Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Di Cerca Jiya


__ADS_3

“Lex, bahan dapur kan sudah habis, aku pergi ke belanja ke pasar ya hari ini?” ucap Jiya.


“Iya sayang hati-hati ya, maaf aku enggak bisa antar, karena hari ini mas Bambang mengajak ku untuk menebang kayu manis di hutan.” Alex yang ingin bersantai di air yang ada di tengah hutan malah berbohong pada istrinya.


“Iya enggak apa-apa sayang.” Jiya merasa bersyukur karena suaminya tidak ikut.


Setelah mereka selesai makan Jiya pun merapikan bekas tempat makan mereka.


Kemudian Jiya dengan baju daster lusuhnya berangkat menuju pasar.


“Nanti kuncinya taruh di bawa batu yang dekat tangga rumah Lex kalau kau pergi,” ucap Jiya.


“Siap bos ku!” Alex yang bermain game di handphonenya mengangkat jempol kanannya tanpa melihat istrinya yang pamit.


Setelah itu ia lanjut main game tanpa bertanya apa istrinya punya uang untuk ke pasar atau tidak.


Jiya yang telah biasa di perlakukan demikian malah sudah terbiasa dengan sikap suaminya yang lepas tanggung jawab.


Karena kebetulan di tempat ia tinggal kebanyakan perempuan yang menjadi tulang punggung sedangkan para suami di rumah atau mengobrol di warung kopi seharian.


Nasib Jiya masih di bilang beruntung karena Alex tidak main tangan padanya, karena para suami teman-temannya sering melakukan kekerasan dalam rumah tangga apabila tidak memberi pelayanan yang memuaskan.


Jiya yang sudah maklum akan istiadat disana tak lagi mempermasalahkan kekurangan Alex, sesampainya di pinggir jalan Jiya melihat ke area tanah kosong yang sedang ia pijak.


“Sepertinya aku cocok membuat warung disini.” tempat itu cukup strategis menurut Jiya, sebab itu adalah persimpangan jalan yang menghubungkan dua desa dan Jarak dari rumah-rumah warga pun dekat dari sana.


Setelah menemukan tempat yang bagus Jiya pun melihat angkot datang.


Angkot tersebut berhenti di hadapan Jiya kemudian Jiya pun naik ke dalamnya.


Hatinya benar-benar bersemangat, karena ia sangat yakin akan jadi orang sukses melalui usaha kelontongnya nanti.


Selama perjalanan ke pasar mata Jiya melihat ke arah luar kaca yang kanan kirinya menampilkan pemandangan sawah yang terbentang luas.


“Sebentar lagi musim panen, semoga kami dapat banyak.” gumam Jiya.


Karena jika panen mereka bagus beban Jiya sedikit berkurang dan uang untuk membeli beras bisa di tabung oleh Jiya.

__ADS_1


Tak terasa Jiya pun sampai ke pasar ia pun berbelanja 4 jenis ikan asin yang di bungkus dalam kertas.


Jiya juga membeli, tomat seharga 4 ribu cabai setengah kilo, kentang 1 kilo, tahu 1 kantong plastik kecil dan tempe 4 bungkus.


“Astaga, uang 50 ribu hanya dapat segini? Hum... andai aku punya tanah luas aku pasti sudah membuat kebun sayur.” Jiya yang kekurangan finansial merasa semua bahan pangan serba mahal.


Semua seolah mimpi saat ia pernah hidup serba berkecukupan.


Setelah selesai berbelanja Jiya pun menuju bang unit rakyat yang masih ada di area pasar itu.


Setelah sampai di bank, Jiya masuk dan mencairkan uang pemberian ibunya.


Tak perlu waktu lama uang tunai 30 juta pun di berikan oleh teller kepalanya dengan utuh.


Senyum bahagia tersirat jelas di bibir kering Jiya yang kurang vitamin.


Ia yang tak ingin menunda niat baiknya segera pulang dan menuju rumah kepala desa untuk bertanya apa tanah itu bisa ia sewa.


Jiya pun menyimpan uangnya dalam kantong kresek hitam lalu menaruhnya ke dalam keranjang belanjaannya.


1 jam kemudian Jiya sampai ke rumah kepala desa, Jiya pun turun dari angkot.


“Assalamu'alaikum.” Jiya mengucap salam pada Parman sang kepala desa yang duduk di teras rumahnya.


“Walaikumsalam, eh bu Jiya, ayo masuk je dalam bu.” Parman pun menuntun Jiya untuk masuk ke dalam rumah.


“Iya pak,” sahut Jiya.


“Silahkan duduk bu.” ucap Parman seraya mendaratkan bokongnya ke atas ambal yang di gelar mentok ke dinding.


“Terimakasih banyak pak.” Jiya pun duduk di hadapan Parman dengan jarak yang lumayan jauh.


”Ada yang bisa di bantu bu Jiya?” tanya Parman seraya menjabat tangan warganya.


“Iya pak, saya mau tanya apa bapak menyewakan tanah yang ada di pinggir jalan rumah saya? Karena kalau bapak kasih saya mau buka warung kelontong disana pak,” ucap Jiya.


“Warung kelontong ya?” Parman berpikir sejenak.

__ADS_1


Cocok juga sih, aku enggak perlu lagi jauh-jauh belanja kalau kehabisan beras, batin Parman.


“Kalau ibu mau, boleh saja saja bu Jiya, lagi pula tanah itu tidak bisa saya urus, ibu mengerti sendirikan kalau saya sibuk ke kebun sawit tiap hari? Hehehe...” Parman tertawa seraya menyalakan rokok kreteknya.


“Iya sih pak, apa lagi sekarang sawit bapak hampir tiap hari panen,” ujar Jiya.


“Nah ibu tahu jugakan? Hehehe... ibu pakai saja, tapi saya minta jangan ada rumput liar lagi disana.” Pinta Parman yang suka kebersihan.


“Siap pak, terus uang sewanya di bayar perbulan atau tahun pak?” tanya Jiya lebih lanjut.


“Pakai saja bu enggak usah di bayar yang penting tanah 3 hektar itu harus bersih.” Parman yang memiliki banyak tanah dan penghasilan dari kebun sawit seluas 50 hektar merasa tak keberatan jika Jiya memakai tanah tersebut secara gratis.


Alasan lainnya karena ia kasihan pada Jiya yang selalu di manfaatkan Alex. Ia tahu jika Alex bukan pria baik, namun Parman tak mau memberi tahu Jiya karena itu bukan urusannya.


“Terimakasih banyak ya pak.” Jiya yang bahagia menitikkan air matanya.


“Sama-sama bu, saran dari saya simpan sendiri uang penghasilan ibu di tempat yang tak di ketahui siapapun, jangan buat di warung semuanya, karena ibukan membuka warung di perbatasan, takutnya ada orang jahat yang mencuri uang ibu saat ibu lengah.”


Parman memberi masukan sekaligus menyampaikan secara tidak langsung agar Jiya berhati-hati juga pada suaminya.


“Iya pak, terimakasih banyak pak Parman.” ucap Jiya seraya mencium punggung tangan Parman berulang kali.


“Apa ada lagi yang mau ibu bicarakan? Karena saya harus menonton live bunda Corla 3 menit lagi.” Parman mengusir Jiya dengan halus.


“Sudah enggak ada pak, kalau begitu saya permisi dulu.” kemudian Jiya bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah bapak kepala desa dengan senyum yang sangat lebar.


Berarti modal ku masih utuh, Alhamdulillah, batin Jiya.


Ia pun pulang ke rumah dengan penuh semangat.


Sesampainya di rumah ia melihat bekas piring Alex yang terletak di lantai.


“Apa susahnya sih untuk antar ke ember kotor?” Jiya jengkel pada Alex yang jorok dan tidak pengertian.


Namun Jiya tak mau marah lebih lama karena ia ingin segera membersihkan tanah kosong milik kepala desa tersebut dengan meminta bantuan tukang babat.


__ADS_1


__ADS_2