Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Kebenaran


__ADS_3

Lili memijat pelipisnya yang terasa sakit karena takut Jiya menceraikan Alex dalam waktu dekat.


“Biarkan saja, aku enggak perduli karena aku sudah muak padanya,” ucap Alex.


“Memangnya kau sudah membalik nama aset kalian mas?!” Lili menatap kesal pada suaminya.


“Itu bisa di atur, tenang saja.” Alex menganggap remeh istri tuanya.


“Bagaimana aku bisa tenang mas, mulai dari 6 bulan yang lalu kau ingin membalik nama surat-surat itu, tapi apa hasilnya? Hah?! Nihil mas, serius dikit kenapa mas?” Lili benci dengan sikap santai Alex.


“Iya sayang, aku mengerti tenang saja, kita pasti akan menguasai semua harta wanita tua itu!” Alex yang tahu tempat penyimpanan surat-surat itu yakin bisa membereskan segalanya.


Apa lagi ia telah menemukan pengacara dan notaris yang bersedia membantu dirinya.


“Pokoknya aku enggak mau gagal mas, harta Jiya itu harta mu juga, jangan takut untuk mengambilnya, aku juga sudah tahu cara menjalankan supermarket kita itu, kalau kita sampai berhasil kita bisa tenang mas.” Lili menyemangati suaminya


Kalau semua sudah menjadi milik Alex, aku akan membujuknya untuk menjadikannya atas nama ku, setelah berhasil aku akan menendang laki-laki bodoh ini, untuk apa punya suami yang tahunya menghabiskan uang, batin Lili.


“Iya sayang.” Alex memeluk Lili yang terus marah padanya.


🏵️


Keesokan harinya Jiya meliburkan diri kerja sebab ia ingin menyelidiki siapa nyonya L sebenarnya.


Jiya baru selesai sarapan pagi langsung ke alamat toko yang menjual tas tersebut dengan menyetir mobil pribadinya sendiri.


Jiya yang mengetahui lokasi toko tersebut langsung tancap gas.


Bremmm!!!


Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam akhirnya Jiya sampai ke mall terbesar yang ada di kota ia tinggal


Ia yang tiba sebelum mall buka harus bersedia menunggu di bangku yang ada di lobby selatan mall tersebut.


“Kok lama banget sih bukanya??” Jiya menoleh ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul 09:30 pagi.


Untuk menghilangkan keresahan dan kebosanannya Jiya pun bermain handphone.


Ia yang sudah lama tak membuka Instagram karena sibuk kali itu menyempatkan diri untuk mengintip perkembangan teman-teman di media sosialnya tersebut.


Jiya pun menarik turun layar sentuh handphonenya.


Deg!

__ADS_1


Jantungnya seketika berdetak kencang saat ia melihat Lili sahabat karibnya mengirim sebuah photo di feed Instagram dengan gaya menyandang tas CD putih di lengan kanannya.


Lalu Jiya mengambil struk belanjaan Alex yang ia temukan.


“Eh? Kok bisa sama warnanya??” Jiya memeriksa berulang kali antara struk dan tas yang di pakai Lili.


“Apa mungkin yang Lili pakai barang tiruan?” Jiya tak percaya jika sahabatnya mampu membeli tas tersebut.


“Sepertinya ini asli, kalau palsu enggak mungkin Lili menandai akun resmi tas ini.” meski hatinya curiga namun Jiya menepis prasangka buru yang belum tentu benar itu.


“Bisa jadi pacarnya yang belikan.” sampai detik itu Jiya masih mencoba berpikir positif.


Walau sebenarnya hatinya tak tenang, karena kebetulan yang terjadi tidak masuk akal baginya.


Jiya yang masih berpikir mengenai kecurigaannya tiba-tiba melihat satu persatu pelanggan berdatangan.


Dan satpam dari dalam mall pun membuka pintu kaca yang ada di belakang Jiya.


Sontak Jiya bangkit dari duduknya untuk ikut masuk ke dalam mall.


Setelah pintu terbuka lebar para pengunjung pun masuk satu persatu ke dalam mall besar tersebut.


Jiya yang sudah tak sabar segera menuju toko tuannya yang berada di lantai dua dengan langkah tergesah-gesah.


Jiya yang dekil dan berpenampilan sederhana mendapat sambutan kurang ramah dari karyawati toko tersebut.


“Maaf apa saya boleh bertanya kak.” ucap Jiya dengan santun.


“Boleh, tapi hanya sebentar ya bu.” sahut si karyawati dengan tatapan sinis.


Lalu Jiya pun mengeluarkan struk belanjaan dari sakunya.


“Ini apa ya bu?” tanya sang karyawati.


“Saya mau bertanya soal siapa yang belanja tas ini.” Jiya memberika struk dan kartu ucapan terimakasih dari brand tersebut pada si karyawati.


“Disitu kan ada namanya bu, ibu bisa baca sendirikan?” karyawi yang belum buka dasar itu membuat Jiya geleng-geleng kepala.


“Iya, memang benar tapi apa boleh saya mengetahui nama asli pembeli ini?” Jiya butuh data asli dari nama yang ada di kartu ucapan tersebut.


“Jadi ibu kesini hanya untuk itu? Maaf ya bu, saya tidak bisa memberi informasi yang ibu minta.” karyawati tersebut memalingkan matanya ke arah lain untuk melihat apa ada pelanggan yang datang.


Sombong banget sih, batin Jiya.

__ADS_1


Jiya yang di acuhkan akhirnya masuk ke dalam toko tersebut.


“Tunjukkan pada ku tas yang paling mahal harganya,” ucap Jiya.


“Iya bu.” si karyawati sebenarnya malas melayani wanita jelek yang terlihat miskin di matanya.


Namun karena Jiya tak beranjak dari hadapannya, ia pun terpaksa menuntun pelanggan kantong kosongnya ke rak tas yang paling malah di toko itu.


“Ini bu.” ucap si karyawati tanpa menjelaskan kualitas tas tersebut.


Jiya pun melihat harga tas itu dengan seksama.


Malah juga, yang benar saja 84 juta dapatnya segini doang?! batin Jiya.


Lalu Jiya menoleh ke arah si karyawan seraya mengeluarkan kartu kreditnya.


“Aku ambil yang ini!” meski merasa sayang Jiya yang tak ingin di remehkan membeli tas yang hanya muat handphone dan dompet kecil di dalamnya.


“Yang benar bu?!” wajah si karyawati langsung sumringah mendengar Jiya ingin membelinya.


Saat si karyawati ingin mengambil kartu kredit yang ada di tangan Jiya, Jiya langsung memasukkannya kembali ke saku bajunya.


“Tapi sebelum itu aku mau tanya pada mu.” Jiya pun mengambil handphone yang ada di dalam tas kulit buayanya.


“Apa dua hari yang lalu wanita ini datang membeli tas kesini?” Jiya menunjukkan photo Lili yang ada di feed Instagram.


“Oh, kakak ini ya bu?” si karyawati ingat betul pada Lili.


Karena atasan mereka mewajibkan semua bawahannya untuk menyimpan nomor pelanggan mereka yang berbelanja guna untuk di hubungi kalau ada barang keluaran baru.


Mendengar pengakuan si karyawati Jiya menjadi sesak napas.


Ia tak menyangka kalau suaminya dan sahabatnya akan main gila.


“Bu, ibu jadi belanjakan?” ucap si karyawati.


“Iya, tapi apa kau yakin ini orangnya?” Jiya ingin memastikan karena ia tak ingin di tipu oleh si karyawan yang ingin menjual barang dagangannya


“Iya bu, namanya Lili kan? Saya masih menyimpan nomornya kok bu.” lalu si karyawati mengambil handphone yang ada di saku celananya.


“Yang inikan bu?” si karyawati pun menunjukan nomor WhatsApp Lili.


Seketika Jiya merasa lemas, ternyata selama ini ia memelihara ular dalam biduk rumah tangganya .

__ADS_1


__ADS_2