Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Hamil


__ADS_3

Meski pun mereka telah menjalin hubungan selama 2 tahun, namun Jiya tak pernah memberi tahu alamat rumahnya pada Dilan.


Karena bagi Jiya itu tidak penting sebab mereka berdua hanyalah sepasang kekasih yang belum ada kata serius ke jenjang selanjutnya.


Dilan yang belum pulih dari demamnya kini tambah terpuruk.


Ia yang tak sanggup lagi menyetir motornya lebih jauh memutuskan pulang ke rumah untuk beristirahat.


Sejak saat itu Jiya dan Dilan sudah tak pernah bertemu lagi, malam itu adalah pertemuan terkahir mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


3 bulan kemudian, tepatnya di hari Sabtu yang cerah.


Jiya yang sedang menyalin contoh soal yang di tulis guru matematikanya di papan tulis tiba-tiba merasa mual.


“Hoek!” ia pun menutup mulutnya.


“Apa kau sakit Jiya?” tanya Lisa sang guru matematika di kelas X A.


“Sepertinya aku masuk angin bu.” Jiya pun memegang pelipisnya yang terasa sakit.


“Coba ke UKS dulu Ji, istirahat disana sampai kau merasa baikan,” ujar Lisa.


“Baik bu.” Jiya yang biasa teladan tak mau meninggalkan pelajaran kali itu bersedia untuk mengikuti saran gurunya.


“Mau ku antar Ji?” Lili khawatir pada Jiya yang wajahnya sangat pucat.


“Tidak usah Li, aku bisa sendiri kok.” kemudian Jiya beranjak keluar dari dalam kelas menuju UKS.


Sesampainya Jiya di UKS ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Kau sakit Ji?” Sera meletakkan tangannya ke ke kening Jiya.


“Iya bu,” sahut Jiya.


“Badan mu lumayan hangat ya, apa ada keluhan lain?” tanya Sera yang berdiri di hadapan Jiya.


“Mual, kepala ku juga sakit.” Jiya menceritakan apa yang ia rasakan.


“Oh, kau pasti banyak begadang kan?” ucap Sera.


“Iya sih bu, hehehe...” Jiya yang selalu terlambat tidur karena tugas sekolah sering sakit dan merasa kembung.


Kemudian Sera mengambil obat Proris satu strip dan juga 3 sachet tolak angin.


“Kau sudah makan belum?” tanya Sera untuk memastikan.


“Sudah bu,” jawab Jiya.


“Ya sudah, kau boleh minum sekarang ya.” lalu Sera memberikan obat yang ada di tangannya pada Jiya.


Tak lupa Sera memberikan segelas air putih pada pasiennya tersebut.


Jiya pun menelan pil itu agar dirinya cepat sembuh.


“Tidur dulu Ji, semoga cepat sembuh.” setelah itu Sera menarik tirai ranjang yang di tiduri Jiya.

__ADS_1


Sreekkkk!!!!


Jiya yang berbaring di atas ranjang melihat ke arah plafon.


“Kalau ku ingat-ingat aku belum haid selama 3 bulan, apa itu enggak masalah ya?” Jiya yang penasaran apa yang terjadi pada dirinya memutuskan untuk bertanya pada Sera.


Sreekkkk!!


Jiya membuka tirai ranjangnya lalu menuju Sera yang duduk di bangku kerjanya.


“Bu.” Jiya duduk di bangku yang ada di hadapan Sera.


“Iya Ji? Eh... kenapa kau bangun?” ucap Sera.


“Bu, aku mau tanya kalau enggak haid selama 3 bulan itu bahaya enggak sih?” Jiya bertanya dengan raut wajah serius.


“Benarkah? Apa selama beberapa bulan ini kau melakukan rutinitas berlebihan? Seperti terlalu banyak olah raga? Atau punya penyakit kronis?” ucap Sera.


“Enggak bu,” Jiya geleng-geleng kepala.


“Atau kau banyak pikiran? Kadang-kadang stres juga dapat mempengaruhi siklus haid,” terang Sera.


“Enggak kok bu.” Jiya menjawab dengan jujur.


Kemudian Sera geleng-geleng kepala lalu Sera pun memberikan mangkuk putih kecil pada Jiya.


“Coba tampung air seni kesini, nanti ibu akan bilang hasilnya,” ucap Sera.


Jiya yang tak punya pikiran negatif langsung melaksanakan apa yang di katakan Sera.


“Baik bu.” lalu Jiya mengambil mangkuk tersebut dan menuju kamar mandi yang ada dalam ruangan itu.


Ia tak tahu dengan apa yang di rencanakan Sera sebenarnya padanya.


Setelah 5 menit dalam kamar mandi Jiya pun keluar dengan membawa apa yang di minta Sera.


“Ini bu, mau di letakkan dimana?” tanya Jiya.


“Disini saja.” Sera menunjuk ke arah mejanya.


“Baik bu.” kemudian Sera meletakkan air seninya di atas meja.


“Kau istirahat saja nanti ibu akan memanggil mu.” Sera menyuruh Jiya untuk kembali ke ranjangnya.


Jiya yang kebetulan merasa lelah setuju dengan apa yang di katakan Sera.


Ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya.


Zzzzzzz....


Seperti biasa Jiya akan pingsan total kalau sudah tidur pulas.


“Jiya.. Jiya...” suara seseorang yang familiar di telinganya berhasil membangunkannya.


Jiya pun membuka matanya dengan perlahan dan ia pun melihat ada ibunya dengan bersimbah air mata.


Tes!

__ADS_1


Air mata Kinan menetes di pipi Jiya yang mulus.


“Mama?” Jiya bingung kenapa ibunya datang ke sekolahnya.


“Jiya... hiks... kenapa ini bisa terjadi pada mu?” Kinan menangis sesungukan.


Jiya tak mengerti apa yang di katakan ibunya, gadis di bawah umur itu pun bangkit dari ranjang.


“Papa?” ia pun melihat ayahnya sedang berbicara dengan pak Aryo sang kepala sekolah yang di dampingi Sera.


“Pak, tolong jangan keluarkan anak saya, berapapun akan saya tebus asalkan anak saya tetap bersekolah disini.” Amir memohon dengan wajah menyedihkan di hadapan kepala sekolah yang duduk di sofa yang ada di dekat meja kerja Sera.


“Saya paham dengan perasaan bapak, tapi sekolah ini tidak menerima siswi yang hamil di luar nikah atau pun dalam pernikahan.” penurutan dari Aryo membuat jantung Jiya hampir meledak.


Duar!!!


Apa aku yang hamil? batin Jiya.


Seketika tubuh Jiya membeku, ia pun memegang perutnya yang datar.


“Ma... jelaskan pada ku.” Jiya bertanya pada ibunya yang menangis tanpa henti.


Belum sempat ia mendapat jawaban Jiya pun mendengar ayahnya berkata.


“Saya akan berikan 1 milyar asal Jiya tidak di keluarkan dan kabar kehamilannya tak boleh bocor pada siapapun,” ucap Amir.


Mendengar penawaran menarik itu pendirian Aryo jadi goyah.


“Baiklah, asal Jiya tak mengandung dia boleh melanjutkan pendidikannya.” secara tak langsung Aryo menyuruh Jiya untuk aborsi.


“Saya mengerti.” Amir yang paham langsung menganggukkan kepalanya.


Sedang Jiya yang mengetahui berita buruk itu tak bisa berkata apapun. Ia hanya menyesal pernah berbuat bodoh


Jahat, batin Jiya.


Ia sangat marah dengan kekasih yang tak hanya merenggut kesuciannya tapi juga meninggalkan anak padanya.


Tes!


Jiya menangis namun tak bersuara lalu ia pun memeluk ibunya yang terlihat menyedihkannya dan tak ada lagi harga dirinya.


Amir yang membawa cek di sakunya langsung menuliskan digit angka 1 milyar di sebuah cek kosong. Setelah itu ia pun menyerahkan pada Aryo.


“Terimakasih banyak pak.” Amir menjabat tangan Aryo dan Sera.


“Sama-sama pak.” sahut tenaga pengajar dan kesehatan sekolah itu.


Kemudian Amir bangkit dari sofa lalu berjalan menuju Jiya dan ibunya.


”Ayo kita pulang, hapus air mata mu Kinan, kau juga Jiya, jangan sampai memancing kecurigaan orang lain.” Amir tak ingin kehormatan keluarganya tercoreng karena air mata istri dan putrinya.


Kinan dan Jiya pun langsung melakukan perintah Amir.


Setelah itu mereka bertiga beranjak dari ruang UKS tersebut.


__ADS_1



__ADS_2