
“Oke pak, saya mau.” setelah itu Lili pun naik ke atas motor si tukang ojek.
...****************...
Jiya yang ada dalam toko masih memikirkan soal Lili.
“Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat kacau? Dia juga tidak seperti biasanya, bukannya kemana-mana dia selalu membawa motornya?” gumam Jiya.
Jiya yang ingin beranjak ke office tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari Dilan.
Halo, Dilan, 📲 Jiya.
Halo cantik Kau lagi di mana? 📲 Dilan.
Di toko ada apa aku Menghubungi ku?📲 Jiya.
Apa kau ada waktu nanti malam? 📲 Dilan.
Ada, 📲 Jiya.
Kalau begitu aku bisa kencan dengan mu dong? Bukannya besok adalah hari minggu? kurasa tidak masalah kalau kita berlama-lama di luar,📲 Dilan.
Kalau hanya sebentar aku mau, tapi kalau lama aku enggak bisa, 📲 Jiya.
Baiklah, sebentar pun oke, yang penting malam ini aku bersama mu, 📲 Dilan.
Kalau begitu sampai jumpa nanti malam, jangan lupa jemput aku ke toko, bukannya kalau kencan itu perginya sama-sama? 📲 Jiya.
Siapa nona muda, 📲 Dilan.
Setelah selesai berkirim pesan Jiya pun melanjutkan perjalanannya menuju office.
...****************...
Lili yang baru sampai ke rumahnya merasa heran, sebab ia melihat dua pria berpakaian formal sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Siapa mereka?” Lili yang penasaran pun mendatangi dua orang tak di kenal itu.
“Permisi, kalian sedang apa ya di depan rumah ku?” tanya Lili dengan penuh selidik.
“Apa benar ini rumahnya bu Lili?” tanya Reno.
“Iya bener, saya Lili, ada perlu apa datang kemari?” ucap Lili yang butuh jawaban.
“Kenalkan saya Reno dari pihak bank rakyat, 4 bulan yang lalu bu Rosa mengambil uang sebesar 1 milyar pada kami, dan Bu Rosa menjadikan rumah ini sebagai jaminannya,” terang Reno.
__ADS_1
Duar!!
Bak di libas petir berkali-kali di siang hari, mendengar kenyataan itu Lili rasanya ingin mati di tempat.
Rumah yang menjadi naungan dan tempat berlindung dari segala bahaya kini malah berurusan dengan pihak bank.
“Ma-maksudnya bagaimana ya pak?” Lili memperjelas apa yang dikatakan Reno.
“Ya, seperti yang saya katakan tadi bu, bu Rosa mengambil pinjaman sebesar 1 miliar tapi beliau tidak membayar cicilannya sama sekali dan bu Rosa telah menunggak selama 3 bulan, oleh karena itu kami di utus kemari untuk menagih secara langsung serta bunga keterlambatan pembayarannya harus lunas saat ini juga kalau tidak rumah ini akan di sita oleh pihak bank.” terang Reno dengan sangat jelas.
Mendengar kenyataan gila itu Lili rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.
“Pak, yang berhutang kan Ibu saya bukan saya, harusnya bapak tagih saja ke dia, kenapa malah datang ke rumah ini?!” Lili yang emosi mulai marah-marah.
“Karena bu Rosa memberikan alamat rumah ini, lagi pula kami juga sudah menyimpan surat-surat rumah serta sertifikat tanah ini.” Reno pun menunjukkan fotocopy sertifikat tanah dan rumah milik Jiya.
“Akh! Sialan! Orang tua kurang ajar!” umpat Lili.
Lalu Lili menatap tajam ke arah pihak bank yang tak bergeming melihatnya marah-marah.
“Pergilah! Aku tidak akan menyerahkan rumah ini pada kalian?! Ini rumah ku, bukan dia, jadi minta saja pada wanita tua itu!” Lili yang tak punya apapun lagi jelas tak bisa melunasi cicilan hutang ibunya.
“Tidak bisa begitu bu, kalau ibu tak mampu untuk membayarnya, terpaksa kami sita rumah ini.” Reno dan rekannya yang ingin kerja cepat segera menuju pintu utama rumah Lili.
“Pergi kalian! Kalian tidak tahukan bagaimana perjuangan ku untuk membeli rumah ini?! Tolong, jangan ambil, ini satu-satunya yang ku punya.” Lili yang tidak rela kehilangan pun berdiri tepat di mulut pintu yang masih tertutup rapat.
“Mohon maaf bu, kami hanya menjalankan perintah atasan, jadi tolong Ibu menyingkir dari hadapan kami,” ucap Reno.
“Tidak, lalu aku harus tinggal di mana kalau kalian menyita rumah ini? ku mohon jangan, aku ini ibu hamil, tidak punya suami, aku tak mau gelandangan pak, hiks!!” Lili menangis histeris.
“Sekali lagi kami mohon maaf bu, ini adalah perintah, untuk itu mohon kerjasamanya.” Reno pun menarik tangan Lili agar bergeser dari depan pintu.
Kemudian Reno menempelkan tulisan segel di pintu rumah Lili.
Sontak Lili makin histeris, ia tak terima dengan keputusan pihak bank tersebut.
“Bukan aku yang pinjam, tapi kenapa aku yang harus menanggungnya?! Hiks...” Lili yang ingin di kasihani pun berlutut dan memeluk kaki Reno.
“Ku mohon, pak! Kejar ibu ku saja, aku punya nomor teleponnya kok!” Lili pun memperlihatkan kontak Ibunya pada Reno.
Namun Reno tak menggubris perkataan Lili, Reno juga menggembok pintu rumah Lili dengan rantai.
“Bu, jangan pernah merusak segel ini, kalau tidak, kami akan menuntut ibu.” setelah memberi peringatan Reno dan rekannya pun beranjak pergi.
Lili yang masih menangis pun segera mendial nomor ibunya.
__ADS_1
Nomor yang anda hubungi salah! 📲 operator telepon.
“Kok bisa?” Lili pun terus mendial nomor ibunya meski tidak tersambung.
Tanpa ia ketahui, ternyata Rosa telah mengganti nomor teleponnya, sebab ia takut pada orang-orang bank yang berganti-ganti meneleponnya untuk meminta membayar tagihan yang telah jatuh tempo.
Lili yang takut terjerat hukum tak berani menyentuh segel itu.
“Aku harus kemana?” Lili yang tak punya tujuan apa lagi uang hanya bisa meratapi nasibnya yang kurang beruntung.
“Oh iya, coba aku hubungi mas Alex.” Lili yang tak punya pilihan lain pun mendial nomor suaminya.
...****************...
Alex yang baru saja selesai mandi di sumur belakang rumahnya mendengar handphonenya berdering.
“Siapa yang menelepon ku?” gumam Alex.
Ia pun masuk dari pintu dapur kemudian menuju kamar.
Saat ia melihat layar handphonenya, ia cukup terkejut karena yang mendial nya adalah Lili.
“Mau apa dia menelepon ku?” Alex yang penasaran pun mengangkat panggilan dari Lili tersebut.
Halo, kenapa kau nelpon ku? 📲 Alex.
Ha- halo mas, kau lagi dimana? 📲 Lili.
Untuk apa kau bertanya? Urus saja dirimu sendiri, 📲 Alex.
Mas, maafkan aku, aku mengaku salah atas semua yang telah aku lakukan pada mu, mas tolong jemput aku ke rumah, aku sangat membutuhkanmu sekarang, hiks!! 📲 Lili.
Mendengar isak tangis Lili, seketika Alex merasa khawatir.
Lili, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis? Apa terjadi sesuatu padamu? 📲 Alex.
Nanti aku akan ceritakan, yang penting jemput aku dulu mas, 📲 Lili.
Baiklah, tunggu disana, 📲 Alex.
Alex yang masih cinta pun dengan cepat mengenakan pakaiannya, setelah itu berangakat menuju rumah istrinya dengan menaiki motor.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit Alex pun sampai di tujuan.
Melihat Lili yang duduk di lantai seraya menundukkan kepala membuat Alex keheranan, tak cukup sampai di situ Alex kembali dikejutkan dengan tulisan segel di pintu utama rumah istrinya.
__ADS_1
Astaga apa yang telah terjadi? batin Alex.
Ia yang penasaran pun segera mendekat pada istrinya yang terlihat lemah.