Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Karena Surat-surat


__ADS_3

Fit, kenapa kau menangis? 📲 Dilan.


Ini semua karena mu, 📲 Fitri.


Memangnya aku melakukan apa? 📲 Dilan.


Kenapa kau bertemu wanita yang bernama Jiya itu? Pakai gendong di depan umum segala lagi, apa maksud mu, hah? 📲 Fitri.


Fit, itu enggak seperti yang kau bayangkan, aku melakukannya karena dia hampir di tabrak becak, lagi pula aku bukan sengaja menemuinya, 📲 Dilan.


Bohong! 📲 Fitri.


Aku jujur Fitri, untuk apa aku berbohong, Golden Market dan Lee Jiya berseberangan, jadi wajar saja kalau kami bertemu, 📲 Dilan.


Diakan kompetitor mu, harusnya kau jangan ramah-ramah padanya, lagi pula aku enggak suka, hargai aku dong Dilan, kau tahukan kalau aku enggak suka kau dekat dengan wanita lain? Ini sebabnya aku melarang mu pergi jauh, 📲 Fitri.


Fitri, kau enggak bisa melarang ku ini dan itu, lagi pula aku enggak ada apa-apa dengan Jiya, 📲 Dilan.


Pokoknya aku enggak suka, jangan pernah kau ulangi lagi, kalau enggak kita putus! 📲Fitri.


Untuk yang ketiga kalinya Fitri mengancam Dilan dengan alasan yang sama yaitu cemburu buta karena wanita yang bukan siapa-siapanya.


Fit, kau jangan asal ucap kata itu, sebentar lagi kita mau tunangan loh, 📲 Dilan.


Aku enggak mau tahu, lihat saja kalau kau masih berani melanggar, kita putus, ingat itu! 📲 Fitri.


Fit, Fitri! 📲 Dilan.


Ternyata Fitri telah mematikan sambungan telepon mereka.


“Ya ampun Fitri! Kenapa kau selalu membuat aku serba salah sih!” Dilan pun mencoba mendial nomor kekasihnya lagi namun sayangnya tak aktif lagi.


“Masih pacaran saja sudah begini, bagaimana kalau sudah menikah? Jangan-jangan salah sedikit minta cerai atau pulang ke rumah orang tuanya.” Dilan memikirkan kembali hubungannya dengan Fitri.


Ia yang ingin menikah sekali seumur hidup merasa ragu dan kurang yakin jika harus menikahi Fitri yang tak bisa melihat dirinya dekat dengan wanita lain, walau sekedar bertegur sapa.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Fitri sendiri tertawa puas telah menambah beban pikiran kekasihnya.


“Pasti dia akan takut dan merasa bersalah, rasakan! Kau harus tahu kalau aku enggak bisa di permainkan.” Fitri tidak tahu sifat egoisnya telah memenuhi batas kesabaran Dilan.


“Aku aktifkan malam saja, pasti dia akan memohon-mohon untuk di maafkan.” Fitri yang sengaja membuat handphonenya mode pesawat tertawa kecil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lili yang telah sampai di toko langsung menemui Alex ke ruang office tanpa melakukan pekerjaannya terlebih dahulu.


Ia pun masuk dan menutup pintu office tersebut agar tak ada yang menggangu ia mengobrol dengan suaminya.

__ADS_1


“Mas.” Lili memeluk Alex seolah tak ada masalah sebelumnya.


Alex yang terlanjur sayang malah luluh hanya karena satu pelukan dari Lili.


“Kau dari mana? Kenapa wajah mu merah sekali?” tanya Alex seraya memberi kecupan mesra di bibir istrinya.


“Itu karena aku keliling toko, sialan banget si Jiya! Tadi pagi juga dia berkata kasar pada ku, dia tak mengizinkan aku untuk masuk ke rumah, alhasil aku enggak jadi mengambil atm mu mas,” terang Jiya.


Lalu Alex pun melepas pelukannya dan menuntun Lili untuk duduk di ranjang.


“Aku juga kesal padanya, kau tahu dia tadi membawa laki-laki kemari? Aku benar-benar kesal!” Alex mengatakan isi hatinya pada istrinya.


Mendengar berita itu bukannya senang Lili justru merasa panik.


“Mas! Jangan sampai Jiya dekat dengan laki-laki itu, bisa-bisa kau di ceraikan sebelum berhasil merebut hartanya.” Lili menakut-nakuti Alex agar segera bergerak cepat.


“Kau benar juga, sebentar lagi aku akan pulang, aku akan mengambil semua surat-surat harta kami, setelah itu aku akan menghubungi mu,” ujar Alex.


“Ya sudah kalau begitu, mas pulang sekarang saja, jangan tunda lama-lama lagi,” ujar Lili.


“Oke sayang.” Alex yang ingin segera melakukan hajar jahatnya pun mencium kening istrinya terlebih dahulu, setelah itu beranjak pulang ke rumahnya.


Lili yang masih ada di ruang office itu tersenyum bahagia, karena sebentar lagi ia akan menjadi orang kaya tanpa repot berjuang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Aku harus tidur sebentar, kalau enggak bisa-bisa tensi ku makin naik dan aku tak bisa melakukan apapun lagi.” Jiya yang ingin cepat pulih memejamkan matanya untuk tidur sejenak.


15 menit kemudian Alex sampai ke rumah, ia pun masuk dan langsung menuju ruang kerja ia dan istrinya.


Ceklek!


Kriettt!!


Ternyata ruangan itu tidak di kunci, tentunya Alex tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu.


Ia pun masuk lalu menuju brangkas penyimpanan benda berharga mereka.


“Maaf Jiya, aku akan melepas mu setelah semua jadi milik ku.” Alex yang tahu sandi brangkas itu langsung menekan-nekan beberapa angka yang tepat.


Tek!


Setelah selesai, ia pun membuka pintu berangkas tersebut.


“Haah!!” mata Alex membulat sempurna saat melihat tak ada apapun dalam berangkas itu.


“Kemana perginya? Bukannya selalu ada disini?” Alex mencari kebingungan, ia juga memasukkan tangan dan kepalanya berulang kali dalam brangkas tersebut.


“Gawat! Aku harus menemukannya.” ia pun mencari ke segala sudut ruangan.

__ADS_1


Alex yang terobsesi menguasai harta istrinya dengan teliti membuka setiap selipan buku yang ada dalam ruangan itu.


Namun sayang, ia tak menemukan harta karung yang sedang ia incar.


“Akh!” Alex berteriak karena emosi.


“Dia pindahkan kemana surat-surat itu?” Alex mengendus kesal, ia juga menjadi dendam pada istrinya.


Ia yang tak ingin menyerah pun mencari keberadaan Jiya di rumah itu.


“Aku akan tanya dia langsung.” Alex pun beranjak menuju kamar, karena ia yakin istrinya selalu menetap di sana kalau sudah pulang kerja.


Alex yang telah sampai di depan kamar pun membuka handle pintu dengan pelan.


Krieeett!!


Setelah terbuka lebar ia pun melihat Jiya yang sedang tertidur pulas.


Enak banget kau tidur disini? batin Alex.


Alex pun masuk dan berdiri di sebelah ranjang lalu ia menatap tajam istrinya yang membuat amarahnya mendidih.


“Jiya, bangun kau!” pekik Alex.


Sontak Jiya membuka matanya, lalu ia pun pun melihat ekspresi tegang wajah suaminya.


“Oh, kau sudah pulang?” Jiya pun bangkit dari ranjang.


“Kau taruh dimana surat-surat yang ada di brangkas?” kali ini Alex tak berbasa-basi lagi pada istrinya.


“Untuk apa kau tanya-tanya itu? Bukannya selama ini kau tak perduli?” kemudian Jiya turun dari ranjang dan berdiri tepat di hadapan suaminya.


“Lalu? Kalau aku enggak perduli kau bisa seenaknya memindahkan surat-surat itu tanpa sepengetahuan ku?! Dimana penghargaan mu?” suara Alex makin meninggi pada istri tuanya yang selalu ia sakiti.


“Huh!” Jiya tertawa getir, kemudian ia menggerakkan lehernya kiri dan ke kanan karena pegal.


Kretek!


Kretek!


Setelah itu Jiya berkata pada suaminya yang membuat kesabarannya habis.


“Bukannya kau juga begitu pada ku? Ternyata diam-diam sudah menikah dengan Lili yang sudah ku anggap sahabat selama ini?! Dimana penghargaan mu pada ku bangsat!” Jiya menunjuk tajam pada suaminya.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2