Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Kembali Ke Lubang Buaya


__ADS_3

Jiya yang telah masuk ke dalam mobil abangnya menatap nanar ke pintu utama rumah orang tuanya.


“Hiks...” air matanya terus mengalir karena ia merasa telah di sisihkan oleh keluarganya.


“Berisik Jiya! Sudah menikah kok masih cengeng.” Tommy yang duduk di kursi kemudi membentak adiknya yang ada di sebelahnya.


“Maaf bang.” Jiya yang merasa bukan anggota keluarganya lagi takut pada Tommy.


“Mau di antar kemana?” wajah judes Tommy membuat adiknya tak nyaman.


“Ke stasiun saja bang,” sahut Jiya.


“Memangnya kau tinggal dimana?” meski marah namun Tommy masih penasaran dengan kehidupan adiknya selama ini.


“Sangat jauh.” jawab Jiya dengan singkat.


“Oh, berarti kau mau ke Manggarai ya.” kemudian Tommy menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalan raya yang sepi akan kendaraan.


Selama dalam perjalanan Jiya hanya diam begitu pula dengan Tommy.


Hingga tak terasa mereka pun sampai di gerbang masuk Stasiun.


“Hati-hati di jalan, tolong jangan kembali lagi.” Tommy yang ingin mewarisi semua harta warisan orang tuanya mewanti-wanti adiknya agar tak kembali lagi ke rumah orang tuanya.


Jiya merasa terluka dengan permintaan abangnya. Namun ia yang sadar dirinya bukan anggota keluarga Lee lagi hanya bisa berdamai dengan keadaan.


“Iya bang, terimakasih sudah mengantar ku.” setelah itu Jiya keluar dalam mobil dan masuk ke dalam stasiun.


“Apa aku harus pulang ke rumah Alex?” Jiya ragu untuk membeli tiket.


“Ada yang bisa di bantu kak? Kalau mau naik kereta tujuan S harus cepat karena 15 menit lagi kereta terakhir akan berangkat.” ucap karyawati penjaga tiket.


Jiya yang tak bisa memikirkan tempat lain terpaksa pulang ke rumah suaminya.


Ia pun membeli tiket lalu masuk ke dalam area stasiun.


Jiya yang lelah duduk di atas kursi yang ada di dekat peron.


Ia masih bersedih dengan semua perlakuan keluarganya padanya.


“Andai dulu aku jadi anak baik, pasti aku sudah kuliah, makan-makan di kafe bersama teman-teman.” Jiya berulang kali menyesal karena telah nekat menikah muda.


Tak lama lampu kereta jarak jauh pun telah terlihat dengan jelas.

__ADS_1


Peung!!!


Suara terompet commuter line pun terdengar dengan sangat keras, lalu Jiya berdiri tepat di belakang garis kuning yang di anjurkan pihak KRL.


Setelah kereta berhenti dan pintu terbuka Jiya masuk ke dalam kereta dan duduk di bangkunya.


Jiya pun menatap keluar dengan perasaan tak karuan.


“Kapan lagi aku bisa kesini?” gumam Jiya.


Iya yang berduka menyandarkan kepalanya di punggung kursi sampai tak terasa ia pun tertidur lelap.


Pukul 06:00 pagi Jiya sampai di Stasiun SP ia pun turun dengan perut yang sangat lapar.


Lalu ia pun keluar dari stasiun dan membeli jajanan di pinggir jalan.


Benar juga, Alex kan laki-laki pilihan ku, kenapa aku harus meninggalkannya hanya karena masalah sepele? Mungkin dia bisa berubah, lagi pula orang-orang sering bilang kalau 1 sampai 5 tahun pernikahan itu cobaannya banyak, coba aku beri kesempatan lagi padanya.”


Jiya yang telah luluh membeli oleh-oleh seperti roti ganjel rel, lumpia durian, kue sarang madu, kue mochi dan wingko babat.


“Pasti dia belum makan.” setelah luka hatinya sembuh Jiya merasa khawatir kalau suaminya sakit.


Setelah melakukan pembayaran Jiya menaiki bis untuk menuju ke desa ia tinggal.


Ia pun turun dari bis dan berjalan menuju rumahnya yang kanan kirinya adalah pohon-pohon besar.


Setelah berjalan selama 5 menit ia pun melihat rumahnya yang ada di tengah-tengah sawah, ia juga melihat Alex sedang duduk di mulut pintu yang terbuka lebar dengan kepala menunduk lesu.


“Pasti dia sudah menyesali semua perbuatannya.” Jiya berharap suaminya berubah setelah pertengkaran yang terjadi di antara mereka.


Alex yang merasa kesepian menghela napas panjang.


“Siapa yang akan memasak nasi untuk ku sekarang? Kalau ada Jiya makan ku beres tanpa harus mengeluarkan biaya, aku juga bisa meminta uang rokok.” Alex yang prustasi mengangkat kepalanya.


“Jiya?” Alex tak menyangka Jika Jiya kembali lagi, ia pun bangkit dari duduknya dan berlari menuju istrinya.


“Sayang ku?!!!” teriak Alex.


Akhirnya tulang punggung ku pulang juga syukurlah, batin Alex.


Jiya yang mendapat sambutan antusias merasa kalau suaminya sudah sadar akan kesalahan yang di perbuatanya.


“Sayang!!” Jiya yang juga rindu berlari menuju Alex.

__ADS_1


Keduanya pun bertemu di jalan setapak yang ada di antara sawah 30 meter dari rumah mereka.


“Jiya, maafkan aku sudah jahat pada mu sayang!” Alex memeluk istri yang menafkahinya selama setahun terakhir.


“Aku juga mas, kita jangan bertengkar lagi ya.” Jiya menangis karena sempat meninggalkan suaminya.


“Aku yang salah, aku janji akan berubah, aku sangat menyesal karena sudah menghabiskan uang mu sayang.” Alex mengecup kening Jiya.


Alex yang pintar berakting berhasil memanipulasi Jiya yang tulus.


“Iya sayang, jangan ulangi lagi ya.” Jiya menepuk punggung Alex yang menangis sesungukan.


Hati Jiya juga serasa teriris melihat air mata suaminya yang terus mengalir.


“Sayang jangan menangis lagi, kita lupakan masalah kemarin, mulai sekarang kita mulai lembaran baru.” seperti kata banyak orang wanita adalah mahkluk Tuhan yang memiliki hati selembut sutra.


“Terimakasih banyak sayang,” ucap Alex.


Enggak apa-apa deh sedikit merendah, yang penting makan dan jajan ku beres, batin Alex.


Setelah pertemuan mengharukan itu Jiya dan Alex beranjak menuju rumah.


Aku enggak akan kasih tahu kalau mama memberi ku uang, bisa-bisa dia macam-macam lagi, batin Jiya.


Ia yang trauma uangnya akan di ambil lagi memilih untuk merahasiakannya.


Malam harinya ketika Alex telah tertidur pulas Jiya masih duduk di tangga pintu.


Matanya yang indah menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang malam itu.


“Enaknya buat usaha apa ya?” Jiya berpikir keras karena ia tak ingin gagal dalam menjalani bisnis yang akan ia geluti nanti.


“Aku hanya di kasih 30 juta, kira-kira bisnis apa yang cocok dengan uang segini?” Jiya melihat cek yang ia pegang. Seketika ia memiliki ide yang sangat bagus.


“Benar juga, usaha kelontong sepertinya bagus.” Jiya baru ingat kalau di desanya hanya ada 1 warung kelontong, itu juga barang-barangnya tidak lengkap.


Warga desa yang ingin membeli sembako sering kali ke pasar yang jarak tempuhnya mencapai 10 kilo dengan menaiki bis atau motor.


“Mantap! Kurasa aku akan sukses! Semoga Allah memberkahi.” setelah mendapat ide brilian itu, Jiya baru bisa tidur nyenyak.


Keesokan harinya, saat Jiya dan Alex makan di atas tikar pandan yang di gelar di atas lantai. Jiya pun minta izin pada suaminya untuk pergi ke pasar.


__ADS_1


__ADS_2