
Jiya pun mengarahkan lensa kameranya ke wajah Lili.
“Berhenti bodoh!” Lili pun mencoba merebut handphone Jiya, namun Jiya yang cekatan dengan cepat menghindar.
“Berhenti merekam Jiya! Kalau kau sampai mengunggah video itu ke media sosial, aku akan melaporkan mu ke kantor polisi atas pelanggaran Undang-undang ITE!” Lili yang bersalah masih berani mengancam Jiya.
“Benarkah? Coba saja kalau kau punya nyali!” karena Lili menantang Jiya pun semakin berani.
“Iya! Dan kau akan menyesal telah melakukannya! Aku adalah istri sahnya! Harusnya kau kaji diri kenapa suami mu bisa menikah lagi jelek!” Lili tak segan-segan menghina Jiya di hadapan semua orang.
“Iya, kau benar Lili, aku memang sangat berterima kasih pada mu karena kau telah membuat ku sadar kalau laki-laki laknat ini tidak pantas untuk ku, dia!” Jiya yang emosi menginjak pergelangan kaki Alex dengan kuat.
“Harus ku lepas secepatnya!” pekik Jiya.
“Singkirkan kaki mu!” Lili pun melepas kaki Jiya dari Alex.
“Sakit! Sudah kalian berdua, jangan berkelahi lagi!” Alex yang baru sembuh tiba-tiba merasa kalau diare nya kambuh lagi.
“Ku minta kalian pergi dari rumah ku! Dan kau Alex, tunggu surat cerai dariku!” Jiya pun menendang lutut Lili dan Alex secara bergantian.
“Aku tidak akan pergi, aku juga punya hak di rumah ini!” Alex yang numpang hidup pada Jiya tak mau angkat kaki.
“Enak saja! Selama inikan aku yang kerja, bukan kau!” pekik Jiya.
“Hei Jiya! Jangan mentang-mentang semua atas nama mu kau jadi mengusir mas Alex, mas Alex juga punya bagian!!” Lili yang ingin mendapatkan hartakan Jiya membela suaminya.
“Kalian berdua benar-benar cocok, sama-sama pemalas!” lalu Jiya memberikan handphonenya pada Winda.
“Pegang sebentar bi, jangan lupa arahkan kamera pada kami,” titah Jiya.
Winda yang tak ingin kena getah dari hasil perbuatan Lili dan Alex pun melakukan apa yang di minta majikannya.
“Kalau enggak mau keluar dengan cara baik-baik, berarti kalian harus terima pakai cara kasar, Hera, Mirna! Kalian berdua seret laki-laki sialan ini, dan kau!” Jiya membungkuk lalu menggenggam rambut hitam tebal Lili.
“Harus meninggalakan rumah ini!” Jiya pun tersenyum menyeringai, lalu ia berdiri seraya menjinjing rambut Lili.
Rap!
__ADS_1
“Lepas! Mas Alex tolong aku!!” teriak Lili kesakitan, karena tangan Jiya yang kuat menarik rambut Lili tanpa belas kasihan.
“Jiya! Lepaskan Lili!” Alex yang ingin bangkit dari lantai harus menghadapi 2 artnya yang bertubuh besar.
“Ayo tuan.” Heran memegang tangan kiri Alex sedangkan Mirna di tangan kanan.
“Apa-apaan kalian? Jangan sentuh aku!” Alex mencoba melepaskan tangannya dari Mirna.
Namun Mirna yang hanya taat pada perintah siapa yang mempekerjakannya tak mau mendengarkan Alex.
“Ayo angkat dia!” ucap Mirna.
“Oke.” Hera pun mengencangkan pegangannya di lengan Alex.
Kemudian dua wanita itu mengangkat tubuh jenjang Alex untuk berikut.
“Kurang ajar kalian berdua! Beraninya pembantu rendahan seperti kalian memperlakukan ku seperti ini! Lepas!” teriak Alex.
Meski begitu Mirna dan Hera tak perduli dengan apa yang di katakan Alex.
Mereka berdua terus menuntun Alex dengan langkah yang sedikit pincang menuju pintu utama.
Sesampainya di teras Jiya pun melepaskan rambut Lili.
Lili yang akan berdiri di dorong Jiya sampai terjatuh ke tanah. “Hiks... kasar! Tuhan enggak tidur Jiya, akan ada balasan untuk mu yang sudah menganiaya ku dan mas Alex! Kau pasti menerima balasannya!” Lili menangis histeris, selain malu pada pekerja yang melihatnya, ia juga tak rela jika kehilangan harta Jiya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
“Ku tunggu karma dari Tuhan! Tapi ku rasa sekarang kau harus memikirkan nasib mu ke depannya karena mulai sekarang kau dan suami mu!” Jiya menunjuk Alex yang di papah oleh Mirna dan Hera.
“Ku pecat! Jadi selamat menikmati rumah tangga yang indah dan tentram tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi!” Jiya pun bersedekap seraya menatap angkuh pada dua orang yang telah menyakitinya.
Alex yang tahu itu akan menjadi masalah besar malah melakukan tindakan yang sangat memalukan.
“Jiya! Aku minta maaf sayang, aku janji akan mencintai mu seorang sampai mati, kau adalah segalanya untuk ku.” Alex mulai menjilat ludahnya.
“Makan cinta mu! Setelah kau hampir membunuh ku kau malah bilang sayang pada ku?! Cih!” Jiya mendorong tubuh Alex agar segera pergi dari rumahnya.
“Mati sana! Lebih baik janda dari pada punya suami tukang pukul, beban istri dan suka main perempuan!” Jiya yang sudah kenyang akan kata-kata Alex yang melebihi manisnya madu tak mau memberi kesempatan lagi.
__ADS_1
“Mas Alex! Jadi kau lebih memilih dia dari pada aku? Dasar jahat! Aku benci pada mu!” Lili yang ingin menghindari tanggung jawab dengan cepat naik ke atas motornya.
“Aku enggak akan memaafkan mu mas!” kemudian Lili menyalakan mesin motornya, selanjutnya ia tancap gas meninggalkan rumah Jiya.
Ku serahkan laki-laki bodoh itu pada mu Jiya, kalau harus aku yang memberinya nafkah, lebih baik dia ku ceraikan! batin Lili.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Istri mu sudah pergi tuh! Kejar dia, lumayan kan dari pada enggak ada sandaran sama sekali? Jangan di sini lagi atau ku buat kau babak belur!” kemudian Jiya balik kanan seraya berkata pada satpamnya yang baru datang ke teras.
“Buang dia ke jalanan!” titah Jiya.
“Siap bu!” si satpam pun memegang kedua bahu Alex.
“Maaf pak.” saat Marwan akan menarik tubuh Alex.
Alex malah berteriak keras pada Marwan yang menyentuhnya.
“Lepaskan tangan kotor mu dariku! Ini rumah ku, yang menggaji mu adalah aku!” Alex yang jatuh miskin takut tak dapat makan di luar sana.
“Saya tahu pak, tapi ini perintah bu Jiya, tolong kerja samanya.” sampai tahap itu Marwan masih menghargai Alex.
“Jiya itu istri ku, aku adalah pemilik rumah ini, pergi kau!” Alex yang tak ingin mau malah ingin masuk kembali ke dalam rumah.
“Maaf pak!” Marwan yang ingin melaksanakan perintah sang nyonya memeluk Alex dari belakang.
“Lepaskan aku biadab! Kau tak layak melakukan ini pada ku!” Alex yang akan meronta malah tak bisa berbuat apapun.
Karena Marwan yang bertubuh kekar bagai binaragawan mengunci ruang gerak Alex.
“Marwan! Lepaskan aku! Jangan macam-macam ya!” pekik Alex.
“Diamlah pak.” setelah sampai di luar gerbang rumah, Marwan baru melepaskan Alex dari dekapannya.
Kemudian Marwan menarik pagar besi berwarna hitam itu sampai tertutup rapat.
Alex pun menatap tajam mata Marwan yang masih mengawasi gerak geriknya.
__ADS_1
“Setelah aku memiliki rumah ini lagi, kau akan ku tendang!” Alex yakin jika ia bisa bersama Jiya kembali.