Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Bertemu Lagi


__ADS_3

Meski sudah lama berlalu namun hati Jiya cukup senang mendengar penjelasan Dilan.


Setidaknya dulu dia ada niat baik, yah... pada dasarnya kesalahan itu muasalnya dari ku, batin Jiya.


“Kau benar, tapi maaf Dilan, aku tak ingin menikah sekarang.” Jiya yang terlalu banyak menelan luka rumah tangga belum berniat mencari pengganti suaminya setelah resmi berpisah dengan Alex.


“Aku mengerti, tapi... apa kau mau menjadi pacar ku lagi? Kita lanjutkan hubungan kita yang sempat tergantung.” Dilan menggenggam tangan Jiya dengan penuh senyuman.


“Dasar gila, bagaimana nasib pacar mu?” Jiya mengangkat alis kirinya ke atas.


“Aku belum ada ikatan apapun dengannya, lagi pula aku tidak suka sifatnya, terlalu posesif, sudah 3 perempuan yang ia ganggu karena cemburu, dia juga sering memutuskan ku sepihak, Jiya.” Dilan menatap wajah Jiya dengan penuh makna.


“Apa?” sahut Jiya.


“Aku tidak memaksa, kau juga tak harus jawab sekarang, tapi paling lama ku tunggu setelah kau bercerai, kau tahukan kalau aku sudah bujang lapuk?” Dilan berharap hubungan mereka dapat di perbaiki lagi.


“Hehehe....” Jiya tiba-tiba tertawa lepas.


“Apa ada yang lucu?” Dilan berpikir kalau ada sesuatu di wajahnya.


“Apa kau prustasi karena belum laku-laku?” ucap Jiya.


“Hahaha...” sontak Dilan ikut tertawa, karena ia berkata lapuk begitu saja tanpa ia sadari.


“Aku serius Jiya.” raut wajah Dilan pun berubah jadi serius.


“Akan ku pikirkan.” lalu Jiya minum untuk membersihkan tenggorokannya.


“Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang.” Dilan pun bangkit dari duduknya.


“Baiklah.” Jiya mengambil tasnya lalu mengikuti langkah Dilan yang keluar terlebih dahulu.


Saat keduanya telah berada di teras restoran Jiya melirik Dilan yang ada di sebelahnya.


“Ada apa?” tanya Dilan yang tahu Jiya meliriknya diam-diam.


“Dimana tas CD ku?” rupanya Jiya masih ingat tas yang ia berikan pada Dilan.


“Sudah ku berikan pada Fitri,” ucap Dilan.


“Kok bisa? itu bukan tas rombengan tahu!” pekik Jiya.


“Kau sendiri yang bilang enggak butuh dan suruh kasih ke orang lain, aku itu hanya menjalankan perintah mu.” Dilan yang tak merasa bersalah tersenyum nakal pada mantannya


“Dasar! Jadi kalau aku bilang lompat ke jurang, kau akan lompat? Begitu?” Jiya menurunkan kedua alisnya karena sedikit.

__ADS_1


“Kalau lompat bersama mu aku mau,” jawab Dilan.


“Dilan... Dilan, kita itu sudah tua jadi enggak usah main gombal-gombal.” ucap Jiya dengan perasaan geli.


“Hahaha... kalau begitu aku lompat ke hati mu saja, kalau itu bolehkan cantik?” Dilan melancarkan gombalan keduanya.


“Preeett!! Sudah ah, ayo kita pulang.” kemudian Jiya menuju mobilnya, begitu juga dengan Dilan.


“Aku duluan ya!” Dilan yang telah dalam mobil melambaikan tangannya pada Jiya.


Tin tin!


“Hati-hati ya, calon pacar!” Jiya tersenyum lalu menyalakan mobilnya.


Bremmmm...


Jiya melajukan mobilnya membelah jalan raya menuju kediamannya.


Selama dalam perjalanan Jiya mengingat raut wajah Dilan yang sangat tampan.


“Apa aku berdosa kalau main enak sedikit? Apa aku menyalahi hukum jika mencintai kekasih orang lain?” Jiya memikirkan kembali tawaran Dilan yang mengajaknya kembali bersama.


“Kalau mau dengan ku lagi, dia perlu di uji.” kemudian Jiya melajukan mobilnya lebih kencang hingga ia tiba di rumah dalam waktu 15 menit.


Jiya pun memarkirkan mobilnya tepat di teras pintu utama. Ia pun melihat rumahnya yang nampak sepi.


Sebelum itu ia pun mendatangi satpamnya yang ada di pos jaga.


“Pak, bi Winda yang lainnya kemana?” tanya Jiya dengan penasaran penuh.


“Di pecat tuan, nyonya,” jawab Marwan.


“Hah? Kok bisa? Kenapa mereka harus mengikuti apa yang di katakan Alex?!” Jiya marah karena ketiganya mendengarkan Alex yang telah Jiya usir dari rumahnya.


“Tuan marah-marah dan mengancam akan membunuh nyonya kalau mereka tidak mau angkat kaki, tadi tuan juga menggila karena nyonya tak ada di rumah, saya juga sebenarnya di pecat, tapi saya tak mau pergi karena ingin menjaga nyonya,” terang Marwan.


“Baiklah, aku mengerti.” Jiya tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi suami tak tahu dirinya.


“Apa nyonya mau ku temani ke dalam?” Marwan menawarkan diri karena merasa khawatir dengan keselamatan majikannya.


“Tidak usah, tunggu di luar saja, kalau ada apa-apa aku akan segera memanggil mu,” ujar Jiya.


“Baik nyonya, kalau begitu saya duduk di teras,” ucap Marwan.


Jiya dan Marwan pun sama-sama menuju rumah.

__ADS_1


Marwan berhenti di teras, sedangkan Jiya masuk ke dalam rumah.


Jiya yang telah berada di dalam melihat suasana yang begitu remang-remang.


Bagaimana tidak, hanya satu lampu yang di nyalakan dalam ruangan besar itu.


Lalu mata Jiya yang indah pun melihat suaminya duduk di atas sofa.


Klotak klotak klotak...


Suara sepatu hak tinggi Jiya pun terdengar dengan begitu jelas di ruangan sunyi itu.


“Mau apa kau datang kesini?” tanya Jiya yang kini berdiri di hadapan suaminya.


“Enggak muluk-muluk, aku hanya ingin kau menandatangani surat-surat ini.” mata Alex menunjuk ke sebuah map plastik kancing berwarna biru yang ada di atas meja.


“Surat apa itu?” tanya Jiya dengan hati-hati.


“Kau enggak perlu tahu, tugas mu hanya tanda tangan,” titah Alex.


Jangan-jangan itu surat peralihan harta lagi, batin Jiya.


“Mana, coba ku lihat.” Jiya pun duduk di atas sofa, lalu membuka map tersebut.


Treeett...


Kemudian Jiya mengeluarkan surat-surat setebal 7 sentimeter itu dari dalam map.


Deg!


Mata Jiya membulat sempurna, hatinya juga kesal bukan main hanya dengan membaca judul atas kertas tersebut.


“Cepat tanda tangan, aku tidak punya waktu.” wajah Alex nampak kejam menatap Jiya.


Kemudian Jiya memutar malas, lalu ia menghela napas panjang.


“Hufff... kau pikir aku ini apa, Alex?” Jiya menatap sinis suaminya yang merasa ia dapat di kendalikan lagi.


Srek srek srek!


Jiya merebok-robek kertas yang berisikan pemindahan kepemilikan Supermarket Lee Jiya pada pihak kedua yaitu Alex Yudo Yono.


“Jiya! Apa yang kau lakukan?!” sontak Alex bangkit dari duduknya dan memungut kertas-kertas yang ia bayar mahal yang berjatuhan ke lantai.


“Jangan mimpi, kau itu hanya numpang selamat pada ku, malu sedikit dong! Masa mau hidup enak dengan mencuri harta orang lain? Situ waras kan?!” Jiya menunjuk kasar Alex yang terlihat menyedihkan.

__ADS_1


“Aku juga berhak, bangsat! Andaikan kau tak menikah dengan ku, kau tidak akan memperoleh semua ini, ku jadikan kau istri, ku buat kau tinggal di rumah ku, ku dukung keputusan mu untuk mendirikan toko, kurang apa lagi aku, sialan!” Alex pun bangkit dari lantai seraya meremas surat-surat berharganya yang kini jadi kertas bekas biasa.


__ADS_2