Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Pulang


__ADS_3

Kemudian Jiya pun menunjukkan arah jalan ke rumahnya kepada kekasihnya.


Setelah menempuh perjalanan selama 5 menit, mobil yang mereka kendarai pun tiba di depan sebuah rumah besar, megah yang memiliki lantai 3.


“Benar ini rumah mu?” tanya Dilan dengan mimik wajah tak percaya.


“Memang iya.” kemudian Jiya keluar dari dalam mobil begitu pula dengan Dilan.


Jiya yang berdiri di depan gerbang rumahnya merasa ragu untuk menekan bel.


Namun Dilan yang merasa biasa-biasa saja langsung memencet bel yang ada di tiang gerbang.


Ting dong!


“Dilan! Kenapa kau tekan secepat itu?” Jiya marah kepada kekasihnya karena tidak minta izin terlebih dahulu kepadanya.


“Kalau masih menunggu mu hasilnya akan lama,” ucap Dilan.


Lalu tak lama datang Kinan dari arah pintu utama rumah.


Jiya yang melihat wajah ibunya setelah 10 tahun berlalu merasa deg-degan parah.


Apa mereka akan menerima ku? Atau malah mengusir kami? batin Jiya.


Jiya yang salah tingkah mengalihkan wajahnya ke arah sebelah rumah tetangganya.


“Anda siapa ya? Ada perlu apa datang kemari?” tanya Kinan kepada Dilan.


“Selamat pagi tante, perkenalkan nama saya Dilan, saya kesini membawa anak tante yang telah lama pergi,” terang Dilan.


Mendengar pernyataan Dilan Kinan sontak menoleh ke arah wanita yang di sebelah pria tampan itu.


“Apa kau Jiya?” tanya Kinan dengan penuh selidik. Kemudian Jiya pun melihat ibunya.


“Iya ma, ini aku putri mu sudah pulang.” ucap Jiya dengan menahan air matanya yang akan menetes karena tak dapat memendam kesedihan yang ada dalam hatinya.


Tes!


Tanpa di duga Kinan menangis berderai air mata saat melihat putrinya yang kini telah menjadi dewasa berdiri di hadapannya.


Renteng!


Dengan cepat Kinan membuka gerbang yang menjadi pembatas mereka.

__ADS_1


“Hiks! Ji-Jiya... huah....” Kinan menangis sesungukan yang membuat Jiya ikut menangis pula.


“Mama maafkan Jiya karena baru pulang sekarang hiks...” Jiya pun memeluk ibunya dengan sangat erat.


“Tidak nak, jangan minta maaf, kami yang salah nak, karena sudah memperlakukan mu seperti orang asing, hiks...” Kinan menyesal akan perbuatan kasarnya kepada putrinya di masa lalu.


“aku juga salah mah karena tidak mendengarkan apa yang kalian katakan selama ini.” ucap Jiya.


Melihat pertemuan Jiya dan ibunya Dilan pun merasa haru.


Disaat keduanya hanyut dalam kesedihan yang mendalam tiba-tiba Amir ayahan Jiya datang menghampiri mereka.


“Ada apa ini?” Amir heran karena istrinya menangis seperti anak kecil.


Sedang Jiya yang mendengar suara ayahnya langsung melepas pelukannya dari ibunya dan tanpa basa-basi memeluk ayahnya dengan erat.


“Papa ini Jiya pa, maafkan Jiya karena baru datang sekarang, Jiya rindu pa.” Jiya menangis berderai air mata di dada ayahnya.


“Jiya, kaukah itu nak? Maafkan papa karena sudah jahat pada mu, ayo kita masuk ke rumah jangan berdiri disini, malu dilihat tetangga.” kemudian Amir, Kinan dan Jiya berjalan menuju rumah, sedang Dilan masuk ke dalam mobilnya lalu mengikuti pelan-pelan dari belakang.


Sesampainya di dalam rumah, mereka pun duduk di atas sofa yang ada di ruang tamu.


Isak tangis yang masih berlanjut terhenti saat Tommy yang baru datang ke ruang mereka.


“Kenapa kalian menangis?” tanya Tommy.


“Dik?” ternyata Tommy selama ini menyimpan rindu kepada adiknya Jiya.


Ia yang merasa bersalah akan ketegasan di luar nalarnya di masa lalu langsung menghampiri adiknya ke sofa.


“Maafkan abang dik, abang berjanji akan menerima mu dan suami pengangguran mu itu di rumah ini.” kemudian Tommy memeluk adiknya satu-satunya.


“Aku sudah cerai dengannya bang, sekarang aku ingin menikahi pria ini,” ucap Jiya.


Mendengar kabar itu mata keluarga Jiya langsung menoleh ke arah Dilan.


“Sejak kapan kau berpisah dengan laki-laki miskin itu?”tanya Tommy dengan penuh selidik.


“Belum lama ini bang, rencananya aku dan Dilan akan menikah setelah selesai masa iddah ku habis,” terang Jiya.


“Kapan selesainya masa Iddah mu?” tanya Kinan.


“Kira-kira 2 bulan setengah lagi ma,” jawab Jiya.

__ADS_1


“Oh... kami pasti merestuinya nak.” Kinan mengatakan demikian karena ia tak ingin menghalangi cinta putrinya untuk yang kedua kalinya.


Pada hal aku belum bicara apa-apa, batin Dilan.


Dilan tertawa tipis karena masalah lamaran telah selesai sebelum ia mengatakan hajat utamanya datang kesana.


“Kapan rencana kalian menikah,” tanya Amir.


Disaat Jiya ingin menjawab Dilan pun mengangkat tangannya seolah menghentikan Jiya untuk bicara.


Jiya yang mengerti pun menutup mulutnya rapat-rapat karena ia ingin memberikan kesempatan untuk calon suaminya berbicara kepada keluarganya.


“Tiga hari setelah masa Iddah itu selesai kami akan melangsungkan pernikahan.” lalu Dilan menjelaskan konsep pernikahan yang akan mereka adakan dan berapa orang yang akan di undang dan dimana mereka akan melaksanakan resepsi pernikahan itu.


Setelah mendengar penerangan dari Dilan Jiya dan keluarganya setuju dengan tanggal yang di sarankan oleh Dilan.


“20 September kebetulan itu adalah tanggal ulang tahun ku,” ucap Dilan.


“Aku ikut apa kata mu saja.” Jiya yang telah jatuh hati kepada Dilan menghargai setiap keputusan calon suaminya.


“Baiklah, karena kita telah dapat tanggal, tak ada salahnya kalau kita sama-sama ke meja makan karena ini sudah lewat dari jam sarapan pagi, kalian juga belum makankan?!” seru Tommy yang kelaparan.


“Iya bang.” Jiya terseyum melihat respon saudaranya yang sangat bersahabat.


Selanjutnya mereka semua pun menuju dapur untuk sarapan pagi.


***


Alex dan Lili yang baru tiba di supermarket Lee Jiya memulai pekerjaan mereka dengan membersihkan toilet bersama-sama.


Yang mana Alex di toilet pria dan Lili di toilet wanita.


Itu semua terjadi karena Dino yang lagi-lagi menyimpan dendam dan kesal kepada sepasang suami istri pengkhianat itu.


”Dasar, aku di buat jadi kerja kotor seperti ini, harusnya kan aku ada di depan, menyusun barang atau membersihkan kaca, aku tahu si Dino sialan itu pasti sengaja.” Lili yang mengetahui watak Dino yang sebenarnya jadi merasa benci pada atasan mereka tersebut.


Namun apalah daya, dirinya yang hanya bawahan hanya bisa menuruti apa yang di perintahkan oleh atasannya.


Lili yang butuh uang untuk persalinannya terpaksa mengerjakan apapun yang dapat ia kerjakan asalkan menghasilkan uang.


Para karyawan yang bekerja di supermarket Lee Jiya menertawai 2 pasangan malang itu.


Pasalnya keduanya terlihat sangat menyedihkan, tak ada satu orang pun yang iba pada mereka karena hasil perbuatan tercela mereka sendiri.

__ADS_1


Lili yang tahu dirinya di remehkan hanya menundukkan kepalanya, sebab jika ia mengikuti egonya maka kehidupannya akan di ambang kemelaratan.


Andai ada perusahaan lain yang mau menerimanya, ia pasti tak ingin bekerja di tempat orang yang telah ia tikam dari belakang, namun masalah terberatnya hanya wanita yang ia rebut suaminya itu yang bersedia memberi pekerjaan padanya.


__ADS_2