
“Ada-ada saja mereka!” Jiya sempat ingin menghapus photonya namun ia tak melakukannya, sebab ia merasa itu tidak perlu di lakukan.
“Memangnya kalian siapa?” Jiya sama sekali tak suka pada teman alumni yang sering menyakiti hatinya.
Bahkan saat bertemu di jalan Jiya tak mau menyapa, bukan karena ia sombong, melainkan takut di ledek atau di bongkar aibnya di depan umum.
Karena Jiya tahu betul tak ada yang benar-benar baik padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ternyata Dilan yang sedang berbaring di ranjangnya telah membaca semua komentar yang ada di feed terbaru Instagram mantannya.
Ia yang semula ragu menjadi yakin akan kebenaran cerita Jiya.
Ia juga sebelumnya sudah melaporkan kata-kata jahat dan tak pantas di baca pada pihak Instagram.
Dilan yang merasa bertanggung jawab langsung mendial nomor Jiya.
Jiya yang melihat panggilan masuk dari Dilan langsung mematikannya.
“Tega benget sih dia, pada hal aku hanya ingin menghiburnya.” Dilan mengusap rambutnya karena merasa pusing.
“Bagaimana aku bisa menebus kesalahan ku kalau dia saja menghindar?” bagaimana pun Dilan ingin melakukan sesuatu agar dapat mengurangi beban bersalah di hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Ganggu saja, sudah ku bilang jangan hubungi aku lagi.” untuk menghindari komentar negatif dari tangan netizen yang tak bertanggung jawab Jiya pun menonaktifkan kolom komentarnya.
Selanjutnya wanita cantik dan ulet itu pun istirahat karena esok hari ia harus bekerja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lili yang masih setia menemani Alex kini tidur di sebelah ranjang suaminya yang muat untuk dua orang.
Keduanya pun asyik menonton film komedi seraya memakan cemilan keripik ubi pedas.
“Hahaha... lucu banget ya sayang, si Joni asli receh banget.” ucap Lili seraya tertawa terbahak-bahak.
“Benar, masa meninggalkan istrinya yang belum masuk mobil? Hahaha... ada-ada saja.” Alex pun tertawa ceria.
Ketika keduanya sedang asyik menyaksikan scan-scan yang menggelitik perut tiba-tiba Alex ingin buang air besar.
Puuutt...
Ia pun buang gas berulang kali yang membuat Lili menoleh kepadanya.
“Mas, kau mau buang air ya?” ucap Lili seraya menutup hidungnya.
“I-iya sayang maaf ya kalau kau merasa terganggu, tapi tenang saja aku akan memanggil perawat,” ucap Alex.
Lalu Alex yang telah menyimpan nomor perawat yang sebelumnya membersihkannya dengan cepat mendial nya.
__ADS_1
Halo mas, tolong cepat datang ke ruangan ku, aku sangat membutuhkan bantuan mu, 📲 Alex.
Baik pak, 📲 Perawat.
Terimakasih banyak mas, 📲 Alex.
Sama-sama pak, 📲 perawat.
“Tenang saja sayang, semua telah teratasi,” ujar Alex.
“Syukurlah mas.” lalu Lili pun turun dari atas ranjang karena tak tahan dengan bau Alex yang membuat kepalanya pusing.
“Kau mau kemana sayang?” Alex memegang tangan Lili agar tetap berbaring di sebelahnya.
“Aku mau keluar sebentar mas untuk cari angin, perut ku mual sekali.” Lili menghindari suaminya.
“Baiklah, jangan lama-lama ya sayang.” Alex tahu jika Lili jijik padanya.
Tapi ia tak marah karena ia merasa yang di lakukan Lili sangat wajar.
“Iya mas.” kemudian Lili beranjak menuju pintu, saat tangannya akan menyentuh handle pintu tiba-tiba seorang perawat pria membuka pintu terlebih dahulu.
“Maaf bu, saya tidak sengaja,” ucap si perawat.
“Iya, enggak apa-apa mas,” sahut Lili.
“Apa ibu keluarga pasien?” tanya si perawat.
“Oh iya, kalau begitu ayo masuk ke dalam bu.” si perawat pun mengajak Lili untuk menuju Alex.
“Tapi saya mau keluar sebentar mas, nanti saja ya mas.” Lili berniat ingin tetap pergi.
“Jangan kemana-mana dulu bu, kemari sebentar.” si perawat tak mengizinkan Lili pergi.
“Apa lagi sih mas? Kan saya sudah bilang nanti, susah banget sih di bilangin.” Lili kesal pada perawat yang menyuruhnya tetap masuk.
“Saya suruh kesini karena ibu harus membantu pak Alex ke kamar mandi,” ucap si perawat.
“Kok jadi saya sih mas? Itukan tugas mas sebagai petugas rumah sakit ini.” Lili jelas tak mau melakukannya.
“Iya benar, tapi itu kalau si pasien tidak mempunyai keluarga,” ucap si perawat.
“Saya enggak mau! Untuk apa bayar mahal-mahal kalau masih repot mengurus pasien kalian sendiri!” Lili menolak dengan keras karena ia merasa itu bukan kewajibannya.
Hati Alex merasa sedikit sakit saat istri yang ia sayang tak mau merawatnya.
“Tapi inikan suami ibu, itu gunanya ibu sebagai keluarga,” ucap si perawat.
“Enggak mau! Sekarang aku mau nanya, biaya rumah sakit bisa nawar enggak?” mata Lili membelalak sempurna pada si perawat.
“Tidak bu.” sahut si perawat seraya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Nah! Harus sesui ketentuan yang telah di patok kan? Kalau begitu jangan suruh saya atau pun keluarga pasien lainnya untuk melakukan apapun karena itu adalah kewajiban kalian, uuh!! Dasar menyebalkan!” pekik Lili.
Setelah itu Lili keluar dari ruangan Alex dengan langkah yang kasar.
Tes!
Air mata Alex mengalir karena ia merasa tak di hargai oleh Lili.
Kenapa Li? Pada hal aku sangat menyayangi mu, semua telah ku beri, bahkan aku menipu Jiya yang jelas sangat mencintai ku, batin Alex.
Si perawat yang melihat Alex menangis merasa iba, ia pikir Alex adalah suami yang di telantarkan.
“Sabar ya pak, semoga istri bapak cepat berubah dan mau merawat bapak,” ucap si perawat.
Lalu Alex mendongak dan berkata pada si perawat.
“Terimakasih banyak mas,” sahut Alex.
Lalu perawat itu pun membantu Alex membuka pempers dan membersihkannya dengan tisu sarung tangan sampai bersih.
“Diare bapak sudah berkurang, mungkin besok sudah bisa pulang, semangat ya pak.” perawat itu tersenyum pada Alex.
“Terimakasih banyak mas.” Alex merasa bersyukur setidaknya perawat itu mau berbaik hati padanya.
Setelah selesai menjalankan tugasnya sang perawat pun keluar dari dalam ruangannya.
Lili yang ternyata duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan Alex melihat kepergian perawat itu.
“Akhirnya manusia alien itu minggat juga.” Lili merasa senang, karena ia tak harus berhadapan dengan pegawai rumah sakit cerewet itu lagi.
Kemudian Lili bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam ruangan Alex.
“Mas.” Lili terkejut saat melihat suaminya berurai air mata.
Ia pun mendekat lalu duduk di pinggir ranjang Alex.
“Kau kenapa mas? Kenapa malah menangis? Apa perawat itu berkata kasar pada mu?” Lili tak sadar dialah penyebab air mata Alex pecah.
“Kenapa?” Alex menatap tajam mata Lili.
“Apa mas?” Lili mengelus punggung suaminya.
“Kenapa kau malah pergi meninggalkan ku?” Alex merajuk pada Lili.
“Aku lelah mas, lagi pula kau buang air besar, enggak mungkin aku yang membersihkan mu, akukan baru sakit mas, nanti kalau aku terjangkit penyakit mu bagaimana?” Lili tetap mengatakan isi hatinya tanpa memikirkan perasaan Alex, hal itu berhasil membuat hati Alex semakin perih.
“Kalau begitu pulanglah, aku bisa sendiri disini.” lalu Alex merebahkan tubuhnya ke ranjang dan membuang wajahnya karena ia tak mau melihat Lili.
“Ya sudah, aku pergi dulu mas, besok setelah pulang kerja aku akan datang kesini untuk menjenguk mu.” kemudian Lili turun dari atas ranjang, tak lupa ia mengambil bekas kotak makan anti tiris sebagai wadah sup ayam yang ia bawa tadi.
__ADS_1