
“Aku tahu, tapi tidak ada salahnya kan kalau kita mencoba?” ucap Dilan.
Lelaki tampan itu percaya keluarga orang tua Jiya telah memberi pintu maaf pada calon istrinya.
“Entahlah, aku ragu Dilan.” meski begitu ia sangat merindukan keluarganya.
“Jiya, sebesar apapun permasalahan kalian, tapi hubungan darah tidak akan bisa diputus sampai kapanpun,” terang Dilan.
Mendengar penjelasan dari Dilan hati Jiya sedikit tergugah.
“Baiklah, besok aku akan mengambil cuti.” Jiya yang ingin bersilaturahmi dengan orang tuanya mau mengikuti saran Dilan.
Mendengar tanggapan positif dari kekasihnya Dilan pun merasa senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alex yang baru selesai mencuci wajahnya keluar dari kamar mandi.
Lalu ia pun bertemu dengan karyawan toko lainnya.
Edo yang akan masuk ke kamar mandi pun menabrak bahunya ke bahu Alex seolah ia ingin menantang mantan suami bosnya itu berkelahi.
“Kau sengaja ya?” tanya Alex.
“Apa ada masalah?” ucap Edo dengan angkuhnya.
“Tentu saja, harusnya kau tidak lancang padaku!” pekik Alex.
“Jangan banyak bicara, harusnya kau tidak ada disini tukang selingkuh!” hardik Edo
Meski Alex tak pernah menyakiti hati siapapun yang ada di toko itu, namun dampak dari video perselingkuhannya membuat orang-orang yang melihatnya langsung membencinya.
“Itu bukan urusan mu, harusnya kau kerjakan saja tugas mu!” Alex yang tak ingin cari masalah pun memilih pergi dari kamar mandi tersebut.
Sikap Alex yang terlihat tegar membuat orang-orang yang melihatnya merasa marah.
Sebab yang namanya masyarakat online selalu mengikuti kemana angin berhembus lebih kencang.
Begitulah nasib Alex yang kini di kucil kan bahkan di cibir orang-orang tak ada sangkut pautnya dengan perselingkuhannya dengan Lili.
Saat Alex ingin lanjut membersihkan kaca supermarket yang ada debunya.
Ia pun melihat mantan istrinya yang kini bagai bidadari di matanya sedang mengobrol dengan pria tampan gagah dan berwibawa dan juga banyak uang.
“Mereka benar-benar serasi.” tanpa sengaja Kata itu terucap dari mulut Alex.
Alex yang sedang menyeka kaca dengan serokan wiper merasa patah hati, ia benar-benar tak semangat melanjutkan pekerjaannya.
“Sangat sakit.” Alex yang belum sarapan pagi makin memperburuk keadaan fisik dan mentalnya.
“Lapar, tapi aku enggak punya uang.” Alex memegang perutnya yang terus berbunyi karena keroncongan.
Kemudian Alex balik kanan, lalu matanya pun melihat banyak cemilan ringan tersusun rapi dalam rak yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Ruugg...
Suara perut yang kian mencuat membuat Alex nekat untuk mencuri sebungkus kripik singkong rasa original ukuran 400 gram.
Lalu Alex pun bersembunyi di bawah tangga yang tak jauh darinya untuk menyantap kripik yang baru ia ambil.
Sialnya perbuatan Alex itu itu malah tangkap cctv.
Ia yang tak hati-hati pun akhirnya ketahuan oleh Dino yang kebetulan sedang melihat pergerakan cctv.
Alhasil Dino yang dendam berkarat pada Alex dengan cepat turun ke tempat kejadian perkara.
Kras kras kras!
Saat Alex sedang asyik-asyik mengunyah kripik yang ada di mulutnya, tiba-tiba Dino datang dengan tatapan yang penuh amarah.
“Pencuri!” pekik Dino.
Mendengar suara atasannya sontak Alex menjadi batuk-batuk.
Uhuk uhuk uhuk!
“Cepat ikut aku ke office, kau perlu di kasih SP 2!” Dino yang tegas membuat Alex ketakutan.
“Maaf pak, saya hanya lapar.” ucap Alex dengan suara yang redup.
“Aku enggak mau tahu, ikut aku sekarang atau kau ku pecat!” Dino mengancam Alex.
Sesampainya mereka di ruang office pun duduk di kursi sedangkan Alex tetap berdiri di hadapannya.
Alex yang sial pun mendapat beberapa pertanyaan dari Dino.
“Kenapa kau curi?” ucap Dino.
“Aku lapar Pak.” jawab Alex dengan jujur.
“Kau kan bisa membawa nasi dari rumah mu Kenapa harus mengambil makanan dari toko?” Dino tak mengerti kenapa Alex berbuat seperti itu.
“Aku tak punya uang pak, apa bapak bisa mengeluarkan gajivku terlebih dahulu agar aku tidak mencuri lagi?” permintaan Alex membuat Dino tertawa getir.
“Kurang ajar, mana ada yang seperti itu, oke aku baru SP1 sekaligus foto mu akan di pajang di seluruh toko dengan tulisan pencuri!” ucap Dino.
“Tapi...” Alex yang ingin menolak pun tiba-tiba terdiam karena Jiya masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa ini?” tanya aja yang tak tahu apapun.
“Pak Alex mencuri kripik singkong Bu,” ujar Dino
Mendengar hal itu Jiya sama sekali tidak terkejut, sebab ia sudah dapat menembak kalau mantan suaminya yang malas akan melakukan itu karena faktor kantong kering.
“Jiya, aku aku melakukannya karena lapar, aku tak punya uang untuk membelinya.” Alex meminta pertolongan pada mantan istrinya.
“Dino, proses seperti yang lain.” Jiya yang ingin memberi pelajaran pada mantan suaminya membiarkan manajernya untuk memperlakukan suaminya rata seperti karyawan yang pernah berbuat nakal di toko itu.
__ADS_1
“Siap bu!” Dino yang bersemangat pun mulai melakukan pekerjaannya.
Jiya yang tak tega melihat Alex di photo seraya memegang bekas bungkus kripik singkong memilih pulang lebih awal.
Wajah Alex yang telah di buat jadi poster dengan panjang 50 senti meter dan lebar 50 centimeter pun di pajang di seluruh area gudang, chiler, ruang ganti karyawan dan juga kantin.
Alex benar-benar tak punya muka setelah viral dengan kelakuan negatifnya di jajaran karyawan lainnya.
Alhasil Alex pun di cibir habis-habisan, kini namanya pun berubah menjadi si keripik singkong.
...****************...
Sore harinya, setelah pulang kerja Alex pun melihat Lili yang sedang makan ikan bakar di mulut pintu dapur.
“Enak enggak?” sapa Alex dengan suara yang serak.
Mendengar suara Alex sontak Lili menoleh ke belakangnya.
“Kenapa kau menangis?” Lili terkejut melihat air mata suaminya.
“Tidak ada apa-apa.” Alex enggan mengatakan kemalangan yang menimpanya karena merasa malu.
“Bagi dong.” Alex pun duduk di sebelah Lili dan mencubit daging ikan yang terlihat nampak lezat.
Gap!
Saat Alex telah memasukkan daging ikan itu ke mulutnya, hatinya makin terkoyak, karena rasanya hambar dan juga amis.
“Enak.” ucap Alex, ia tak pun tak dapat memberi komentar karena hanya itu yang bisa di makan.
“Mas, aku tadi menelepon Jiya,” ucap Lili.
“Untuk apa kau menghubunginya?” tanya Alex.
“Aku meminta pekerjaan padanya,” jawab Lili.
“Kenapa?” Alex di buat makin penasaran dengan alasan Lili.
“Kalau hanya kau yang kerja pasti kurang untuk kita, dan yang paling penting sebentar lagi anak kita akan lahir, pasti butuh biaya banyak ke rumah sakit,” terang Lili.
Alex yang tak punya kekuatan tak dapat melarang keinginan Lili.
“Kau di tempat kan dimana?” tanya Alex lebih lanjut.
“Cabang Kamboja,” jawab Lili.
Mendengar pernyataan istrinya Alex hanya menelan salivanya.
Apa boleh buat, ini adalah takdir kami, batin Alex.
Ia hanya pasrah dengan keadaan, ia yang kekurangan uang lebih memilih menelannya rasa malunya dari pada tak makan.
__ADS_1