Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Sinar Rembulan


__ADS_3

“Berarti kita berdua di tempatkan di toko yang sama,” ujar Alex.


“Benarkah? Apa kita perlu cari kontrakan di sekitar sana? karena kan jarak dari sini ke sana cukup jauh mas.” Lily yang kekurangan uang merasa tak masalah jika bertemu orang-orang yang telah tahu perselingkuhannya dengan Alex.


“Apa kau yakin?” tanya Alex memastikan karena ia tahu akan banyak orang-orang yang akan mengecilkan mereka berdua di sana.


“Tentu saja, kata Jiya lebih cepat masuk akan semakin baik, bukankah itu sangat membantu untuk biaya persalinan ku nanti?” sikap santai dari Lilik membuat Alex cukup tenang.


Semoga mentalnya kuat, batin Alex.


***


Pada pukul 17:02 Dilan datang menjemput Jiya ke kantor pusat supermarket Lee Jiya.


Jiya yang telah menunggu di lobby utama langsung masuk ke dalam mobil Dilan.


“Apa kau sudah makan?” tanya Jiya seraya memasang sabuk pengaman.


“Sudah, kebetulan tadi aku meeting di kafe bersama klien, kau sendiri bagaimana?” tanya Dilan kembali.


“Aku juga sudah makan, tadi ada acara ulang tahun karyawan di dalam,” jawab Jiya.


“Kalau begitu kita bisa berangkat sekarangkan?” ujar Dilan.


“Iya, tapi pelan-pelan saja ya, yang penting selamat sampai ke tujuan,” ucap Jiya.


“Baik bu bos!” kemudian Dilan menginjak gas mobilnya lalu meluncur membelah jalan raya menuju ibu kota.


Selama dalam perjalanan Jiya tak banyak bicara, pasalnya ia memikirkan bagaimana nanti pertemuannya dengan keluarganya.


Semoga saja mereka menerima ku dengan baik, Batin Jiya.


Dilan yang ada di sebelahnya pun memperhatikan perubahan Jiya yang sangat signifikan.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, sebaiknya kau berdoa agar kau dan keluarga mu bisa berkumpul kembali.” Dilan melempar senyum kepada kekasihnya dengan penuh harap sang pujaan hati merasa lebih tenang.


“Terima kasih Dilan, beruntung kau ada di sisi ku, jujur saja kalau kau tidak meminta ku untuk bertemu mereka lagi, mungkin selamanya aku tidak akan pergi ke sana karena aku tidak memiliki keberanian,” ucap Jiya.


“Tanpa aku pun harusnya kau pergi, ini sudah terlalu lama Jiya, tidak mungkin mereka tak merindukan mu, terkadang meski seseorang itu sudah sepuh namun sifat egois tak bisa di hilangkan, karena itu salah satu harus ada yang mengalah, agar semua baik-baik saja.” Dilan menggenggam tangan Jiya yang dingin seperti es.


“Apa kau baik-baik saja?” Dilan khawatir kalau Jiya sakit.


“Aku tidak apa-apa Dilan, kalau aku sedang tegang memang begini jadinya.” Jiya tersenyum melihat ekspresi cemas kekasihnya.


“Oh, ku pikir kau kenapa-napa.” Dilan pun menganggukan kepalanya, setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.


“Tidurlah, perjalanan masih panjang.” Dilan menyuruh kekasihnya untuk beristirahat.

__ADS_1


“Tidak, aku ingin menemani mu.” Jiya menolak karena ia takut kalau Dilan tiba-tiba mengantuk saat menyetir.


“Ya sudah kalau begitu.” Dilan merasa senang karena Jiya mau menemaninya melalui jalan panjang yang akan mereka tempuh.


Namun 3 menit kemudian Jiya yang katanya tak ingin tidur tiba-tiba sudah terlelap.


“Dasar Jiya.” Dilan tersenyum seraya mengemudikan mobilnya.


***


Alex yang duduk di mulut pintu utama rumahnya menatap ke arah rembulan yang sedang bersinar terang.


“Lili.” Alex yang malas bergerak memanggil nama istrinya.


“Ada apa mas?” sahut Lili dengan perasaan malas.


“Tolong matikan semua lampu rumah,” titah Alex.


“Kok di matikan mas, bukannya ini masih jam 19:00 malam?” Lili yang sedang berbaring menatap tajam ke arah suaminya yang duduk membelakanginya.


“Kita harus hemat listrik,” ucap Alex.


“Tapi aku enggak bisa gelap-gelapan mas.” Lili menolak karena ia takut akan kegelapan.


“Apa kau tidak lihat malam ini bulan purnama? Cahayanya itu akan masuk ke dalam rumah, cepat matikan lampunya sekarang.” Alex yang tak punya uang untuk mengisi pulsa listrik tetap memaksa istrinya untuk memadamkan lampu yang ada di seluruh rumah.


Tek tek!


Setelah memadamkan lampu, Lili yang takut sendirian di kamar menghampiri Alex ke pintu.


“Geser sedikit.” Lili pun duduk di mulut pintu bersempit-sempitan dengan Alex.


“Astaga, pada hal masih banyak tempat lain, kenapa harus duduk di sebelah ku sih!” Alex menata kesal pada Lili.


“Ya Tuhan, ini hanya pintu mas! Kenapa harus marah sih!” Lili menyunggingkan bibirnya.


“Sudahlah, jangan mengoceh lagi.” Alex yang malas berdebat memilih untuk menatap bulan yang ada di langit kembali.


“Apa yang sedang kau pikirkan mas?” tanya Lili dengan penasaran penuh.


“Aku menyesal karena selingkuh dengan mu.” Alex yang jujur mengatakan isi hatinya yang sebenarnya


“Aku juga menyesal sudah menikah dengan mu, kalau kau tidak menggoda ku pasti hidup ku tidak akan sial begini!” Lili membalas kata-kata Alex dengan pedas.


Alex melirik tajam mata Lili yang hanya berjarak 5 senti darinya.


Lili yang keras kepala pun membalas apa yang dilakukan Alex padanya.

__ADS_1


“Aku lebih cantik darimu ya! Harusnya kau bersyukur kalau aku mau bertahan dengan mu!” pekik Lili.


Mendengar kepercayaan istrinya Alex pun memutar mata malas.


***


Keesokan harinya tepat pada pukul 06.00 pagi mobil yang dikendarai oleh Dilan tiba di ibu kota bagian timur.


Dilan yang merasa kelelahan menepikan mobilnya ke sebuah pom bensin.


lalu ia pun menatap dia yang masih tertidur lelap.


“Astaghfirullahaladzim, dia tidur atau pingsan sih?!” gumam Dilan.


Dilan yang merasa lapar pun segera membangunkan Jiya.


“Hei jagung, cepat bangun, kita sudah sampai.” Dilan mencolek bahu Jiya.


Perlahan-lahan Jiya mulai membuka matanya.


“Loh, kita sudah sampai?” Jiya menutup menutup mulutnya yang menguap.


“Iya dan kau tidur sangat nyenyak, pada hal kau bilang mau menemani ku.” Dilan cemberut lalu membuka pintu mobil.


”Hei kau kau mana?” Jiya pikir kalau Dilan merajuk kepadanya.


“Aku mau buang air kecil, apa kau mau ikut?” ucap Dilan.


“Enggak, oh ya dari sini ke rumah ku 5 menit lagi.” ternyata kediaman orang tua Jiya ada di dekat pom bensin itu.


“Oke, tunggu sebentar.” kemudian Dilan bergegas menuju toilet untuk menuntaskan panggilan alam yang sejak tadi memaksa untuk keluar.


Jiya yang ada di dalam mobil melihat ke area sekitar pom bensin itu.


“Setelah sekian lama akhirnya aku pulang ke kampung halaman ku.” jantung Jiya berdebar sangat kencang terlebih sebentar lagi ia akan bertemu dengan keluarganya.


Saat Jiya sedang menikmati udara ibu kota Dilan yang telah selesai buang hajat masuk ke dalam mobil.


“Dari sini lewat mana?” tanya Dilan.


“Nanti keluar dari pom bensin lurus saja, terus belok kanan di persimpangan pertama, kemudian lurus lagi lalu belok kiri.” dia tersenyum saat mengatakannya.


“serius Jiya.” Dilan yang lapar tak mau bercanda saat itu.


“Makanya jalan dulu, nanti aku tunjukkan arahnya.” dia yang gemas mencubit hidung mancung kekasihnya.


Lalu Dilan pun tertawa, setelah itu keduanya pun meluncur menuju rumah Jiya

__ADS_1


__ADS_2