
Jiya yang benci Dilan pura-pura tak kenal lelaki yang pernah mengisi hari-harinya selama 730 hari itu.
Jiya pun terus berjalan santai sampai saat Jiya memegang pintu masuk toko Dilan menegur mantan kekasihnya.
“Sombong,” ucap Dilan.
Meski Jiya mendengarnya namun ia tak mau menanggapi apa yang di katakan Dilan.
Ia pun menarik pintu toko dan masuk ke dalamnya.
“Ck! Pada hal sudah lama berlalu tapi kenapa Jiya masih marah pada ku?” Dilan tak sadar jika ada luka yang lebih membekas dari apa yang ia ketahui.
“Aku harus tanya apa yang sebenarnya terjadi.” Dilan yang ingin menjalin hubungan pertemanan dengan Jiya memutuskan untuk menuntaskan masalah di antara mereka.
Ia pun bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam toko.
Jiya yang sedang melihat merchandise yang ada di rak melihat ke arah pintu yang baru saja terbuka.
Senyumnya seketika hilang saat ia tahu yang datang adalah mantan kekasihnya.
Mau apa sih dia? batin Jiya.
Jiya yang ingin terlihat cuek bersikap biasa saja.
Namun ia tiba-tiba merasa tak nyaman saat Dilan malah berdiri tepat di sebelahnya.
“Apa kabar?” ucap Dilan seraya mengambil susu kotak rasa stroberi produksi lokal dari dalam chiler.
Jiya yang telah menganggap Dilan mati dari hidupnya merasa pria yang ada di sampingnya adalah hantu.
Tangannya yang jenjang pun terus merapikan barang-barang dagangan yang ada di hadapannya.
“Hei Lee Jiya, apa kau tuli?” Dilan kesal karena Jiya mengacuhkannya.
Sontak tangan Jiya berhenti memegang roti gandum yang baru saja ia sentuh.
“Ke intinya saja.” ucap Jiya yang tak ingin bertele-tele.
“Kenapa waktu itu kau datang ke sekolah ku?” pertanyaan Dilan membuat Jiya mengingat masa-masa sulitnya.
__ADS_1
“Untuk membuktikan kalau kau itu bangsat.” Jiya tak mau mengatakan alasannya yang sebenarnya.
Kata-kata kasar yang baru saja Jiya lontarkan membuat Dilan tertawa.
“Hahaha... kau masih tak berubah ya, tetap saja kasar, apa suami mu tahan dengan sikap mu yang melebihi preman?” bukannya marah Dilan justru suka dengan Jiya yang apa adanya.
Lalu Jiya yang tak bisa di ajak bercanda bersedekap menghadap Dilan.
“Dilan, apa aku bisa meminta tolong pada mu?” ucap Jiya.
“Apa?” sahut Dilan.
“Jangan perlihatkan wajah mu di hadapan ku, jujur saja, kau sudah almarhum di hati ku.” Jiya mengatakan isi hatinya yang sebenarnya
“Baik, aku juga tak ingin melihat wajah jelek mu, heran pada hal dulu kau cantik, sekarang malah seperti tante-tante, aku salut pada suami mu yang nyaman tidur di sebelah mu.” Dilan membalas kata-kata kasar Jiya dengan maksud bercanda.
Namun Jiya yang perjalanan hidupnya tak semulus jalan tal merasa sakit hati.
Sontak Jiya menatap tajam Dilan yang ingin tertawa.
“Kau pikir ini semua karena siapa?” Jiya yang naik pitam memutuskan untuk pergi ke office karena ia takut mengajar Dilan saat itu juga.
Jiya yang ingin melangkah pun di hentikan oleh Dilan.
Setelah mengatakan itu Dilan pun meninggalkan supermarket Lee Jiya.
Jiya sendiri tak ingin berada di tempat yang sama dengan mantan kekasihnya.
Tapi ia yang ingin hidup tenang terpaksa memenuhi permintaan Dilan.
“Awas saja kalau dia bicara hal-hal yang tak jelas.” Jiya yang mau ke office pun membatalkan niatnya, kemudian ia mendisplay barang yang kurang rapi yang ada di hadapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Hatciu!!!” Lili yang demam mengurung diri di dalam kamar.
“Ya Tuhan kenapa jadi sakit begini sih? Handphone ku juga rusak lagi.” Lili yang belum sempat memperbaiki handphonenya merasa resah sebab ia belum izin kerja pada Jiya dan menanyakan kabar Alex yang pergi ke rumah sakit.
“Lili...” Rosa pun masuk ke dalam kamar putrinya dengan membawa sup ayam yang baru masak.
__ADS_1
“Ibu...” Lili pun bangkit dari ranjang dengan kepala yang pusing tak tertahankan.
“Makan dulu nak.” ujar Rosa seraya duduk di pinggir ranjang putrinya.
“Iya bu.” lalu Lili mengambil sup ayam yang ada di tangan ibunya.
“Kenapa kau sampai demam sih Li?” tanya Rosa seraya memijat kaki putrinya.
“Aku kehujanan bu, itu semua gara-gara Jiya, dia menyuruh ku kerja rodi, sudah begitu itu bukan tugas ku! Menyebalkan!” Lili tersenyum kecut pada ibunya.
“Kenapa kau mau? Bukannya dalam bagian kerja itu ada jurusannya masing-masing? Lain kali jangan mau kalau dia tidak memberikan mu upah kes pada mu!” Rosa marah pada Jiya yang menyebabkan putrinya sakit.
“Ya mau bagaimana lagi bu, diakan atasan ku,” ucap Lili.
“Bodoh! Suami mu juga pemilik supermarket itukan? Otomatis kau juga adalah pemilik, katakan pada Alex untuk segera mengambil miliknya, kalau dia benar-benar mencintai mu harusnya kau suruh dia untuk mencarikan Jiya, ibu yakin setelah harta itu di bagi, kalian berdua bisa lebih sukses, Jiya itu enggak ada apa-apanya kalau tak ada Alex!”
Rosa merasa keberatan atas harta yang bukan miliknya.
“Aku maunya juga gitu bu, masalahnya sekarang mas Alex lagi sakit, mungkin setelah dia sembuh semua surat-surat itu akan di urus jadi atas nama mas Alex semua,” terang Lili.
“Hei Li, kenapa kau enggak minta 3 toko jadi atas nama mu?” ujar Rosa.
“Mas Alex enggak mungkin langsung maulah bu, lagi pula apa yang dia pikirkan kalau aku langsung minta harta?” ucap Lili.
“Bodoh! Kau itu istrinya jadi kalau kau minta sebagian juga enggak masalah, itu hak mu,” ujar Rosa.
“Enggak mungkin sekarang bu aku mintanya, akukan baru menikah dengan mas Alex, Jiya juga sepertinya enggak membahas harta pada hal mereka sudah 10 tahun bersama.” Lili enggan meminta bagian pada suaminya.
“Untuk apa kau pikirkan madu mu? Birkan saja, lagi pula dia sudah lebih dulu menikmatinya, kalau di hitung-hitung pasti lebih besar dari yang kau terima dari Alex selama ini.” Rosa tak tahu jika yang putrinya terima selama ini adalah uang hasil curian.
“Ibu benar juga, harusnya bagiannya sudah cukup dan dia enggak layak lagi untuk mendapatkan apapun.” Lili yang tak punya hak malah ingin mengatur harta orang lain.
“Nah! Itu yang ibu maksud, bujuk suami mu Li, apa kau tahu cara mendapatkan segalanya?” senyum Rosa nampak mengembang saat akan mengatakan sesuatu pada putrinya.
“Maksud ibu?” Lili tak mengerti dengan apa yang di katakan ibunya.
“Hamil! Kalau kau sudah punya anak, otomatis anak mu juga akan dapat bagian, apa lagi kalau kau melahirkan anak laki-laki, yakinlah semua harta yang mereka punya akan menjadi milik putra mu.” Rosa yang licik dan ingin hidup enak menggunakan putrinya sebagai sarana mencari rezeki untuk menyabung hidupnya sehari-hari.
“Aku mengerti bu, aku juga sudah lama memikirkan hal itu,” ucap Lili.
__ADS_1