Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Kompetitor


__ADS_3

Mendengar pernyataan kekasihnya Dilan malah tertawa kecil.


Ya ampun sayang, dia hanya teman ku, enggak masalahkan kalau aku mengikuti media sosialnya? 📲 Dilan.


Pokoknya enggak boleh Dilan, 📲 Fitri.


Kenapa? 📲 Dilan.


Aku cemburu, selain itu kau dan dia terlihat mirip, 📲 Fitri.


Dilan mengerti maksud dari kekhawatiran kekasihnya.


Baiklah, aku akan unfollow dia, sudah ya kau jangan khawatir lagi, 📲 Dilan.


Iya sayang, ya sudah kalau begitu aku tutup dulu karena aku mau bekerja, 📲 Fitri.


“Huff!!” Dilan menghela napas panjang sebab kekasihnya mulai menekannya lagi


“Fitri memang baik, tapi sikap cemburunya selalu berhasil mencekik leher ku.” Dilan pun membuka akun instagramnya, lalu ia melihat orang-orang yang ia ikuti.


“Apa aku harus unfollow? Pasti Jiya merasa aneh kalau tiba-tiba aku mengikutinya dan membatalkannya lagi.” Dilan berpikir Jiya sudah tahu kalau ia mengikutinya.


Ibu jari Dilan begitu sulit untuk menekan tulisan batalkan.


Tuk!


Tapi demi kebaikan bersama Dilan pun mengikuti kemauan kekasihnya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Pukul 13:02 wib Lili sampai ke rumah Jiya, pintu yang terbuka lebar membuat Lili jadi tertawa riang.


“Hahaha, kesempatan bagus, selain mengambil atm aku juga akan ambil perhiasan Jiya, ku ingat dia punya kalung rupiah.” Lili percaya diri akan mendapatkan semua maunya, sebab Jiya yang biasa pulang sore tak akan ada di rumah selama dirinya beraksi.


“Nanti pembantu itu yang akan ku buat jadi kambing hitamnya.” Lili berencana mengorbankan Winda agar jadi tersangka dalam pencurian yang akan ia lakukan.


Winda yang baru saja membuang sampah di seberang jalan rumah majikannya pun melihat Lili yang turun dari atas motor tepat di hadapan teras pintu utama.


“Astaga, untuk apa non Lili datang kemari?” ia yang takut ada barang yang hilang di rumah majikannya pun segera berlari menuju rumah.


“Non Lili!!” teriak Winda seraya berlari.


Sontak Lili menoleh ke arah belakangnya, Lili pun mengernyitkan dahinya saat art senior rumah itu datang dengan sangat heboh.


“Ada apa bu?” tanya Lili dengan tenang.


“Jangan masuk ke dalam rumah, itu perintah nyonya.” ucap Winda dengan napas terengah-engah.

__ADS_1


“Kenapa? Aku kesini karena di suruh Jiya, kebetulan juga aku kunjungan di dekat toko sini, aku buru-buru bu, jadi jangan halangi aku masuk.” saat Lili akan menginjakkan kakinya ke teras, Winda pun tak tinggal diam.


”Tapi nyonya yang memerintahkan aku untuk melarang nona kemari.” Winda bersikeras menjalankan amanat majikannya.


“Enak saja! Terus untuk apa aku di minta kesini?! Jangan mengada-ngada ya bu!” mata Lili membelalak sempurna, ia tidak suka Winda yang posisinya sebagai art memerintah nya.


“Maaf non, saya hanya menjalankan perintah.” Winda yang tak ingin dapat banyak masalah masuk ke dalam rumah, lalu tangan kirinya memegang gagang pintu.


“Jangan keterlaluan ya bi, saya juga di minta mas Alex untuk kesini, kalau enggak percaya biar aku telepon.” lalu Lili pun mendial nomor Alex.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, mohon coba beberapa saat lagi. ucap operator telepon.


Alih-alih membuktikan dirinya benar namun sayang nomor Alex malah tidak bisa di hubungi karena Alex tidak mengisi daya handphonenya sejak ia masuk rumah sakit.


Winda yang curiga pun menatap tajam pada musuh dalam selimut majikannya.


“Bi! Mata mu kok sinis begitu pada ku?!” Lili membentak Winda.


“Sebaiknya nona pergi karena nyonya ku tak ingin nona ada disini!” Winda yang ingin menutup pintu di tahan oleh Lili.


Tap!


Tangannya yang bidang dan kuat berhasil membuat Winda kewalahan.


“Bu, jangan keterlaluan ya, kau itu hanya seorang babu disini, kau dan aku berbeda!” mata Lili membelalak sempurna, darahnya kian mendidih, hasrat hatinya ingin sekali menampar wanita tua yang ada di hadapannya.


“Setidaknya aku kerja halal, bukan seperti dirimu, penggoda!” Winda yang merasa benar melawan pada Lili.


Winda yang mendengar kabar besar itu syok bukan main.


Rasanya jantungnya mau meledak, ia tak dapat membayangkan bagaimana perasaan sang majikan jika sampai tahu kalau Lili sang sahabat karib adalah istri kedua tuannya.


“Wanita jahat!” pekik Winda.


Lili yang sadar telah melakukan kesalahan menutup mulut besarnya.


“Aku hanya bercanda, jangan sampai ibu mengatakan itu pada Jiya, kalau sampai pertemanan kami hancur, aku akan menguliti mu bu!” Lili pun memilih pergi karena takut di cerca pertanyaan oleh Winda.


Kemudian Winda pun buru-buru mengunci pintu karena ia takut Lili mencari celah untuk masuk ke dalam rumah.


“Apa aku harus mengatakannya pada nyonya?” meski Jiya bukan darah dagingnya namun Winda begitu menyayangi Jiya yang selalu menghargainya.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jiya yang telah menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya berniat ingin belanja bulanan ke toko yang jarang ia kunjungi.


“Coba kesana dulu.” Jiya pun bangkit dari duduknya kemudian ia mengambil tas ransel kulitnya dari atas meja kerjanya.

__ADS_1


Setelah itu ia pun beranjak menuju menuju parkiran.


Jiya yang telah ada dalam mobil melajukan mobilnya menuju toko cabang 3 yang berjarak 30 menit dari rumahnya.


Setelah beberapa saat dalam perjalanan ia pun sampai dengan selamat ke tujuan.


Saat Jiya turun dari dalam mobilnya ia kaget bukan main karena ia melihat ada Supermarket berdiri di seberang jalan Supermarket miliknya.


“Sejak kapan toko ini buka? Bukannya kemarin gedung ini khusus jualan baju?” saat Jiya membaca nama supermarket itu hatinya menjadi ketar ketir.


“Go-Golden Market??!” ia tak menyangka jika saingannya adalah supermarket sukses yang telah berdiri sejak tahun 1980.


Jiya yang penasaran pun memutuskan untuk masuk ke supermarket saingannya itu.


Ia pun buru-buru menyeberang jalan, saat ia telah berada di pintu masuk seorang satpam berbaju hitam membuka pintu untuknya.


“Wahh...” matanya menatap setiap sudut supermarket kompetitornya.


Bagus banget, pantas sales toko ku merosot, batin Jiya.


Ia yang sedang berkeliling di antara rak-tak cemilan ringan, tanpa sengaja bertemu Dilan yang berpakaian rapi layaknya pegawai kantoran.


Dilan pun menghentikan langkah kakinya saat ia melihat Jiya di hadapannya.


“Hai?” Dilan tersenyum pada Jiya.


“Kau belanja?” tanya Jiya.


“Tidak, aku lagi memantau para karyawan ku, karena kita baru seminggu opening,” ucap Dilan.


“Oh! Jadi ini toko mu?!” wajah Jiya merubah menjadi kecut saat tahu mantannya adalah saingannya.


“Iya.” sahut Dilan dengan tawa mengembang di bibirnya.


“Mamangnya enggak ada tempat selain disini ya!” pekik Jiya dengan mata melotot.


Ia yang bersusah payah membangun supermarket nya takut jika guling tikar karena Golden Market yang lebih memadai dari dirinya.


“Kenapa dia?” meski tahu Jiya adalah kompetitornya, tapi Dilan ingin menjalin hubungan baik dengan mantan kekasihnya itu.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Jiya yang telah berada di luar toko menoleh ke belakangnya. Retinanya pun Ternyata pun melihat Dilan mengikutinya.


“Mau apa dia?” gumam Jiya.


Jiya yang ingin pergi agar tak di ajak bicara oleh Dilan pun buru-buru menyebrang jalan hingga ia tak sengaja menginjak lubang yang ada di tengah jalan.

__ADS_1




__ADS_2