Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Aborsi


__ADS_3

Ceklek!


Saat pintu terbuka wajah yang pertama kali menyambut Jiya dan kedua orang tuanya adalah Lili.


“Jiya, apa kau baik-baik saja?” tanya Lili dengan perasaan khawatir.


“Iya, aku baik-baik saja,” sahut Jiya.


“Kita harus pulang sekarang Jiya.” ucap Amir untuk mempersingkat waktu.


“Maaf Li, aku harus pergi sekarang, sampai besok.” Jiya pun pamit pada sahabatnya.


Setelah itu Jiya dan kedua orang tuanya beranjak meninggalkan ruang UKS.


Lili yang masih berdiri di tempatnya berpijak pun tertawa getir.


“Hamil ternyata.” Lili yang iri pada Jiya yang super cantik dan terlahir dari keluarga kaya merencanakan sesuatu yang jahat pada sahabat karibnya itu.


Handphonenya yang memiliki dua kartu SIM pun mulai menjalankan aksinya.


Tik tik tik!


Lili yang penuh kepalsuan pun mengetik sebuah pesan singkat yang berisi.


Lee Jiya hamil di luar nikah, ✉️ anonim.


Lili pun mengirim pesan tersebut pada Dina siswi XI B yang terkenal dengan julukan miss komunikasi.


Apapun yang ia lihat dan dengar akan ia ceritakan pada siapapun yang ia temui tanpa mencaritahu kebenaran topik yang ia dapatkan.


Tididing!


“Nomor siapa ini?” gumam Dina.


Mata Dina membulat sempurna saat membaca pesan dari nomor anonim yang ia terima.


“Ya Tuhan, ini berita besar!” tangan Dina yang gatal pun mulai menyalin pesan itu dan menyebarkan gosip tersebut pada semua kontak yang ada di handphonenya.


Orang-orang yang baru tahu kabar kehamilan Jiya merasa syok bukan main.


Pasalnya anak baik budi tekun belajar dan juara umum sekolah terjerat skandal yang begitu besar.


Karena citra Jiya yang selalu positif membuat orang-orang banyak yang tak percaya akan kabar miring itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Jiya, kita perlu bicara.” Amir yang tak punya harga diri duduk di sofa yang ada di ruang tamu, begitu juga dengan Kinan.


“Ada apa pa?” sahut Jiya seraya duduk di hadapan ayahnya.


“Siapa laki-laki itu?” tanya Amir dengan penasaran penuh.


“Dilan.” Jiya tak menyembunyikan ayah dari anak yang ia kandung.


Karena ia tahu kalau dirinya salah dan butuh tanggung jawab Dilan.

__ADS_1


“Dimana rumahnya?” Amir berniat meminta pertanggung jawaban.


“Aku enggak tahu yah,” ucap Jiya.


“Maksud mu dia laki-laki yang baru kau kenal?” Amir tak menyangka kalau putrinya semurahan itu.


“Tidak, kami sudah pacaran selama 2 tahun, tapi aku tak pernah bertanya soal keluarga apa lagi rumahnya,” ujar Jiya.


Jawaban Jiya yang begitu tenang membuat Amir emosi.


Pasalnya Jiya seperti tak menyesali perbuatannya.


“Baiklah, kau tak perlu lagi menemui laki-laki itu dan kau wajib aborsi,” ucap Amir.


“Pa! Enggak mungkin aku melakukan dosa besar itu!” Jiya menolak keputusan ayahnya.


“Memangnya yang kau lakukan dengan berandal itu apa? Pokoknya papa enggak mau tahu, besok kita langsung ke klinik aborsi!” Amir yang lelah lahir batin bangkit dari sofa, lalu ia pergi menuju kamarnya.


Kinan yang matanya bengkak, hidung pilek berkata pada putrinya.


“Tolong jangan membantah papa mu, yang kau lakukan sekarang aib besar Jiya, kau masih muda, masa depan mu masih panjang, jangan menghancurkan hidup mu demi anak yang tak jelas ayahnya siapa,” ucap Kinan.


Jiya yang tak terima bangkit dari duduknya dengan tatapan marah pada ibunya.


“Aku bisa bereskan urusan ku sendiri ma.” Jiya yang keras kepala keluar dari rumah.


“Jiya! Jangan pergi!” Kinan yang ingin mengejar putrinya malah tersandung kakinya sendiri.


Bruk!


Alhasil ia pun jatuh ke lantai dan gagal menyusul Jiya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Ke sekolah SMA Harapan Bangsa pak.” ucap Jiya yang ingin pergi mencari Dilan ke sekolahnya


“Baik nak.” sang supir pun mulai melajukan taksinya.


Aku harus memberitahu dia kalau aku hamil, batin Jiya.


Lalu Jiya membuka blokiran kontak Dilan yang ia blacklist selama ini.


Setelah itu Jiya mendial nomor tersebut, namun sayang Dilan sang kekasih yang ia tinggal tak memakai nomor itu lagi.


“Dilan!” hati Jiya menjadi resah, ia takut jika melahirkan tanpa ayah dan ia juga takut jika dirinya harus melakukan aborsi.


40 menit kemudian Jiya sampai di sekolah kekasihnya dengan masih memakai seragam khas Tunas bangsa.


Kebetulan saat itu sudah jam pulang sekolah, satu siswa siswi pun keluar dari area sekolah menuju jalan raya.


Jiya yang berada di antara kerumunan tak dapat melihat kekasihnya dimana pun.


Sampai ia pun memiliki ide untuk bertanya pada salah satu siswa yang kebutaan ia lihat atribut kelasnya sama dengan Dilan.


“Apa kau lihat Dilan?” tanya Jiya tanpa basa basi.

__ADS_1


“Oh, Dia masih di parkiran, kau kesana saja,” ujar si siswa.


“Di sebelah mana?” Jiya bertanya arah.


“Nanti kau lurus saja lalu belok kanan.” si siswa menunjuk rute yang harus Jiya lalui.


“Baiklah aku mengerti, terimakasih banyak.” setelah tahu harus pergi kemana, Jiya pun buru-buru menuju tujuannya.


Sesampainya di parkiran Jiya melihat Dilan yang naik ke atas motornya dan belum menggunakan helm.


“Di.” saat Jiya ingin memanggil nama kekasihnya ia pun melihat ayah dari anaknya berbicara dengan gadis lain.


“Dina...” ucap Dilan.


“Ah, iya maaf, aku terlambat sayang.” lalu gadis itu mengecup pipi Dilan dan naik ke atas motor Dilan.


Dilan yang akan memakai helm tanpa sengaja menoleh ke arah depan.


Dan ia pun melihat Jiya telah berdiri tegak layaknya patung 15 meter di hadapannya.


“Jiya...” gumam Dilan tanpa sadar.


“Apa sayang?” tanya Zara yang samar-samar mendengar Dilan berucap.


”Ah.. enggak kok Ra.” sebenarnya Dilan penasaran kenapa Jiya tiba-tiba muncul di hadapannya.


Namun karena Dilan sedang bersama kekasih barunya, ia pun tak berani bertanya pada wanita yang telah menggantung hubungan mereka selama ini.


Tes!


Dilan yang menyalakan mesin motornya melihat Jiya meneteskan air matanya. Lalu Jiya mengusap perutnya.


Dilan yang tak mengerti mengabaikan hal itu, malah dengan teganya melajukan motornya melewati Jiya tanpa sepatah kata pun.


Bremmmm!!!


Pembohong besar, katanya akan bertanggung jawab, batin Jiya.


Ia yang mengerti tak ada arti kata kesetiaan di dunia ini akhirnya mengikuti saran orang tuanya, yaitu mengaborsi malaikat kecil tak berdosa yang di titip Tuhan di rahimnya.


2 minggu kemudian Jiya yang baru pulih total kembali ke sekolah.


Ia yang baru masuk kelas telah di sambut dengan tatapan mengintimidasi dari teman-teman yang biasa baik dan selalu ingin menempel padanya.


“Kau hamil ya? Sudah berapa bulan?!” ucap Rena.


Jiya yang mendapat pertanyaan tak enak itu langsung panik.


Dari mana dia tahu? batin Jiya.


“Heh! Kok diam? Semua orang sudah tahu kalau kau bunting di luar nikah, siapa bapaknya?” pekik Siska.


“Kalian apa-apaan sih?! Usil-usil banget deh! Jangan ganggu Jiya hanya karena masalah yang tak jelas kebenarannya!” Lili membentak orang-orang yang akan merundung Jiya.


Melihat pembelaan dari Lili Jiya menjadi tegar dan kuat.

__ADS_1




__ADS_2