
Mendengar suara teriakan mertuanya, Alex pun datang ke kamar.
“Apa yang terjadi bu?!” melihat Lili yang telah pingsan Alex yang berdiri di depan pintu langsung masuk.
“Lili kenapa bu?!” tanya Alex seraya menggendong Lili ala bridal style.
”Enggak tahu Lex, tiba-tiba saja dia pingsan, gimana dong Lex?” Rosa bingung harus berbuat apa.
“Kita bawa ke rumah sakit sekarang bu,” ucap Alex.
“Eh, enggak usah Lex, kita panggil bidan saja.” Rosa tidak setuju karena ia takut uang tabungan putrinya berkurang.
“Tapi bu, Lili butuh pertolongan, kita juga tidak tahu sebenarnya dia sakit apa.” Alex sangat khawatir pada istrinya.
“Tenang saja, paling dia cuma kecapean, ayo! Bawa dia ke ranjang,” titah Rosa.
Meski Alex tidak rela Lili tak mendapat penanganan dari dokter secara langsung namun ia tak bisa membantah mertuanya yang tidak memberi izin istrinya ke rumah sakit.
Setelah Alex mendaratkan tubuh istrinya ke ranjang, Rosa pun mendial nomor bidan yang menjadi langganan putrinya kalau sakit.
Halo Ida, tolong datang ke rumah sekarang juga, Lili sedang sakit, 📲 Rosa.
Baik bu, 📲 Ida.
Setelah sambungan telepon terputus Rosa pun mengambil minyak kayu putih yang ada di laci bufet yang ada di dekat lemari baju Lili.
Setelah itu Rosa mengoleskan minyak kayu putih itu ke sekitar hidung Lili.
“Ayo Lili, bangun nak.” Rosa pun memijat kepala Lili.
“Bu, kita ke rumah sakit saja ya, kasihan Lili.” Alex masih bersikeras agar istrinya boleh di bawa ke rumah sakit.
“Dari pada mengoceh tak jelas lebih baik kau pijat kakinya!” Lili kesal pada Alex yang tak mau diam.
“Ba-baik bu.” Alex pun mengikuti apa yang di katakan mertuanya.
Keduanya pun sibuk memijat bagian tubuh Lili hingga tak terasa Lili pun sadar dari pingsannya.
“Kalian lagi ngapain?” Lili yang lupa kejadian sebelumnya bingung dengan aksi suami dan ibunya.
“Tadi kau pingsan.” ucap Rosa seraya menghentikan pijatannya.
“Kau baik-baik sajakan sayang? Bagian mana yang sakit?” Alex menunjukkan perhatiannya pada Lili agar mau menerimanya.
“Apa sih mas, jangan dekat-dekat pada ku ya!” bukannya senang Lili justru merasa tak nyaman akan kebaikan Alex.
__ADS_1
“Sayang, sudahlah! Jangan marah pada ku, aku ini suami mu.” Alex membujuk Lili yang cemberut.
“Pergi kau mas, aku enggak suka melihat mu ada disini.” Lili mengusir suami yang telah berjasa padanya selama ini.
“Ya ampun Lili! Kau itu berisik sekali ya! Alex, kalau kau benar-benar mencintai Lili, lakukan apa yang ibu katakan, besok kau harus pergi ke notaris, buat surat pengalihan harta, kalau kau berhasil kau akan tetap bersama dengan Lili, kalau gagal, jangan salahkan ibu kalau tidak membela mu lagi.” Rosa mengatakan persyatan untuk tetap bersama putrinya
Alex yang mendengar itu tersinggung dan merasa di manfaatkan oleh dia orang yang sayangi selama ini.
“Baik bu.” Alex pura-pura menurut, karena bagaimana pun ia butuh tempat berteduh.
“Bagus, semoga kau berhasil,” ucap Rosa.
Saat mereka akan lanjut berbincang tiba-tiba Ida sang bidan pun datang yang di antar oleh art.
“Assalamu'alaikum bu.” Ida memberi salam.
“Walaikumsalam, silahkan masuk bu Ida.” Rosa mempersilahkan Ida untuk masuk.
Kemudian Ida masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir ranjang Lili.
“Sakit apa bu?” tanya Ida dengan nada yang lembut pada Lili.
“Aku juga enggak tahu bu, tiba-tiba kepala ku pusing, lalu aku pingsan begitu saja, kemarin juga aku demam,” terang Lili.
“Ole, kalau begitu kita periksa dulu ya bu.” kemudian Ida melakukan serangkaian pengecekan pada Lili.
“Sudah 2 bulan saya enggak dapat bu, mungkin karena kecapean bu,” ujar Lili.
“Oh, ibu masih ingat tanggal terakhir hari pertama haidnya bu?” ucap Ida.
“Kalau enggak salah 17 Agustus kemarin bu,” jawab Lili.
“Sekarang 18 Oktober, berarti sudah 10 minggu,” gumam Ida.
“Maksudnya apa bu?” tanya Lili dengan perasaan bingung.
“Iya, maksudnya bagaimana bu Ida?” tanya Rosa dengan penasaran penuh.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan, bu Lili sedang hamil 10 minggu, selamat ya bu, pak.” Ida menjabat tangan Lili dan Alex.
Duar!
Bak kejatuhan durian runtuh di atas kepala, Lili merasa itu adalah sebuah kemalangan yang begitu besar, sebab ia sama sekali tak menginginkan anak itu ada di dunia ini, apa lagi kondisi keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja.
Namun berbeda hal dengan Alex, ia merasa sangat bahagia karena ia telah lama menantikan si buah hati.
__ADS_1
“Ibu serius?” mata Alex berkaca-kaca karena terharu.
“Iya pak, semoga bayi yang ada dalam kandung bu Lili panjang umur dan sehat selalu, saya kasih obat dan vitamin untuk bu Lili dulu ya pak.” Ida pun mengambil 1 botol folic Acid, obat mual dan demam untuk Lili.
“Folic Acid nya di minum 1 kali sehari ya bu, yang demam 3 sampai 4 kali sehari.” terang Ida.
“Terimakasih bu.” wajah Lili semakin pucat setelah mendengar kabar itu.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya bu, pak.” setelah selesai menjalankan tugasnya Ida pun beranjak pergi yang di antar oleh Rosa ke pintu utama.
Lili yang tinggal berdua dengan Alex mulai mengatakan rencana gilanya.
“Aku enggak mau anak ini,” ungkap Lili.
“Apa-apaan kau?! Itu anak ku juga, jadi aku berhak menentukan masa depannya.” Alex tidak setuju dengan rencana Lili.
“Tapi aku belum siap hamil mas!” Kalau anak ini sampai lahir pasti biaya hidupnya mahal, beli susunya, sun nya, popoknya, sekolahnya, akh!! Aku enggak bisa kalau harus menanggung itu semua mas, Alex!” Lili tetap ingin mengugurkan anaknya.
“Aku akan bertanggung jawab.” Alex menyakinkan Lili kalau ia bisa menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk Lili dan calon buah hati mereka.
“Dengan cara apa? Hah?! Kau saja pengangguran mas, kalau aku cari kerja tidak akan ada orang yang mau menerima ku, karena aku hamil, sampai sini kau mengerti kan?!” Lili membentak Alex.
“Aku akan menguasai harta Jiya, aku berjanji, ini demi keluarga kecil kita.” Alex pun memeluk Lili yang mulai menangis karena putus asa.
“Apa kau serius mas?” ucap Lili, karena ia ragu suaminya bisa melakukan itu.
“Iya sayang.” Alex yang bersemangat bertekad dengan sungguh-sungguh untuk merebut harta istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dilan yang baru selesai makan malam kembali ke kamarnya.
“Apa dia masih marah pada ku?” Dilan pun membuka handphonenya lalu duduk di atas ranjang.
“Coba ku telepon ” Dilan mencoba mendial nomor kekasihnya.
Namun sayang nomor Fitri sang calon tunangan belum aktif juga.
“Belum nikah saja sudah begini, bagaimana kalau sudah sah, salah sedikit pasti merajuk.” Dilan berpikir kalau ia dan Fitri tidaklah cocok.
“Biarkan sajalah.” Dilan yang selalu membujuk kali itu tak perduli pada kekasihnya yang selalu jual mahal.
Saat ia akan merebahkan tubuhnya handphonenya pun tiba-tiba berdering.
Ketika Dilan melihat layar handphonenya, ia terkejut karena itu adalah telepon dari Jiya.
__ADS_1
“Tumben dia menelpon ku?” takut ada yang penting Dilan pun menerima panggilan dari Jiya tersebut.