
Bruk!
Jiya pun terduduk di jalan dengan raut wajah menahan sakit.
“Jiya!” Dilan yang sudah ada di teras supermarket pun berlari untuk menyelamatkan mantan kekasihnya dari kendaraan yang lalu lalang.
Tin tin...
Suara klakson mobil, motor dan becak memenuhi jalanan karena Jiya tak kunjung bangkit dari sana.
“Jiya...” Dilan pun menggendong Jiya ala bridal style menuju supermarket Lee Jiya.
Jiya yang di selamatkan tak dapat menatap wajah Dilan, sebab ia malu dengan perbuatan kekanak-kanakannya.
Harusnya tadi aku santai saja, batin Jiya.
Para karyawan Jiya dan Dilan yang kebetulan melihat pemandangan romantis itu malah senyum-senyum sendiri.
Mereka pun memotret keduanya dengan maksud mengabadikan momen langka tersebut.
Namun salah satu pelanggan merekam mereka, lalu dengan sengaja mengunggahnya ke Instagram dengan maksud ingin viral agar akunnya banyak di ikuti para netizen yang haus akan konten menarik setiap harinya.
Bahkan pelanggan tersebut menandai akun Instagram resmi Golden Market dan akun asli Dilan, tak cukup sampai disitu pelanggan itu juga memberi caption manis.
Dua bos yang menjadi satu, mereka telihat sangat serasi.
Fitri yang baru selesai makan siang kembali memeriksa akun kekasihnya.
“Kira-kira dia sudah unfollow engga ya?” Fitri pun membuka daftar orang-orang yang di ikuti kekasihnya.
“Alhamdulillah.” Fitri merasa lega karena Dilan mengikuti maunya.
Tangan Fitri yang masih sibuk menyelidiki aktivitas kekasihnya melihat ada seseorang yang menandai kekasihnya.
“Eh, apa ini?” Jantungnya berdegup dengan kencang saat jemarinya menekan video yang baru yang di unggah tersebut.
Tuk!
“Haaah!!” mulut Fitri menganga, matanya membulat sempurna saat melihat kekasihnya menggendong seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Lee Jiya.
Ia yang terbakar api cemburu pun menutup akun instagramnya lalu beralih ke menu telepon.
Tuk tuk!
Trutt...
Jemari Fitri yang lihai mendial nomor kekasihnya dengan sangat cepat.
Status berdering namun tak kunjung di angkat.
“Kemana dia?!” mata Fitri memerah menahan tangis.
Ia yang penasaran pun terus mendial nomor kekasihnya sampai puluhan kali.
__ADS_1
“Kau kenapa?” tanya Desi rekan kerja Fitri.
“Enggak apa-apa.” karena itu masih di tempat kerja Fitri berusaha meredam emosi dan air matanya yang ingin mengalir.
Tunggu pulang kerja, aku akan memberi mu perhitungan perempuan gatal! batin Fitri.
Ia yang tidak tahu situasi yang sebenarnya malah menyalahkan Jiya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
“Turunkan aku.” ucap Jiya dengan suara yang redup.
“Tunggu, sebentar lagi kita sampai ke office mu,” ujar Dilan.
“Yang benar saja, orang-orang melihat kita.” bisik Jiya dengan mata melotot.
“Itu karena kau cantik.” dalam posisi memalukan seperti itu Dilan masih sempat bercanda pada Jiya.
“Gila kau ya!” Jiya yang tak bisa melihat orang-orang pun membenamkan wajahnya ke dada bidang dan kekar Dilan.
Tak lama mereka pun sampai ke ruang office yang ada di lantai 2 supermarket Jiya.
Kemudian Dilan menurunkan Jiya di atas sofa berwarna cream yang ada di sudut ruangan.
“Kau enggak apa-apakan?” Dilan pun memeriksa kaki Jiya yang menggunakan sepatu hak tinggi 7 senti meter.
“Aku baik-baik saja, terimakasih banyak.” Jiya tak mengatakan kalau kakinya terkilir.
“Akh!! Sakit, apa kau mau mematahkan kaki ku?” Jiya membentak Dilan.
“Ya ampun, kalau sakit kenapa enggak bilang?” Dilan geleng-geleng kepala.
Karyawan toko yang baru datang ke office untuk menyimpan faktur pun melihat Jiya dan Dilan.
“Apa ada yang bisa ku bantu?” tanya Dino.
“Oh, apa kau bisa membeli minyak kapak ke Golden Market?” ucap Dilan seraya mengeluarkan uang 50 ribu dari saku kemejanya.
Sontak Jiya dan Dino melihat ke arah Dilan, sebab pria maskulin itu menyuruh karyawan toko Lee Jiya yang serba ada berbelanja ke kompetitor mereka.
Melihat reaksi bingung keduanya pun Dilan tertawa cekikikan.
“Ah hahaha... aku hanya bercanda, beli di bawah saja.” kemudiab Dilan memberikan uangnya, lalu ia pun menepuk punggung karyawan Jiya.
“Baik pak,” ucap Dino.
Setelah Dino pergi Dilan pun menatap wajah Jiya yang bibirnya tertutup rapat.
“Jangan tegang begitu bu.” Dilan mencolek pipi kenyal Jiya.
“Jadi kau tahu aku pemilik Supermarket ini?” Jiya mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya,” sahut Dilan.
__ADS_1
“Terus, kenapa kau malah mendirikan toko mu tepat di seberang ku?” Jiya marah pada Dilan.
“Aku baru tahu itu, lagi pula gedung itu ayah ku yang membelinya, bukan aku,” ujar Dilan.
“Menyebalkan, pada hal kalian perusahaan besar, kenapa harus menyusup ke kota kecil seperti ini sih? Harusnya kalau kau mau buka cabang baru dirikan di tempat jauh jangan di dekat ku!” Jiya yang tak profesional malah mengusir Dilan secara halus.
“Apa kau akan bahagia kalau aku tutup toko yang baru ku buka?” tanya Dilan dengan sungguh-sungguh.
“Iya!” jawab Jiya dengan asal.
“Baiklah.” Dilan menganggukkan kepalanya.
Saat keduanya masih berbincang Dino pun datang ke office membawa pesanan Dilan.
“Ini minyaknya pak.” Dino menyerahkan minyak cap kapak berukuran sedang pada Dilan.
Lalu Dilan dan Jiya pun menoleh ke arah Dino yang ada di hadapan mereka berdua.
“Terimakasih.” Dilan menerima minyak tersebut.
“Saya permisi dulu pak.” Dino yang ingin lanjut bekerja pun keluar dari ruang office tersebut.
Setelah itu Dilan duduk di sebelah Jiya, kemudian tangannya pun meraih kaki Jiya kemudian meletakkannya di atas pahanya.
“Apa yang kau lakukan?” Jiya merasa tak nyaman dengan tindakan Dilan.
“Ini harus segera di urut.” Dilan tak ingin Jiya merasa sakit dalam waktu yang lama.
”Enggak perlu, lagi pula aku bisa sendiri kok.” Jiya menolak karena ia tak ingin membuat kesalah pahaman bagi orang-orang yang melihat mereka melakukan kontak fisik.
“Biarkan aku membantu mu Ji, aku enggak akan tenang kalau meninggalkan mu dalam keadaan sakit,” ucap Dilan.
Bohong, batin Jiya.
“Dilan, aku ini sudah punya suami, dan suami ku kerja disini, kalau sampai pemandangan ini di lihat olehnya, atau ada yang menceritakannya padanya, dia pasti terluka.” meski hubungannya dengan Alex telah retak, namun Jiya masih menghargai suaminya dengan cara menjaga harga dirinya.
“Diamlah.” Dilan yang berniat baik tak perduli apapun yang di katakan Jiya.
Tangannya yang bidang pun mulai mengurut kaki Jiya dengan minyak angin panas yang dapat mengurangi rasa sakit karena terkilir, bengkak dan masuk angin.
Lalu Jiya menatap lekat Dilan yang fokus memijat kakinya.
Tiba-tiba hatinya merasa rindu akan kebaikan Dilan di masa lalu. Keduanya pun hening tak ada obrolan lagi di antara mereka.
“Jiya...” Alex yang telah pulih ternyata datang ke toko.
Sontak Jiya menoleh ke arah suaminya yang berdiri tegak lurus di dekat pintu.
Dilan pun melihat Alex yang matanya melotot padanya.
“Siapa kau?!” nada bicara Alex meninggi sebab ia tak terima jika istrinya di sentuh orang lain.
__ADS_1