
“Baguslah kalau pikiran mu sudah sampai kesana, ibu pikir kau hanya mengandalkan uang tak seberapa yang di kasih suami pelit mu itu.” Rosa senang dengan
ketanggapan putrinya.
“Enggak pelit juga kali bu, apa lagi kalau mas Alex sudah memiliki segalanya, pasti semua mau ku akan ia turuti.” Lili membela suaminya dari tuduhan pelit ibunya.
“Kalau memang susah ya tinggal buat surat kepemilikan baru, nanti usahakan biar madu mu mau tanda tangan, ibu kenal Jiya orangnya lemah, suruh suami mu keras sedikit biar dia mau tunduk,” ujar Rosa.
“Maksud ibu apa?” Lili mengernyitkan dahinya.
“Bilang sama Alex kalau Jiya tak mau tanda tangan, pukul! Selama ini kau bilang apapun yang di lakukan Alex kan dia diam saja, bahkan setelah ketahuan selingkuh Jiya tetap memaafkannya, pasti kalau Alex menghajarnya dia langsung takut dan mau tanda tangan.” Rosa mengajari putrinya untuk bermain kekerasan.
“Seram banget sih bu, nanti yang ada Jiya lapor polisi lagi.” Lili enggan melakukan Saran ibunya.
“Pikirkan baik-baik,” ujar Rosa.
“Iya bu.” setelah itu Lili menghabiskan sub buatan ibunya karena ia ingin segera ke rumah sakit untuk menemui suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jiya yang ada di office toko memikirkan pertemuannya dengan Dilan nanti.
“Malas banget, kalau bukan karena janjinya pasti aku enggak mau bertemu dengannya.” Jiya pun melihat nomor Dilan yang pernah mendial nya.
Tididing!
Ia yang hanyut dalam lamunannya tiba-tiba menerima pesan dari Alex.
Apa kau sudah sembuh? ✉️ Alex.
Jiya yang membacanya memutar mata malas, karena ia tak berharap Alex mengabarinya saat itu.
Jiya yang mengabaikan pesan itu malah di telepon oleh Alex.
“Ngapain sih dia menelepon segala?! Bukankah istrinya ada bersamanya?” gumam Jiya.
Halo? 📲 Jiya.
Halo, kau dimana sayang? 📲 Alex.
Di kantor, apa kau di rumah sakit semalaman? 📲 Jiya.
Iya, oh ya sayang sepulang dari sana tolong jenguk aku, karena aku belum di izinkan pulang oleh dokter karena aku keracunan makanan, 📲 Alex.
Benarkah? 📲 Jiya.
Iya, ku mohon temani aku disini sayang, 📲 Alex.
Kalau susah cari aku, giliran senang sama wanita lain, batin Jiya.
Aku sih ingin sekali menjenguk mu bang, tapi aku juga kurang fit, aku masuk karena kewajiban bang, 📲 Jiya.
Oh ya? Baiklah kalau begitu tapi kalau kau sudah merasa sehat tapi aku belum pulang, tolong datang kemari, aku masih sakit dan butuh kau sayang, 📲 Alex.
Mendengar perkataan Alex Jiya jelas tahu kalau itu hanya gombalan semata.
Iya bang, kalau begitu sudah dulunya, aku mau kerja lagi, 📲 Jiya.
Oke , I love you sayang ku, 📲 Alex.
__ADS_1
Dada, 📲 Jiya.
Tit!
Jiya langsung menutup panggilan Alex tanpa menjawab penyataan cinta suaminya.
“Dasar gila, dia pikir aku akan berbunga-bunga hanya karena dia katakan cinta? Dasar! Sok ganteng banget sih jadi laki-laki!” Jiya kesal pada suaminya yang nakal.
Lalu Jiya melihat ke arah jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 17:00.
“Masih ada waktu untuk bertemu dia,” gumam Jiya.
Ia yang baru selesai memantau tokonya hari itu bangkit dari duduknya.
Lalu ia menyandang tas tangannya keluar dari ruang office.
Saat Jiya berada di area toko ia pun bertemu dengan managernya.
“Al, apa kemarin Lili datang kesini?” Jiya ingin memastikan kalau Lili menjalankan perintahnya.
“Kak Lili yang kerja di kantor pusatkan bu?” ujar Al.
“Iya, kemarin aku menyuruhnya ke setiap toko untuk melihat POP diskonan dan lainnya,” ujar Jiya.
“Enggak bu, kemarin saya long shift dan tidak bertemu kak Lili,” ucap Al.
“Oh, begitu ya...” Jiya menganggukkan kepalanya.
Berani juga dia membantah perintah ku, batin Jiya.
“Iya bu, nanti kalau kak Lili datang saya akan langsung mengabari ibu,” ucap Al.
Jiya yang telah berada dalam mobilnya membuka handphonenya.
Lalu ia pun melihat nomor kontak Lili dari aplikasi WhatsAppnya.
“Terakhir aktif kemarin jam 17:00?” Jiya mengernyitkan dahinya.
“Mungkin dia sedang bersama suaminya, nanti saja deh aku memberi kerja ektra untuknya.” kemudian Jiya menyalakan mesin mobilnya.
Bremmm...
Ia pun melaju menuju restoran yang telah di katakan Dilan padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alex yang berbaring di ranjangnya tiba-tiba merasa ingin buang air besar.
Ia yang tak pakai pempers kesusahan untuk turun dari ranjang sebab tangan kirinya masih di tusuk jarum infus.
Ia yang tak di temani oleh siapapun menjadi kewalahan.
“Andaikan Lili ada disini, entah apa yang ia lakukan sampai-sampai tak datang menemani ku.” Alex yang buru-buru ingin mengeluarkan isi perutnya pun melupakan istri keduanya sejenak.
Lalu ia pun perlahan turun dari ranjang dan mengangkat tiang infusnya.
Kemudian Alex berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati.
Saat ia telah tiba depan kamar mandi yang ada dalam ruangannya, ia pun buru-buru memutar handle pintu.
__ADS_1
Krieeett...
Namun saat Alex akan melangkahkan kaki kanannya ke lantai kamar mandi tanpa sengaja Alex terpleset karena menginjak kain celananya yang menyeret ke lantai.
Bruk!
“Sakit!!!” Alex berteriak histeris karena dahinya terbentur ke dinding bak air.
Bruekkk...
Tak cukup sampai disitu, kini ia pun buang air besar di celana.
“Hiks...” Alex menangis karena ia merasa hidupnya sangat menyedihkan.
Alex pun berusaha bangkit, pada saat ia melihat ke tangannya, ia menjadi tambah panik, pasalnya selang infus yang jadi sejajar dengan tangan membuat darahnya naik.
“Tolong...tolong...!!!” Alex menjadi histeris, dia takut jika ia akan kehabisan darah.
Ia yang masih ingin hidup bangkit sekuat tenaganya.
Setelah itu keluar dari dalam kamar mandi untuk mencari bantuan.
Saat ia akan membuka handle pintu ruangannya tiba-tiba perawat sudah ada di hadapannya.
“Pak Alex mau kemana?” tanya si perawat dengan perasaan syok.
Sebab tangan Alex yang jarum infusnya telah lepas mengeluarkan darah dan bagian celananya terlihat kuning.
Belum lagi lantai keramik putih yang ada di hadapan si perawat banyak tercecer kotoran Alex.
“Maafkan aku sus, tapi bisakah suster membantu aku untuk mandi, aku hanya sendiri sus, hiks...” Alex menangis sesungukan.
“Baik pak, ayo ke dalam.” lalu si suster pun menghubungi rekan prianya untuk membersihkan Alex.
Apa alasan Jiya tak datang karena masih marah pada ku? Andai aku enggak ketahuan selingkuh pasti dia akan merawat ku, batin Alex.
Alex pun teringat di saat ia kena penyakit demam berdarah disertai muntah dan diare, Jiya sang istri yang ia anggap nenek-nenek setia merawatnya.
Mereka yang saat itu tak punya uang untuk ke rumah sakit terpaksa berobat di rumah.
Jiya sang istri pun bekerja keras mengerjakan apapun yang penting halal dan menghasilkan uang.
Jiya juga tak merasa jijik saat mencebok Alex yang saat itu tak bisa membersihkan dirinya sendiri.
Jiya juga tak pernah mengeluh, wanita baik hati juga berusaha memberikan lauk bergizi seperti ikan-ikan segar untuk suaminya meski ia sendiri tak memakannya.
Sebab jika ia ikut makan enak uang yang ia punya tak cukup untuk membeli ikan setiap harinya.
Alex yang saat itu sakit selama sebulan sempat memberikan Jiya ide untuk membuat kolam kecil di belakang rumah mereka dengan tujuan untuk persiapan kedepannya jika mereka tak punya uang untuk belanja ada ikan yang siap tangkap untuk mereka santap.
Demi Alex Jiya rela menjaring ikan ke sungai besar yang ada di dekat toko yang pertama kali mereka dirikan.
Jiya yang ulet dan tak pantang menyerah pun mendapatkan 5 ikan mas besar, 3 ikan nila dengan berat setengah kilo perekor nya, udang tawar sekelingking orang dewasa dan masih banyak lagi anak-anak ikan tawar lainnya.
Ikan-ikan itu pun Jiya taruh ke dalam kolam kecilnya dengan harapan bisa mengurangi biaya hidup mereka yang terus meningkat setiap tahunnya.
__ADS_1