
“Terserah tuan mau bicara apa, yang jelas saya hanya menjalankan perintah.” Marwan pun menggembok pagar rumah majikannya agar Alex sang tuan yang terbuang tidak masuk lagi.
Alex yang tak punya celah ke rumah Jiya akhirnya melangkahkan kakinya ke arah rumah Lili.
“Harusnya tadi aku memilih Lili saja, setidaknya aku ada tempat berteduh.” Alex menyesal dengan keputusan asal yang ia katakan pada Jiya.
“Sekarang aku harus kemana?” Alex yang hanya memiliki uang 500 ribu di atmnya bingung mau pergi kemana.
“Benar juga, rumah Lili kan aku yang beli, aku juga masih suami sahnya, berarti aku punya hak untuk tinggal disana, kalau dia enggak mengizinkan ku masuk, aku akan mengusir dia.” Alex yang memiliki alasan kuat untuk tinggal bersama Lili dengan cepat memesan taksi online.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jiya yang ada di kamar merebahkan tubuhnya ke atas ranjang karena ia merasa pusing, tengkuk berat dan badan bergetar.
“Sepertinya tensi ku naik lagi.” Jiya pun memejamkan matanya untuk tidur sebentar.
Baru saja ia ingin terlelap tiba-tiba handphonenya berdering.
Jiya pun membuka matanya lalu menoleh ke ponsel yang ada tak jauh dari kepalanya.
“Hemm...?” Jiya mengernyitkan dahinya karena ia melihat seorang wanita melakukan panggilan suara padanya melalui Instagram.
“Siapa ini?” Jiya yang ramah pun menerima panggilan itu tanpa curiga itu penjahat atau pun penipu.
Halo? 📲 Jiya
Apa kau Jiya? 📲 Fitri.
Iya, ada keperluan apa menelepon ku? 📲 Jiya.
Apa hubungan mu dengan Dilan? 📲 Fitri.
Dilan? 📲 Jiya.
Jiya pun melihat photo Fitri yang mendial nya.
Iya, Dilan! Apa kau selingkuhannya? 📲 Fitri.
Maaf, kau pasti salah orang, alu tak ada hubungan apapun dengannya, 📲 Jiya.
Jangan mengelak, aku melihat mu di gendong calon tunangan ku, 📲 Fitri.
Jiya yang pusing dan juga sesak napas menjadi naik pitam karena di tuduh tanpa bukti.
Hei, kau sudah gila ya! Dilan itu bukan level ku! Kalau kau keberatan katakan saja pada calon tunangan mu yang jelek itu untuk tidak mendekati ku lagi! 📲 Jiya.
__ADS_1
Jangan sok cantik kau! Mana mungkin Dilan yang mengejar mu! Pasti kau yang sudah gatal mendekatinya! 📲 Fitri.
Oh, jadi kau mau aku gatal padanya? 📲 Jiya
Jiya yang kesal malah menantang Fitri yang membuat penyakitnya makin parah.
Awas saja kalau kau berani melakukannya! Ku hajar kau! Kau itu tak pantas bersamanya! Jadi jangan coba-coba meracuni hubungan kami! Karena sebentar lagi kami akan tunangan lalu menikah, 📲 Fitri.
Kalau kau yakin akan di nikahi, kenapa malah mengganggu ku yang tidak pernah mengusik hubungan kalian?! 📲 Jiya.
Jangan banyak alasan kau! Pokoknya menjauh! Kalau perlu tutup toko kecil mu itu! 📲 Fitri.
Dasar sinting! 📲 Jiya.
Jiya pun mematikan telepon dari Fitri yang ia anggap tidak waras.
Kemudian Jiya membuka akun Instagram Fitri dan melihat photo terbaru yang di unggah pacar mantan kekasihnya.
“Jelek!” kemudian Jiya memblokir Fitri yang menghancurkan suasana hatinya saat itu.
“Sial! Kenapa hari ini banyak yang membuat ku emosi?” Jiya yang ingin sehat memejamkan matanya untuk tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Alex?” Rosa heran karena ia melihat menantunya datang dengan menaiki taksi.
“Bu.” Alex pun menjabat tangan ibu mertuanya.
“Lex, tumben kau datang tanpa mobil,” ujar Rosa.
Alex pun menggaruk kepalanya karena grogi pada Rosa, ia malu untuk mengatakan kalau dirinya sudah tak memiliki apapun lagi.
Lili yang baru sampai melihat kehadiran suaminya di teras rumahnya.
“Mau apa dia kesini?” Lili keberatan Alex datang ke rumahnya.
Kemudian ia pun melajukan motornya sampai ke teras rumah.
“Lili.” Alex tersenyum pada istrinya.
“Mau apa kau kesini? Pulang sana!” Lili mengusir Alex yang tak ada wibawanya lagi di matanya
“Lili... kenapa kau kasar begitu pada Alex, dia itu suami mu, hormati dia nak.” Rosa yang belum tahu apapun menasehati putrinya.
“Ibu benar Lili, aku ini suami mu.” ucap Alex, ia senang karena mertuanya membelanya.
__ADS_1
“Bukannya tadi kau sendiri yang bilang lebih memilih Jiya? Ku ikhlaskan kau pada istri tua mu yang jelek dan tua itu mas, jangan datang lagi kesini.” Lili berusaha mengusir Alex agar tak menyusahkan nya.
“Lili, ini rumah ku juga, kau enggak bisa menyuruh ku pergi begitu saja.” Alex yang tak punya tujuan tentu tak mau kemana-mana.
“Benar Li, kau ini kenapa sih! Sudahlah, kalian berdua jangan bertengkar, ayo masuk Lex, jangan perduli kan Lili.” Rosa menuntun menantunya masuk ke dalam rumah.
“Iss! Ibu benar-benar bodoh, harusnya biarkan si miskin itu pergi, enggak tahu apa kalau Alex sudah tak bisa di andalkan,” gumam Jiya.
Dengan perasaan tak suka Lili turun dari atas motornya, lalu masuk ke dalam rumah dengan wajah yang kusut.
Lalu Lili geleng-geleng kepala saat melihat suaminya di layani oleh ibunya.
“Makan cemilannya dulu Lex.” Rosa membuka toples kaca berisi nastar yang ada di atas meja kaca yang ada di hadapan mereka.
“Terimakasih banyak bu.” Alex tersenyum pada Rosa yang perhatian padanya.
Lili pun menatap tajam ibunya, kemudian ia memanggil ibunya dengan menggerakkan n ppamulutnya.
“Ayo bicara.” kemudian Lili menuju kamarnya terlebih dahulu.
“Tunggu sebentar ya Lex, ibu ada perlu dengan Lili.” Rosa yang mengerti pun menyusul putrinya ke kamar.
Sesampainya di kamar Rosa menatap marah pada putrinya.
“Kau kenapa sih?! Kau tahu dia adalah aset kita, jalan menuju kemakmuran perekonomian kita, kenapa kau malah ingin berpisah dengannya?” Rosa ingin mendengar penjelasan putrinya.
“Itu karena dia sudah enggak berguna lagi bu, tadi kami bertengkar dengan Jiya, dan Jiya sudah menendang Alex dari kehidupannya, enggak cuma itu, aku dan mas Alex juga sudah di pecat, jadi untuk apa kita memelihara sampah seperti dia?!” Lili mengatakan situasi yang terjadi.
“Humm... kau benar juga, bisa nambah beban hidup kita dong.” Rosa setuju dengan keputusan Lili.
“Sekarang kita harus bekerja sama untuk mengusir dia, untung selama ini aku membeli emas kalau dia kasih uang, jadi lumayanlah modal kita buka usaha, semoga itu bisa untuk menyambung hidup kita bu,” terang Lili.
“Tunggu dulu, diakan belum resmi cerai, begini saja, kita suruh saja dia membuat surat pengalihan harta baru, setelah itu dia paksa Jiya untuk tanda tangan, kalau perempuan itu enggak mau, kita habisi dia!” Rosa yang berambisi untuk menguasai harta Jiya tak mau menyerah begitu saja.
“Bu, jangan pakai keterlaluan juga dong, seram tahu.” Lili tak setuju jika mereka melakukan sesuatu yang berbahaya pada Jiya hanya karena harta.
“Ya sudah, intinya begini saja, kalau Alex bisa mengambil alih harta Jiya, kita terima dia kembali, kalau tidak ya kita lepas,” ucap Rosa.
“Baiklah, ayo kita katakan pada Alex.” saat Lili ingin melangkah tiba-tiba kepalanya pusing.
“Auh.. sakit...” Lili pun berjongkok karena takut jatuh ke lantai, sebab pandangannya sudah telah mengabur.
“Lili!! Kau kenapa?” Risa pun berjongkok dan memeluk Lili yang hampir kehilangan kesadarannya.
__ADS_1