Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Di Usir


__ADS_3

Kemudian Kinan pun membuka kaca mobilnya bermaksud untuk memberikan sedekah uang.


“Mama!” Jiya makin terisak setelah dua tahun lebih tak melihat wanita yang melahirkannya ke dunia.


“Ji-Jiya?” Kinan ragu menyebutkan nama putrinya karena ia benar-benar tak mengenali Jiya yang kini buruk rupa.


“Iya ma, ini Jiya.” Jiya yang rindu ingin memeluk ibunya.


Tangannya yang jenjang pun mencoba membuka pintu mobil yang ada di sebelah ibunya.


“Jangan pegang!” Kinan tak mengizinkan Jiya menyentuh mobilnya.


“Ma, aku rindu hiks...” Jiya merasa sedih dengan tanggapan dingin ibunya.


“Kinan yang iba dan tak tega melihat air mata putrinya akhirnya luluh.


Ceklek!


Ia pun membuka pintu mobilnya dengan menahan air matanya.


“Masuklah,” ujar Kinan


Dengan cepat Jiya masuk ke dalam mobil dan memeluk ibunya.


“Mama! Maafkan Jiya sudah meninggalkan rumah.” Jiya menyesal telah menentang keluarganya.


Kinan tak menjawab apapun yang di katakan putrinya, karena ia masih sakit hati pada Jiya yang telah mengabaikan nasehatnya di masa lalu.


“Jalan pak,” titah Kinan.


Kemudian mobil mewah itu mengantarkan Kinan dan Jiya sampai ke pintu utama, kemudian keduanya pun turun dan masuk ke dalam rumah.


Karena hari itu sudah sore Kinan pun


membawa putrinya ke meja makan.


“Kau pasti belum makan kan Jiya?” ucap Kinan.


“Iya ma.” sahut Jiya dengan malu-malu.


“Ayo kita makan dulu baru bicara.” Kinan pun mengambil nasinya dan putrinya.


Sudah lama sekali aku enggak duduk di kursi makan ini, batin Jiya.


Ketika ia membuka tudung saji ia pun melihat menu favoritnya yaitu rendang daging sapi dan juga sayur asem.

__ADS_1


Kinan yang telah meletakkan nasi di hadapan Jiya pun berkata.


“Makanlah Ji, kalau kurang katakan pada mama,” ucap Kinan.


Kemudian Jiya tanpa sungkan mengambil banyak potongan daging ke dalam piringnya yang besar tak lupa ia juga mengbil sayur asem yang terlihat baru matang.


“Aku makan ya ma.” setelah meminta izin Jiya pun melahap semua makanan yang ada dalam piringnya dengan cepat.


Kinan yang melihat hal itu pun tahu jika putrinya seperti yang ia takutkan selama ini.


Ternyata hidupnya susah, batin Kinan.


“Pelan-pelan saja Jiya, tidak akan ada yang merebut makanan itu dari mu,” ujar Kinan.


“Iya ma. Oh ma apa aku boleh tambah?” Jiya yang lapar dan rindu masakan rumah meminta nasi lagi.


“Iya, ambil saja.” ucap Kinan dengan menahan perih di matanya.


Kali itu Jiya makan dengan sangat lahap ia terus minta tambah sampai membuat ibunya terperangah.


Setelah selesai makan Jiya dan Kinan pun menuju ruang tamu untuk mengobrol.


Kebetulan saat itu Tommy dan Amir sudah pulang dari kantor.


Mereka yang melihat Jiya menatap penuh ragu, sebab Jiya nampak tua dan hampir saja mereka tak mengenalinya.


“Papa, Jiya pulang.” Jiya memeluk ayahnya.


Amir yang masih keheranan tak dapat berkata apapun, sebab Jiya terlihat sangat menyedihkan.


“Kenapa kau kembali lagi?” tanya Tommy dengan nada sinis.


Sontak Jiya melepas pelukannya dari ayahnya dan menoleh ke arah Tommy.


“Abang, maafkan aku karena tak patuh dan memilih kawin lari.” ketika Jiya akan memeluk Tommy, pria tegas itu pun menghindar.


“Aku sudah lama menganggap mu mati.” kata-kata menyakitkan Tommy membuat Jiya tak berani mendekat.


“Tommy, jaga kata-kata mu, jangan kasar begitu pada adik mu,” ucap Kinan.


Mendengar ibunya membelannya membuat hati Jiya sedikit terobati.


Tommy pun mengunci mulutnya lalu menuju sofa untuk duduk.


“Apa tujuan mu kemari?” tanya Amir yang masih berdiri di hadapan Jiya.

__ADS_1


“Aku ingin tinggal disini lagi, aku menyesal menikah dengannya, maafkan aku papa, mama dan abang, aku mengaku salah dan aku keliru sudah termakan rayuannya selama ini.” Jiya mengakui kesalahannya yang telah ia lakukan.


“Hei-hei! Ayo kalian duduk dulu, mana baik bicara sambil berdiri,” ujar Kinan.


Jiya dan ayahnya pun berjalan ke sofa, lalu duduk dengan posisi Amir di sebelah Kinan sedang Jiya dan Tommy duduk di sofa yang berbeda.


“Jadi kau ingin tinggal disini? Maksudnya bagaimana?” Amir memperjelas pernyataan putrinya.


“Aku akan cerai dengan Alex pa.” Jiya mengungkapkan keinginannya.


“Pertahankan rumah tangga mu Jiya, karena pria itu adalah pilihan mu, dulu kami sudah memperingatkan mu tapi kau malah membantah, parahnya malah pergi kawin lari.” ucap Amir dengan tegas.


“Papa benar aku mohon maaf pa, tapi aku minta tolong banget, jangan usir aku dari sini, aku mohon aku akan patuh apapun yang kalian semua katakan,” ujar Jiya.


“Jiya jangan mengada-ngada ya, sejak kepergian mu mama sakit selama 3 bulan pikirkan itu! Badannya kurus dan tak selera makan dan sekarang kau ingin disini setelah membuat keluarga ini kacau?! Maaf saja ya! Perjuangkan hidup mu dengan suami pilihan mu itu!” Tommy menolak adiknya untuk berkumpul lagi bersama mereka.


“Mama... hiks...” Jiya bangkit dari duduknya dan bersujud di kaki ibunya.


“Aku enggak tahu karena ulah Jiya mama jadi sakit-sakitan, hukum aku sesuka hatimu ma asal jangan usir aku dari sini, aku enggak mau bersama laki-laki itu lagi.” Jiya sangat berharap ibunya mengizinkan ia tinggal di rumah mereka lagi.


“Mama sudah memaafkan mu Jiya, mama juga sadar kalian saling mencintai.” kemudian Kinan mengeluarkan cek dari dalam tas kerjanya dan ia pun menulis 30 juta dalam cek itu.


“Bawa ini.” Kinan menyerahkan cek berisi uang itu pada putrinya.


“Ini apa ma?” tanya Jiya kebingungan.


“Modal mu, pikirkan kira-kira usaha apa yang cocok untuk kau geluti, kau mau cerai atau tidak dengan suami mu, itu urusan mu yang jelas kau tidak boleh tinggal di rumah ini lagi.” luka yang hati yang Jiya toreh belum sembuh membuat Kinan tak dapat menerima putrinya.


“Mama mu benar, sekarang kau bisa pulang mumpung belum terlalu malam.” Amir mengusir putrinya meski sudah keadaan gelap.


“Apa enggak bisa aku pulang besok saja pa?” Jiya yang rindu suasana rumahnya berencana ingin menginap satu malam disana.


“Tidak bisa,” ucap Amir.


Mendengar jawaban ayahnya Jiya sangat terguncang, ia pun dapat membuktikan kalau dirinya benar-benar di buang dan tak di anggap keluarga.


Tommy yang ingin adiknya segera meninggalkan rumah mereka pun berkata.


“Biar aku yang antar.” Tommy pun bangkit dari duduknya.


“Hati-hati di jalan Jiya.” salam perpisahan yang Kinan ucapkan membuat Jiya tak punya alasan untuk tetap disana.


Ia pun menghapus air matanya dengan ujung tangan baju panjangnya.


Kemudian ia bangkit dari sofa dan menjabat tangan ibu dan ayahnya.

__ADS_1


“Aku pergi ma, pa.” dengan berat hati dan sejuta duka yang ada dalam hatinya Jiya meninggalkan rumah masa kecilnya tersebut.


Kinan sendiri sebenarnya merasa tidak tega, namun ia ingin memberi efek jera sampai Jiya benar-benar yakin untuk berpisah dari Alex.


__ADS_2