
Jiya geleng-geleng kepala, wanita pekerja kerasa itu juga memijat pelipisnya yang terasa sakit.
“Aku sudah enggak tahu lagi harus bicara apa padanya, sembilan tahun setengah aku memaklumi sifatnya Li, aku terima malasnya, manjanya, lepas tanggung jawabnya dan... aku juga menerima saat dia tak mau memberi ku nafkah batin dan tak pernah mencium mencium ku.”
Meski Jiya ingin memakan suaminya bulat-bulat karena kesal namun ia masih sangat menyayanginya.
“Sabar Ji, semua rumah tangga itu enggak ada yang sempurna, ku lihat kau juga terlalu keras Jiya, coba kau ubah sifat keras kepala mu itu, meski pun mas Alex bawahan mu tapi dia tetaplah suami mu.” Lili sang istri kedua menasehati madunya.
“Kau benar juga sih.” Jiya sadar jika ia sering mempermalukan suaminya di hadapan orang lain, baik di sengaja maupun tidak.
“Benarkan? Selama ini juga aku enggak pernah lihat dan dengar kau memanggil mas Alex dengan mas, abang atau sayang, pada hal semua laki-laki lebih nyaman jika kau tidak memanggil namanya,” ujar Lili.
“Kau benar juga, aku enggak pernah kepikiran selama ini karena dia hanya lebih tua dua tahun dari ku,” ujar Jiya.
“Meski pun kau lebih tua darinya 20 tahun kau tetap enggak boleh memanggilnya nama kalau dia sudah menjadi suami mu.” Lili yang pandai bicara membuat Jiya makin percaya kalau Lili adalah sahabat sejati.
“Mungkin aku juga salah.” Jiya yang berbesar hati tak gengsi untuk introspeksi diri.
“Semoga hubungan mu dan mas Alex lancar, tapi kalau dia masih mengulangi kesalahannya lebih baik kau pikr-pikir lagi untuk melanjutkan hubungan kalian, ini semua milik mu, untuk apa kau cape-cape mempertahankan orang yang akan menghancurkan segala perjuangan mu.” perlahan Lili mempengaruhi Jiya.
”Aku setuju dengan mu.” Jiya menerima masukan dari Lili karena ia juga tak ingin hidup bersama orang yang tak sejalan dengannya.
Pada malam harinya, Jiya yang baru pulang kerja melihat Alex yang duduk termenung di meja makan.
Jiya yang tak ingin lama-lama bersitegang dengan suaminya mencoba mengalah.
“Bang.” ucap Jiya yang berdiri di mulut pintu dapur.
Alex pun menoleh ke arah Jiya yang tersenyum padanya.
Kenapa si konyol ini tertawa enggak jelas, pakai panggil abang lagi, batin Alex.
Lalu Jiya duduk di sebelah Alex yang wajahnya pucat.
“Maafkan aku ya bang karena aku sudah kasar pada mu.” Jiya mengelus bahu Alex.
Alex yang mendapat sentuhan dari istrinya merasa jijik, tapi ia yang hanya bisa jadi ekor terpaksa bersikap baik pada wanita yang telah memanjakannya selama ini.
“Aku selalu memaafkan mu Ji, kau juga harus memaafkan semua sifat buruk ku, aku memang laki-laki enggak berguna, tapi aku akan berusaha berubah.” Alex yang penuh kepalsuan menampilkan wajah sedih.
“Iya mas.” Jiya memeluk Alex yang sangat ia cintai.
Lalu Alex membalas pelukan istrinya dengan perasaan tak karuan.
Jiya yang telah lama tak mendapat nafkah batin pun mengecup bibir suaminya.
__ADS_1
Sontak Alex tersentak, pasalnya ia tak ingin melalukan itu pada istrinya.
Jiya yang berpikir ia dan suaminya memiliki rasa yang sama terus melanjutkan aksi romantismenya.
Alex yang masih membutuhkan Jiya terpaksa mengikuti permainan istrinya meski ia harus menahan mual dan muntah karena jijik pada Jiya yang tak secantik Lili.
“Bang, kita lanjut ke kamar yuk!” Jiya yang bergairah bangkit dari duduknya seraya memegang tangan suaminya.
“Iya sayang, tapi aku pipis dulu ya biar mainnya makin kencang.” Alex mencubit pipi istrinya yang terasa kasar.
“Oke sayang.” Jiya yang bersemangat menuju kamar terlebih dahulu, sedangkan Alex berjalan cepat ke kamar mandi yang ada dalam daput tersebut.
“Hoek! Hoek! Bangsat! Bibir kotornya benar-benar bau!” Alex muntah hebat, meski nafas Jiya harum namun bagi Alex tak ada yang bisa di sukai dari istrinya.
Alex pun berulang kali kumur-kumur dan gosok gigi untuk menghilangkan jejak Jiya darinya.
Cukup lama Alex di kamar mandi sampai ia yang telah mengumpulkan kekuatan beranjak menuju kamar.
Sesampainya Alex ia pun melihat istrinya bertelanjang dada dan dari pusar ke bawah menutupnya dengan selimut.
Sebenarnya aku malas banget, tapi demi uang aku rela, batin Alex.
Kemudian Alex tersenyum, ia pun menutup pintu dan menuju istrinya yang ada di atas ranjang.
“Kau juga tampan bang.” Jiya memuji suami yang membuat ia kesal sekaligus kasihan.
Kemudian keduanya pun menunaikan hajat mereka sebagai suami istri.
Berkat pelayanan Alex yang luar biasa Jiya yang labil memaafkan suaminya sepenuhnya.
Meski begitu ia tak mau lengah karena ia takut suaminya membohonginya lagi.
...Flash Back Off...
Pada malam harinya Jiya yang baru bangun tidur melihat ke sebelahnya, dimana itu adalah tempat Alex merebahkan tubuhnya.
“Sejauh mana hubungan mu dengan wanita itu bang?” Jiya yang cemburu membayangkan banyak hal di kepalanya mengenai apa yang di lakukan suaminya dengan saingannya.
“Hiks... Ya Allah apa yang harus ku lakukan?” Jiya menangis sesenggukan.
Saat ia masih dalam berduka tiba-tiba handphonenya berdering.
Jiya yang mendengarnya pun bangkit dari duduknya, kemudian ia menyela air matanya lalu mengambil handphone yang ada di atas meja hang ada di sebelah ranjangnya.
“Lili?” ternyata itu telepon dari sahabatnya, ia yang butuh tempat mencurahkan hati dengan cepat mengangkatnya.
__ADS_1
Halo Li? 📲 Jiya.
Halo Ji, 📲 Lili.
Kok lama banget menghubungi ku? Aku dari menunggu mu loh, 📲 Jiya.
Maaf Ji, aku baru selesai kerja, oh ya sekarang kau ada dimana? 📲 Lili.
Masih di rumah, kau sendiri? 📲 Jiya.
Ini lagi di atas motor, kita bertemu dimana nih? 📲 Lili.
Di kafe @Saya_muchu saja, 📲 Jiya
Oke, aku berangkat sekarang, kau juga ya Ji, kalau kau kurang sehat sebaiknya minta di antar supir, oke?! 📲 Lili.
Iya Li, terimakasih banyak, 📲 Jiya.
Sama-sama, bye-bye! 📲 Lili.
Bye, 📲 Jiya.
Setelah sambungan telepon selesai Jiya yang patah hati dan berkabung malas untuk mandi.
Ia hanya mengganti pakaian dan menyisir rambutnya.
Setelah itu ia beranjak dari kamar menuju garasi untuk mengambil mobil.
Setelah ia sudah ada dalam mobil Jiya yang menyetir sendiri menyalakan mesin mobil lalu meluncur keluar area rumah dan membela jalan raya yang padat akan kendaraan.
Setelah 10 menit dalam perjalanan akhirnya Jiya sampai di kafe tersohor di kota ia tinggal.
Jiya pun mematikan mesin mobilnya di parkiran khusus mobil yang ada di depan kafe.
Setelah itu Jiya keluar dari mobil lalu berjalan menuju pintu utama kafe yang memiliki 2 lantai dan bertemakan bangunan rumah adat jepang.
Jiya yang baru masuk ke dalam kafe mendapat pesan elektronik baru dari sahabatnya.
Di room 5, ✉️ Lili.
Oke, ✉️ Jiya.
__ADS_1