
“Apa yang terjadi? Kenapa rumah ini di sita?” tanya Alex dan perasaan berdebar-debar.
Lalu ia pun duduk di sebelah Lili dan mengelus punggung istri galaknya.
“Hiks, ini semua karena kelakuan ibu ku mas, dia menggadaikan rumah ini untuk mengambil uang ke bank, sekarang aku tidak punya apapun lagi selain kau mas.” Lili pun menceritakan segala yang telah terjadi sebelum Alex datang.
Astaga kenapa semuanya jadi tambah runyam? batin Alex.
“Lili, bukannya kau benci ku?” Alex yang ingin melarikan diri mengatakan demikian.
“Enggak mas, kau salah, aku sangat menyayangi mu aku mohon bawa aku bersama mu.” pinta Lili yang tak punya tujuan lain.
“Tapi Li, aku ini pengangguran, lalu bagaimana aku bisa menghidupi mu? Belum lagi kebutuhan mu sangat mahal, jujur saja aku tidak bisa memberi apa yang kau inginkan, aku juga tidak bisa mencari pekerjaan yang mampu menggaji ku sebanyak 50 juta sebulannya.” Alex mengatakan alasannya agar Lili tak mau menjadi istrinya lagi.
Meski ia mencintai lili, namun Alex yang biasa d imanja oleh Jiya jelas tak sanggup bila harus mendengar ocehan dan hinaan setiap saat dari mulut pedas Lili.
“Aku tahu, tak masalah berapapun gaji yang kau dapat, yang penting itu halal, mas kau harus ingat di perut ku ada darah daging mu,” ucap Lili.
“Aku tahu, tapi sekarang aku tinggal di rumah orang tua ku, di sana sangat sempit, kanan kirinya adalah sawah, apa kau siap hidup susah dengan ku?” Alex bertanya karena ia tak ingin ada keluhan Lili setelah sampai di rumah masa kecilnya.
“Aku mau mas, bawa aku sekarang juga.” pinta Lili yang merasa kelelahan dan butuh istirahat.
“Baiklah.” Alex yang tidak ada alasan untuk menolak lagi, terpaksa membawa istrinya pulang ke rumahnya.
Keduanya pun berangkat meninggalkan rumah besar yang baru beberapa bulan Lili beli.
...****************...
Pada pukul 17:00 sore, Jiya yang telah selesai bekerja menunggu sang pujaan hati di pinggir jalan.
Hari itu ia meninggalkan kendaraannya di perkirakan basement supermarket demi duduk berduaan dengan Dilan dalam mobil yang sama.
Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Dilan yang di tunggu-tunggu pun datang dengan membawa mobil Alphard nya.
Pria tampan dan maskulin itu berhenti tepat di hadapan Jiya, lalu jemari lentiknya menekan tombol yang ada di pintu sebelahnya.
Treeett!!
Ketika kaca mobil telah turun ke bawah, Dilan langsung melempar senyum pada janda muda yang ada di hadapannya.
Tek!
Suara kunci otomatis pintu mobil itu pun terbuka.
“Silakan masuk Jiya ku sayang.” sejak Jiya resmi menyandang status sendiri, Dilan pun tak segan-segan melontarkan kata-kata mesra pada wanita cantik itu.
Jiya sendiri yang mendengarnya menjadi malu-malu tak menentu.
__ADS_1
Ia pun dengan perlahan membuka pintu mobil calon kekasihnya.
Kriieet!!
Bam!
Lili mengunci dengan baik pintu mobil itu agar ia tak jatuh.
“kita mau kencan ke mana?” tanya Lili untuk memecahkan kecanggungan yang ada dalam hatinya.
“Kencan? Memangnya kita sudah pacaran?” Dilan mencoba menggoda Jiya.
Sontak wajah Jiya jadi memerah mendapat tanggapan itu dari Dilan.
“Bukannya kau sendiri yang bilang kalau malam ini kita mau kencan?” Jiya mencoba menyegarkan kembali ingatan Dilan.
“Oh iya aku lupa, tapi sebelum itu aku mau tanya pada mu.” ucap Dilan dengan tatapan serius.
“Apa?” sahut Jiya.
“Apa kau mau jadi pacar ku? Rasanya kencan tidak lengkap tanpa status.” Dilan menyatakan perasaannya dengan cara unik.
Sontak Jiya menatap wajah Dilan, “Bukannya kau bilang menunggu masa Iddah ku selesai?”
“Itu sih kalau kita mau nikah, bukan apa-apa ya Jiya, aku hanya cemas kalau aku tak punya ikatan dengan mu, kau malah pergi dengan pria lain.” Ternyata Dilan takut di tinggalkan oleh dia.
“Aku bingung harus menerima mu atau tidak.” ucap Jiya dengan raut wajah bimbang.
“Ya, aku memang menyukai mu, hanya saja aku takut kalau perasaan mu itu hanya sementara untuk ku, bagaimana pun kau baru putus dengan Fitri, sudah jelas kau masih ada hati padanya,” terang Jiya.
“Kenapa kau jadi bawa-bawa orang lain, Jiya? Ji, aku benar-benar serius pada mu.” lalu Dilan menggenggam kedua tangan Jiya.
“Aku tidak yakin.” Jiya menyunggingkan bibirnya.
“Kau ingin aku melakukan apa sayang?” Dilan merasa resah.
Ia takut jika hubungannya dan Jiya gagal untuk yang kedua kalinya.
“Berikan aku satu bukti, jika menurut ku itu memadai aku akan menerima mu menjadi kekasih halal ku,” ucap Jiya.
“Baiklah, aku pasti akan memberikan apa yang membuat mu tak bisa menolak ku.” Dilan tahu ia harus melakukan apa agar sang kekasih tak punya alasan untuk pergi darinya lagi.
“Akan ku tunggu.” ucap Jiya seraya tersenyum tipis pada Dilan.
“Oke, tapi... apa kita bisa berangkat sekarang? Aku sudah sangat lapar,” ujar Dilan.
“Iya,” sahut Jiya.
__ADS_1
Kemudian Dilan mengecup kedua punggung tangan Jiya yang masih ia genggam.
Deg!
Seketika jantung Jiya berdebar dengan sangat kencang, ia merasa seperti kembali ke masa lalu di mana saat itu ia sangat mencintai Dilan.
Dilan yang melihat reaksi tegang Jiya menjadi takut sendiri.
“Maaf, kalau aku tidak minta izin terlebih dahulu.” ucap Dilan dengan sedikit menyesal atas perbuatan lancangnya.
“Lain kali kalau kau melakukannya lagi, aku akan membalasnya!” ujar Jiya dengan raut wajah sinis.
Mendengar jawaban Jiya hati Dilan senang bukan main pasalnya itu adalah pertanda baik untuk hubungan mereka.
Ku pikir dia akan mengamuk, batin Dilan.
“Baiklah sayang.” Dilan yang bahagia mulai menyalakan mesin mobilnya dan meluncur membelah Jalan raya menuju pantai Indah Permai.
Tempat yang banyak di kunjungi oleh para pasangan yang di mabuk cinta.
Selama dalam perjalanan Dilan yang sedang menyetir tak henti-hentinya melempar senyum ke arah jalan raya.
“Kau kenapa sih? Enggak jelas banget dari tadi.” Lira mengejek Dilan yang nampak aneh di matanya.
“Diamlah, aku sedang menikmati momen bersama mu,” ucap Dilan.
“Masa?!” lalu Jiya meraih tangan kiri Dilan yang menganggur.
“Menikmati itu caranya seperti ini.” perlahan Jiya menunjukkan isi hatinya.
Deg!
Dilan yang tak dapat menahan gejolak dalam dadanya dengan cepat meminggirkan mobilnya ke tepi jalan.
“Kenapa berhenti?” Jiya bingung dengan apa yang di pikirkan Dilan.
“Jiya.” Dilan menatap lekat wajah Jiya.
“Ada apa?” tanya Jiya.
“Jiya, izinkan Aku mencium mu satu kali saja.” Dilan meminta izin agar lebih sopan.
“Oke.” Jiya yang juga ingin tak menampik apa lagi menahan perasaannya.
Kemudian Dilan mengelus puncak kepala Jiya dengan lembut, selanjutnya kedua tangannya menggenggam leher jenjang Jiya dengan napas terengah-engah.
Jiya yang tak suka banyak intoro pun berinisiatif untuk mencium Dilan terlebih dahulu.
__ADS_1
Cup!