
“Alex, minta maaf pada Jiya!” titah Rosa.
“Ibu bicara apa sih?” Lili tak suka dengan cara ibunya yang mempermalukan harga diri mereka.
“Bagaimana pun Alex bersalah.” Rosa tak mau mendengar apapun yang di katakan putrinya.
Alex yang juga takut masuk penjara kemudian bangkit dari kursinya.
Drrkkk!!
Ia pun mendorong kursinya ke belakang lalu berlutut di sebelah Jiya yang sedang duduk.
“Maafkan aku, aku berjanji tidak akan menyusahkan mu, ku mohon cabut laporan mu, bagaimana pun ada anak tak berdosa yang harus ku hidupi.” Alex menundukkan kepalanya.
Ia sangat berharap Jiya luluh dan memberi ampun padanya.
Lalu Jiya pun melirik perut Lili yang masih datar.
Benar juga, diakan sudah lama memimpikan seorang bayi hadir di tengah-tengah kami, batin Jiya.
Meski Jiya keras, namun hatinya masih banyak menyimpan kasih sayang.
“Baiklah, aku melepaskan mu, tapi kau harus menandatangani surat perjanjian bahwa kau tidak akan mengganggu ku dan juga menampakkan wajah mu di depan ku lagi, apa kau paham?!” Jiya tak ingin memaafkan Alex secara cuma-cuma.
“Aku setuju.” demi Lili Alex menjadi seorang pria yang tak punya kehormatan.
“Baiklah. Pak, apa boleh saya minta tolong?” Jiya bicara pada Edo.
“Minta tolong apa bu?” sahut Edo.
“Tuliskan surat perjanjian bersyaratnya, Apabila Alex melanggar janji dia akan mendekam selamanya dalam penjara,” ucap Jiya.
“Bagaimana bu?” Edo kurang mengerti hal-hal apa saja yang ingin di tulis.
“Sudah pak, bapak pasti bisa merangkai kata-katanya, poin akhirnya kalau melanggar perjanjian masuk penjara, titik!” Jiya yang galak membuat Edo merinding.
“Baiklah bu.” kemudian Edo menuliskan apa yang di inginkan Jiya.
Sembari menunggu, Jiya melihat Alex yang masih berlutut.
Sedang Lili tak bisa berkata apapun, pasalnya tadi Rosa mencubit telapak tangannya seolah memberi kode untuk diam.
“Hei!” Jiya memanggil suaminya.
Sontak Alex mengangkat kepalanya lalu mendongak.
“Apa?” sahut Alex.
“Kembalilah ke bangku mu.” meski benci namun Alex yang konyol dan serakah cukup membuat Jiya prihatin
“Terimakasih banyak.” lalu Alex bangkit dari lantai dan duduk ke bangkunya.
Setelah itu mereka semua hening, tak ada yang ingin memulai topik pembicaraan, sampai Kashir, sang pengacara Jiya datang ke kantor polisi.
__ADS_1
“Selamat malam bu Jiya, maaf kalau saya terlambat,” Kashir pun menjabat tangan Jiya.
“Tidak apa-apa pak, apa surat cerainya sudah selesai?” tanya Jiya.
“Sudah bu.” kemudian Kashir mengeluarkan map dari dalam tas kerjanya.
Alex yang melihat itu merasa lemas, walau katanya Jiya jelek, tua dan tak cinta, nyatanya melihat surat cerai itu pertama kalinya tubuhnya panas dingin dan bergetar.
Jiya pun membuka tiap lembar surat cerai itu dengan seksama agar tak terjadi kesalahan.
Lili yang juga ada disana merasa ingin pingsan.
Pasalnya Alex akan menjadi tanggungan keduanya setelah ibunya.
Semoga saja dia mau kerja, batin Rosa.
Setidaknya ada 2 sumber pemasukan ku, batin Rosa.
Ia yang hanya mementingkan diri sendiri selalu bersyukur akan nikmat Tuhan, meski Alex tak kaya, setidaknya ada yang memberikannya uang.
Yang penting bukan aku yang banting tulang, nanti juga kalau anaknya lahirkan lumayan, 1 ginjal 2 milyar, batin Rosa.
Rosa yang pernah mendonorkan organ ginjalnya, merasa jika hal itu di lakukan pada cucunya bukanla masalah besar.
“Ini!” Jiya menyerahkan bagian kertas yang paling akhir pada Alex, yang mama disana ada namanya dan juga materai 10.000.
Sudah berakhir, setelah ini aku akan jadi pria pada umumnya, banting tulang menghidupi keluarga ku, batin Alex.
Alex dengan penuh keraguan menanda tangani surat cerai itu.
Jiya yang melihat Alex melakukannya mulus tanpa beban menghela napas panjang.
“Maaf pak, ini masih ada satu lagi.” Edo pun menyerahkan selembar surat perjanjian yang di minta Jiya untuk Alex.
Sret sret sret..
Tanpa berlama-lama Alex pun menanda tanganinya.
Pada akhirnya Alex pun resmi lepas dari Jiya, kemudian ia pun menatap wajah Lili yang nampak pucat.
“Baiklah, semua sudah selesai, nanti aku akan mengirim jadwal sidang pada mu.” ucap Jiya, setelah itu Jiya bangkit dari duduknya.
“Aku pulang dulu, selamat menempuh hidup baru.” Jiya meraih tangan Alex.
Dingin, batin Jiya.
Jiya cukup kasihan pada Alex, ia tahu kalau lelaki yang pernah hidup bersamanya selama 10 tahun itu tidak tahu kerja.
“Iya.” jawab Alex dengan suara lemas.
“Ayo, Marwan.” Jiya pun beranjak pergi dengan satpamnya.
“Iya nyonya.” setelah itu Jiya dan Marwan pun keluar dari kantor polisi tersebut.
__ADS_1
Setelah sampai ke dalam mobil, Jiya menyandarkan kepalanya ke punggung bangku mobilnya.
“Jalan,” titah Jiya.
Alex yang masih ada dalam kantor polisi mengusap kepalanya.
“Maaf, aku gagal.” Alex merasa malu akan ketidak mampuannya.
“Sudahlah!” Lili yang tak tahu harus bicara apa memutuskan untuk keluar terlebih dahulu.
“Ayo, Alex.” Rosa pun mengajak menantunya untuk pulang.
Sesampainya Rosa dan Alex di depan kantor polisi, mobil online pun sudah datang menjemput mereka.
Lili pun masuk duluan yang di susul oleh Alex dan Rosa.
Selama perjalanan pulang ketiganya hanya diam.
Kira-kira usaha apa yang cocok agar tidak bangkrut? Ya Tuhan, ku pikir laki-laki ini akan membawa berkah, nyatanya aku salah, batin Lili.
“Lili jangan melamun, enggak baik loh nak.” Rosa mengelus punggung putrinya.
“Iya bu.” karena nasi telah menjadi bubur, Lili pun pasrah akan keadaan.
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam akhirnya mereka tiba di rumah.
Lili yang mengantuk langsung menuju kamar tanpa membahas yang baru saja mereka alami.
“Bu, aku ke kamar sekarang ya.” Alex meminta izin pada mertuanya.
“Iya nak, jangan begadang lagi ya, karena besok kau harus cari kerja,” ujar Rosa.
“I-iya bu.” seketika pundak Alex terasa berat saat Rosa mengatakan itu padanya.
Kemudian Alex pun berjalan menuju kamar dengan kepala yang sangat pusing.
Apa aku bisa tanpa Jiya? batin Alex.
Sesampainya di kamar, ia pun melihat Lili yang berbaring di atas ranjang seraya menutup mata.
Tap! Alex menutup pintu lalu berjalan ke ranjang
“Lili, apa kau baik-baik saja?” Alex khawatir jika istrinya sakit.
“Ingat mas, tanggung jawab mu besar, skincare ku tak boleh berhenti pemakaiannya, ibu ku boros dan kita semua suka makan enak, malam ini kau harus pikirkan mau melamar kerja kemana, pokoknya dengan Ijzajah SMA mu itu, kau harus punya gaji minimal 50 juta sebulan!” kemudian Lili menutup wajahnya dengan selimut.
Apa? 50 juta? batin Alex.
Ia pun menatap nanar kepala istrinya yang tidur membelakangi dirinya.
Alex yang merasa tertekan pun tak bisa tidur malam itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Keesokan harinya, saat Jiya baru bangun dari tidurnya, ia pun meraih handphone yang ada di atas meja yang ada di sebelah ranjang kamar tamunya.
“Jam 05:00? Akh... masih ngantuk!” Jiya malas bergerak dari ranjang yang belum pernah ia pakai sebelumnya.