
Halo Jiya, ada apa menelepon? 📲 Dilan.
Heh! Katakan pada calon tunangan mu itu untuk tidak mengganggu ku lagi! Aku dan kau tak punya hubungan apapun, kalau dia masih cari masalah pada ku akan ku buat dia menyesal! 📲 Jiya.
Dilan yang mendapat amukan dari Jiya langsung merinding, sebab baru kali itu ia mendengar Jiya berbicara lantang dan panjang lebar.
Maaf, kalau Fitri sudah mengatakan hal-hal yang kurang enak di dengar pada mu, tolong jangan ambil hati,📲 Dilan.
Norak banget sih pacar mu! Pokoknya nasehati dia, aku ini enggak kurang sibuk! ! 📲 Jiya.
Tut... tut...tut..
Jiya yang telah selesai bicara memutuskan panggilan teleponnya.
“Astaga, Fitri bilang apa lagi pada Jiya?” Dilan meletakkan handphonenya ke atas ranjangnya.
Kemudian pemuda tampan itu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Fitri... Fitri... kau selalu membuat ku malu.” kali itu Dilan tak dapat mentolerir perbuatan kekasihnya yang sering menggangu wanita lain hanya karena cemburu buta.
Ia pun kembali mendial nomor kekasihnya namun sayang belum aktif juga.
“Akh! Mau sampai kapan kau merajuk?” karena tak dapat di hubungi Dilan pun mengirim pesan singkat pada Fitri.
Kalau sampai jam 21:00 kau belum menelepon ku, berarti kita benar-benar putus, segalanya berakhir, kau jangan menghubungi atau menemui ku lagi, ✉️ Dilan.
Setelah itu Dilan mengirim pesan pada Jiya karena merasa bersalah.
Tolong maafkan Fitri, maklumi saja pikirannya belum dewasa, ✉️ Dilan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jiya yang masih memegang handphonenya melihat pesan masuk dari Dilan.
“Memangnya dia anak SD!” lalu Jiya menyunggingkan bibirnya.
Kemudian ia pun mematikan layar handphonenya tanpa membalas pesan Dilan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Jiya yang kunjungan ke Supermarket cabang Kamboja tanpa sengaja bertemu Dilan yang sedang merokok di loby utama Golden Market.
Dilan pun melambaikan tangannya pada Jiya seraya tersenyum tipis.
Jiya yang masih tersinggung hanya cemberut lalu masuk ke dalam Supernarketnya.
“Ya Tuhan, judes banget dia,” gumam Dilan.
Ia yang tak pernah dendam pada siapapun merasa tindakan Jiya teramat berlebihan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jiya yang baru sampai di office bertemu dengan Dino.
“Siang bu,” ucap Dino.
“Siang juga, bagaimana sales hari ini? Aman?” tanya Jiya memastikan.
“Alhamdulillah, ada peningkatan dari yang kemarin bu,” jawab Dino.
“Oh, jangan lupa briefing untuk karyawan dan spg yang masuk shift siang, pokoknya kalian harus push sales dengan maksimal!” meski Supermarket nya tidak sebenar Golden Market namun Jiya tak ingin Supermarket nya yang telah berkembang susah payah gulung tikar seketika.
“Siap bu,” sahut Dino.
“Jangan lupa, kerahkan semua spg untuk membersihkan rak dan akrilik barang dagangan mereka, katakan juga pada OB untuk siaga membersihkan lantai, jangan ada yang kotor, kalau perlu tambahkan OB,” titah Jiya.
“Baik bu.” Dino mengangguk setuju dengan apapun yang di katakan Jiya.
“Ya sudah, aku mau ke area toko dulu, aku mau mengawasi spg yang malas berdiri,” ujar Jiya.
“Iya bu, eh bu...” Dino ingin mengatakan aksi romantis Lili dan Alex karena ia merasa Jiya perlu mengetahui itu.
“Ada apa lagi?” tanya Jiya.
“Kemarin saya lihat ini di rekaman cctv.” Dino pun memperlihat potongan rekaman cctv yang menunjukkan Lili dan Alex berpelukan dan berciuman.
“Viralkan!” Titah Jiya.
Jiya ingin sahabat dan suaminya tak punya muka di depan semua orang.
“Siap bu.” Dino pun dengan senang hati mengunggah video itu ke akun Tik toknya dengan caption selingkuh dengan suami sahabat ku.
Tak perlu waktu lama, setelah berhasil mengunggah video kontroversi itu akun Tik tok Dino mendapat ribuan notifikasi baru yang berisi ujaran kebencian, hinaan, cibiran serta sumpah serapah dari para netizen yang maha sempurna kepada Lili dan Alex.
Benar-benar ular! đź’Ś Netizen A.
Harusnya dia cari laki-laki lain, sahabat macan apa itu! đź’Ś Netizen B.
Kalau tidak bisa menjaga suami ya begini jadinya, selingkuh dengan orang terdekat pasti rasanya mantap banget, đź’Ś Netizen C.
Coba kalau dia suami ku, pasti sudah ku penggal terongnya! đź’Ś Netizen D.
Semoga perempuan ini sengsara dunia akhirat, tak ada bahagia dan suaminya suatu saat nikah lagi, đź’Ś Netizen E.
Dalam kurun waktu 30 menit Video Lili dan Alex pun di tonton lebih dari 4 juta orang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alex yang sedang mengendarai sepeda motor bebek milik Lili merasa gerah bukan main, karena ia yang biasa naik mobil pribadi ber-AC, kini harus berhadapan langsung dengan tabir surya.
__ADS_1
“Astaga, lampu merah lagi!” Alex merasa resah setiap ada lampu merah karena ia akan merasa terpanggang untuk menunggu lampu hijau menyala.
Cit....
Alex pun menghentikan motornya di tengah-tengah kendaraan lain.
Alex yang ingin mendapatkan hembusan angin di wajahnya yang berkeringat membuka kaca helmnya.
“Hufff, sejuk.” saat Alex menikmati angin sepoi-sepoi yang menabrak wajahnya tiba-tiba ia merasa ada yang janggal.
Sebab orang-orang yang ada di sebelahnya menatap dirinya dengan seksama seolah ingin memastikan sesuatu.
“Mereka kenapa? Apa ada yang aneh di wajah ku?” Alex pun segera bercermin ke kaca spion motor istrinya.
“Enggak kenapa-napa kok.” lalu ia kembali menegakkan tubuhnya.
Orang-orang yang tadinya hanya sekedar memandang kini malah berbisik seraya melihat sesekali ke arahnya.
Seketika Alex merasa tak nyaman, lalu ia pun melempar senyum pada orang-orang yang berhasil membuatnya grogi.
Untungnya ketidak nyamanan itu segera berakhir karena lampu merah kini telah berubah menjadi hijau.
Lalu Alex melajukan motornya dengan cepat karena ia tak ingin bertemu orang-orang yang ada di lampu merah tadi lagi.
10 menit kemudian Alex sampai ke kantor notaris kenalan istri dan mertuanya.
Alex yang telah berhasil memarkirkan motornya di depan halaman notaris kemudian turun dan segera masuk ke dalam gedung notaris bertingkat dua itu.
“Selamat siang bu.” Alex menjabat tangan 3 orang yang sedang duduk di depan komputer.
“Pagi juga pak,” ucap ketiganya.
“Silahkan duduk pak,” ucap Merida.
“Terimakasih banyak bu.” kemudian Alex duduk di hadapan Merida yang di batasi oleh meja yang terbuat dari jati asli.
“Ada yang bisa saya bantu pak?” ucap Merida.
“Saya ingin bertemu bu Andini, kami sudah janjian sebelumnya.” Alex mengatakan hajatnya.
“Oh, bu Andini lagi jalan, kalau begitu bapak tunggu disana saja biar lebih enak.” Merida menunjuk ke arah ruangan yang bagian bawahnya dinding beton sedangkan atasnya adalah kaca.
“Baik bu, kalau begitu saya kesana dulu ya bu.” kemudian Alex beranjak menuju ruangan yang telah di katakan oleh Merida.
Sesampainya ke dalam ruangan berkaca itu Alex pun mendaratkan bokongnya ke atas sofa bermerek Jepara.
“Coba aku telepon Lili.” Alex merasa rindu pada istrinya yang tengah mengandung anaknya.
__ADS_1