Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Tak Sebodoh Itu


__ADS_3

“Kurang ajar! Apa-apaan mereka berdua!” Lili menatap sinis Alex yang memeluk Jiya dengan mesra.


Lili yang tak tahan melihatnya langsung balik kanan dan melangkah kasar dengan perasaan panas dingin menuju dapur.


“Tumben banget Jiya nempel sama mas Alex, biasanya enggak pernah.” Lili yang kehausan mengambil air minum.


“Iya juga sih, diakan istrinya ya wajar sajalah, tapi masalahnya aku jugakan istrinya.” Lili yang tak ingin berlama-lama di rumah itu memutuskan untuk pergi tiba-tiba Alex datang.


“Kau mau kemana sayang?” tanya Alex penasaran.


“Pulang mas,” ucap Lili.


“Jangan dulu, katanya Jiya mau makan bubur ayam buatan mu,” ucap Alex.


“Apa? Kenapa harus aku mas?” Lili yang kesal tak mau melakukan permintaan suaminya.


“Ayolah sayang, kau enggak boleh begitu, bagaimana pun dia lagi sakit.” perhatian Alex membuat Lili makin terbakar.


“Yang benar saja sih mas?! Masa kau suruh aku untuk memasak bubur untuk dia! Bukannya kau juga ingin dia mati? Biarkan saja dia kelaparan!” Lili yang keras kepala tak mengindahkan permintaan suaminya.


“Aku juga maunya begitu, tapi dia terus merengek, bagaimana saat kita biarkan dia kelaparan, dia malah panjang umur? Apa kau enggak takut untuk memperlihatkan belang mu sekarang?” setelah Alex mengatakan itu Lili berpikir dua kali untuk berbuat jagat pada Jiya saat itu juga.


“Baiklah.” dengan terpaksa dan tak ikhlas Lili pun memasak bubur pesanan Jiya padanya.


Saat Lili membersihkan ayam potong yang ia ambil dari kulkas Alex yang masih disana melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Lili.


“Maafkan aku karena sudah menyusahkan mu, bersabarlah sayang karena setelah si tua itu tidur aku akan membawa surat-surat harta kami ke notaris.” Alex pun memeluk mesra Lili yang wajahnya cemberut.


“Benarkah?” kepala Lili menoleh ke arah Alex.


“Iya sayang, tenang saja.” lalu Alex mengecup bibir indah Lili.


Kemesraan keduanya pun di pergoki Winda yang akan masuk dapur.


Deg!


“Asataga, apa yang mereka lalukan?” Winda tak menyangka jika kecurigaannya selama ini jadi kenyataan.


“Ini enggak boleh di biarkan, jelas salah!” Winda yang menerima banyak kebaikan dari Jiya akhirnya memberanikan diri untuk membongkar perselingkuhan majikannya.


Ia pun menuju kamar Jiya yang kebetulan pintunya terbuka lebar.


“Nyonya, nyonya!” Winda pun duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Jiya.


Lalu Jiya membuka mata dan menoleh ke sebelahnya.


“Ada apa?” sahut Jiya.

__ADS_1


“Maaf kalau saya lancang nyonya, dan saya juga enggak ada maksud untuk membuat tuan dan nyonya untuk bertengkar...”


“Intinya saja bi.” Jiya memotong barisan kata yang akan di ucapkan Winda.


“Tu-tuan dan non Lili berciuman di dapur nyonya, hiks.” Winda menangis setelah mengatakannya, karena ia sangat kasihan pada majikannya yang baik hati.


“Benarkah?” Jiya mengelus dadanya yang terasa sesak, lalu ia mengelus pundak Winda.


“Sudahlah bi, aku baik-baik saja.” Jiya tersenyum meski hatinya sakit.


“Tapi nyonya, tadi saya sempat dengar juga kalau tuan akan mengambil surat-surat harta nyonya.” Winda pun menceritakan apa yang ia lihat dan dengar.


“Apa?!” Jiya yang pura-pura sakit langsung bangkit dari ranjang.


“Bibi serius?” Jiya menatap tak percaya, karena selain di selingkuhi, Alex juga ingin mengambil hartanya.


“Iya nyonya, mana mungkin saya berbohong, hiks...” Winda berkata dengan wajah menyakinkan.


“Baiklah, tunggu aku disini untuk berjaga, dial nomor ku kalau Alex datang ke kamar ini.” lalu Jiya turun dari ranjang.


“Memangnya nyonya mau kemana?” tanya Winda dengan perasaan bingung.


“Ke ruang kerja untuk mengamankan surat-surat itu.” setelah itu Jiya keluar kamar dengan hati-hati agar tak ketahuan oleh Alex dan Jiya.


Ia pun menuju ruang kerja yang ada di lantai 2 dengan menaiki anak tangga yang ada di depan pintu kamarnya dengan sangat cepat.


Ceklek!


Kriettt!!


Setelah pintu terbuka lebar Lili pun masuk ke dalam dan membuka brangkas tempat penyimpanan barang-barang serta surat-surat berharga mereka berada.


Jiya pun dengan dengan cepat mengambil apa yang di incar suaminya.


Setelah itu ia menutup berangkasnya kembali, lalu ia keluar dari ruangan tersebut untuk selanjutnya menuju kamar Herman, supir yang bekerja untuk mengantar para art di rumahnya ke pasar.


Tok tok tok!


Jiya mengetuk kamar lelaki 30 tahun itu berulang-ulang, tak lama Herman membuka pintu kamarnya dari dalam.


Ceklek!


“Nyonya? Ada perlu apa kesini?” Herman bertanya demikian karena Jiya tak pernah melakukan itu sebelumnya.


“Ini!” Jiya menyerahkan amplop coklat yang sangat tebal pada Herman.


“Ini apa nyah?” tanya Herman.

__ADS_1


“Pokoknya barang penting, tolong kau antar ke toko cabang Suka Dia, katakan pada manager toko itu untuk menyimpannya dalam brangkas, besok akan ku jemput lagi dan kau tak boleh mengatakan hal ini pada siapapun, apa mau mengerti?” Lili yang bicara tegas dan lugas membuat Herman mengerti kalau dirinya tak boleh main-main.


“Baik nyonya, saya mengerti.” lalu Herman menerima amplop besar tersebut.


“Kau berangkat sekarang,” titah Jiya.


“Tapi saya belum mandi nyonya,” ujar Herman.


“Mandinya nanti saja.” Jiya tak ingin menunda terlalu lama karena ia takut semua rencananya berantakan.


“Iya nyonya.” lalu Herman keluar dari dalam kamarnya tanpa mencuci muka.


Setelah itu Jiya kembali ke kamarnya dengan tergesah-gesah.


“Dia belum kembali bi?” tanya Jiya pada Winda.


“Belum nyonya,” ujar Winda.


“Baiklah, kau boleh pergi.” setelah itu Jiya kembali tidur di ranjang.


🏵️


Alex dan Lili yang ada di dapur masih sibuk bercumbu mesra dengan Lili.


“Mas, sudah ah nanti bubur si nenek enggak masak-masak lagi.” kemudian Lili melepas pelukannya.


“Ya sudah, aku mau lihat si nenek tua itu dulu ya sayang.” kemudian Alex mengecup kening Lili sebelum kembali ke kamar.


“Besok-besok kalau dia minta bubur lagi tabur sedikit racun kalau kau punya, biar dia mati perlahan-lahan, hehehe...” Alex tertawa cengengesan.


Kemudian Alex pun beranjak ke kamar untuk menengok istrinya.


Lili yang di tinggal sendiri memikirkan apa yang di katakan suaminya.


“Benar juga.” kemudian mata Lili menoleh ke segala sudut dapur untuk melihat apa ada sesuatu yang cocok di jadikan sebagai bahan tambahan penyedap bubur yang akan ia masak.


Lalu tanpa sengaja mata Lili melihat kapur ajaib yang ada di antara ventilasi pintu kamar mandi.


“Mantap!” kemudian Lili mengambil kapur ajaib tersebut.


“Kasih satu batang sepertinya bagus, semoga keracunan beneran!” Lili yang bersemangat langsung memasak bubur ayam pesanan Jiya.


Alex yang ada di kamar mengelus puncak kepala Jiya.


“Tunggu sebenar, Lili masih memasak di dapur sayang.” Alex tersenyum pada istrinya.


“Baiklah, bang tolong pijat kepala ku dong.” pinta Jiya dengan manja.

__ADS_1



__ADS_2