ia menutup pintu dapur mereka.


Setelah itu ia masuk ke dalam kamar, ia pun melihat Jiya meletakkan uang yang membuat imannya goyang di dalam lemari plastik baju mereka.


“Iya, maafkan aku ya sayang, ku akui semua salah ku, untuk itu aku akan membantu mu merintis usaha yang akan kau buat,” ujar Alex.


“Terserah kau saja.” Jiya tak perduli karena Alex membantu atau tidak itu tak ada pengaruhnya untuknya.


Keesokan harinya Jiya dan Alex pun sibuk memantau 4 orang yang membabat rumput liar di tanah kepala desa yang akan mereka pakai. Pengerjaan itu pun berlangsung selama 3 hari.


Jiya yang ingin tokonya awet memilih dinding semen dari pada kayu.


Yang ada di pikirannya biar rugi banyak yang penting tahan lama.


Untuk menghemat pengeluaran Jiya dan Alex bekerja sama mengambil pasir dari kali yang tak jauh dari toko yang mereka dirikan. Kebetulan kali itu memiliki banyak pasir yang berlimpah rush.


Mereka berdua pun mengumpulkan pasir sebanyak-banyaknya agar cukup untuk membangun warung mereka.


Bahkan Jiya yang ingin meminimalisir uang keluar harus rela bekerja ekstra yaitu berendam di air berhari-hari untuk mengambil pasir lalu menjualnya dengan harga 150 ribu permobil bak terbuka L300.

__ADS_1


Jiya yang tekun dan juga ulet dapat mengumpulkan uang untuk membeli 10 sak semen.


Alex yang melihat istrinya berkerja bagai kuda geleng-geleng kepala.


“Dasar gila, pada hal ada uang 30 juta, di keluarkan sedikit kan enggak masalah, dasar pelit!” Alex membenci sifat istrinya yang hemat.


Ia yang hanya duduk menonton di bawah pohon pisang tak hentinya mencibir istrinya yang pekerja keras.


Sore harinya Jiya yang lapar naik ke darat, lalu ia pun melihat pak Parman datang dengan mengendarai motor.


Alex yang juga melihat kehadiran bapak kepala desa bangkit dari atas daun pisang yang ia duduki, karena ia takut jika ketahuan tak membantu istrinya.


“Sudah selesai bu Jiya?” ucap Parman seraya memberhentikan motornya di hadapan Jiya yang basah kuyup, tangan dan kaki pucat dan berkerut.


“Iya pak.” sahut Jiya seraya memegang perutnya yang begah karena masuk angin.


“Ini untuk ibu.” Parman yang tahu Jiya belum memasak memberikan sebungkus nasi hangat lengkap dengan pecel ayam sebagai lauknya.


“Ya ampun pak, bapak harusnya enggak perlu repot-repot, pada hal saya sudah mau masak nasi nih pak.” Meski ia berkata demikian namun hati kecilnya sangat bersyukur Parman datang di waktu yang tepat.


“Enggak apa-apa bu, ini hanya nasi biasa, makanlah selagi masih panas,” ujar Parman.


“Terimakasih pak.” Jiya tersenyum bahagia.


Sikap ramah Jiya serta perhatian khusus yang di berikan Parman pada istrinya membuat Alex curiga kalau keduanya telah selingkuh.


“Saya permisi dulu ya bu.” Parman pun pamit tanpa menyapa Alex yang ada di bekang motornya.


Karena itu Alex makin geram, lalu ia pun mendatangi Jiya dengan tatapan marah.


“Kenapa dia perhatian sekali pada mu?!” tanya Alex dengan nada suara yang keras.


“Tadi orangnya disini, kenapa kau enggak tanya langsung?” Jiya pun melangkahkan kakinya ke arah rumah mereka yang ada di belakang tanah bapak kepala desa.


__ADS_1


__ADS_2