
Setelah berjalan beberapa langkah mereka pun menemukan kamar nomor 94.
Lalu Jiya membuka pintu menggunakan kunci kamar bermodel kartu yang ukurannya sebesar KTP.
Tit! Jiya memutar handle pintu dengan perlahan.
Retek!
Krieeet!!!
Setelah pintu kamar terbuka lebar Jiya pun masuk terlebih dahulu.
Melihat Jiya yang berani tentu Dilan tak mau kalah.
Ia pun masuk lalu menutup pintu kamar itu rapat-rapat.
Jiya yang juga kedinginan menelepon pihak hotel lewat telepon yang terletak di sebelah dinding ranjang.
Halo, Tolong bawakan 2 teh manis panas, obat demam dan juga 2 nasi lauknya ayam, semua harus serba panas, antar ke kamar nomor 94, harus cepat karena ada orang sakit disini, terimakasih banyak, 📞 Jiya.
Siap bu, 📞 pegawai hotel.
Melihat Jiya yang perhatian padanya hati Dilan menjadi tersentuh.
Ia pun menjadi semakin sayang pada Jiya yang tak banyak bicara.
“Apa kau se-khawatir itu pada ku?” Dilan menatap hangat Jiya yang ada di pinggir ranjang.
“Tentu saja, karena aku enggak mau kau mati saat bersama ku.” jawab Jiya yang begitu menohok menusuk jantung Dilan.
“Sadis banget sih kalau ngomong.” Dilan cemberut pada Jiya.
“Aku bicara kenyataan Dilan, lagi pula kau itu sedang sakit, jadi enggak usah berpikir macam-macam.” lalu Jiya mengambil baju yang di sediakan pihak hotel di dalam lemari mini yang ada di depan rajang tepat di sebelah televisi yang di gantung di dinding.
“Sebaiknya kita ganti baju, kau mau duluan, atau aku? Atau kau mau sama-sama?” pilihan Jiya membuat Dilan tertegun.
Pasalnya Jiya tak hentu-hentinya membuat kejutan padanya.
“Kau kenapa sih? Kok jadi aneh? Pada hal kita enggak minum miras tadi, apa otak mu koslet?!” ucap Dilan.
“Ya sudah, kalau begitu aku duluan.” seperti biasa, Jiya berbuat sesukanya.
Gadis cantik dan imut itu pun masuk ke dalam kamar mandi.
“Hahaha!!” Jiya tertawa terbahak-bahak karena ia berhasil mempermainkan hati Dilan.
Lalu Jiya dengan cepat mengganti bajunya, setelah itu ia keluar dari kamar mandi.
Dilan yang duduk di pinggir ranjang melihat Jiya dengan setelan baju dan celana panjang abu rokok.
“Cepat masuk, nanti kau masuk angin lagi,” ujar Jiya.
Lalu Dilan bangkit dari duduknya dan lewat dari sebelah Jiya dan masuk ke kamar mandi.
Jiya yang menunggu Dilan menuju jendela yang menampilkan pemandangan lampu bangunan rumah, gedung dan juga kendaraan yang ada di jalan.
Hujan yang masih turun deras membuat kaca kamar hotelnya berembun.
“Haaah.” Jiya meniup kaca yang ada di dekat bibirnya.
__ADS_1
Setelah berkabut Jiya pun menulis namanya dan Dilan disana.
“Dilan love Jiya.” setela itu Jiya tertawa.
“Aku konyol banget sih.” Jiya yang ingin menghangatkan diri berniat masuk ke dalam selimut.
Namun dari luar kamar tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok!
Mendengar itu Jiya langsung bergegas menuju pintu dan membukanya.
Retek!
Krieeett!!
Jiya membuka separuh pintu kamarnya lalu ia pun melihat pramusaji datang mengantar pesanannya menggunakan meja dorong.
“Oh, silahkan masuk.” Jiya membuka pintu kamarnya lebih lebar.
Kemudian pramusaji itu mendorong meja berisi makanan itu masuk ke dalam kamar.
“Setelah selesai taruh di luar kamar saja kak, atau di dalam juga boleh, besok pagi saya akan datang untuk membersihkannya.
“Baiklah, terimakasih banyak.” lalu Jiya mengantar pramusaji tersebut menuju pintu.
Kemudian Jiya menutup pintu, setelah itu ia duduk di depan meja minimalis yang ada di dekat jendela.
Ceklek!
Suara handle pintu yang terbuka membuat Jiya menoleh ke arah kamar mandi, ia melihat rambut Dilan yang basah.
“Minum dulu biar perut mu hangat.” Jiya menyodorkan teh manis yang ada di tangannya pada Dilan.
“Terimakasih banyak.” Dilan menerimanya lalu menyeruputnya.
“Ayo, kita makan dulu setelah itu kau minum obat.” Jiya pun melangkah menuju meja makan.
Baik banget sih Jiya, ya... walau kadang kata-katanya menyebalkan, batin Dilan.
Kemudian Dilan duduk di kursi yang ada di sebelah Jiya.
Lalu Jiya mengambil nasi dengan tangannya dan mengarahkannya pada Dilan.
“Kata orang makan pakai tangan rasanya jauh lebih nikmat,” ucap Jiya.
“Kenapa hari ini kau romantis sekali?” Dilan sangat penasaran dengan alasan Jiya yang sebenarnya.
“Apa kau lupa ini hari apa?” Jiya mengingatkan Dilan.
“Bukannya ini hari Sabtu?” ujar Dilan.
“Iya, ini tanggal 17 September, hari ulang tahun mu yang ke 16 tahun.” lalu Jiya tertawa kecil.
“Kau mengingatnya?” Dilan yang tak perduli masalah bertambahnya usia sering lupa kalau dirinya berulang tahun setiap tahunnya.
Kemudian Jiya mengambil pemantik yang ada di saku piyama hotelnya.
Tik!
__ADS_1
“Ayo di tiup.” Jiya menggunakan itu sebagai lilin.
“Huffff...” Dilan meniup api pembatik tersebut.
“Hore!! Sebagai hadiahnya aku kasih kau makan banyak ya, eh bohong! ini.” Jiya memberikan sebuah jam tangan pada Dilan.
“Terimakasih banyak sayang.” Dilan pun membuka hadiah pemberian Jiya, lalu ia pun langsung memakainya.
Kemudian Jiya menyuap Dilan dengan tangannya sampai kenyang.
Setelah itu Jiya menyuruh kekasihnya untuk minum obat.
1 jam kemudian Jiya duduk di atas ranjang untuk menjaga Dilan yang sedang tidur di sebelahnya.
Suhu tubuh Dilan yang semakin panas dapat di rasakan wanita cantik itu meski mereka tak bersentuhan.
“Dilan, semoga kau cepat sembuh.” Jiya mengelus puncak ke kasihnya.
Jiya yang juga kelelahan tanpa sadar tidur dengan posisi duduk dan menyandarkan tubuhnya ke punggung ranjang.
Zzzzzz...
Perjalan panjang hari itu membuat Kita mendengkur keras hingga Dilan terbangun dari tidurnya.
“Jiya?” Dilan tak sampai hati melihat kekasihnya tidur dengan posisi duduk.
Lalu ia pun bangkit dan membantu Jiya untuk meluruskan tubuh di atas ranjang.
Saat Dilan akan merapikan poni Jiya yang menutupi wajahnya.
Dilan pun melihat bibir merah muda kekasihnya yang begitu menggoda.
Deg deg deg!
Jantung Dilan berdetak dengan sangat kencang, ia yang takut khilaf pun segera melepas tangannya dari Jiya.
“Astaga, kenapa Jiya jauh lebih cantik malam ini?” Dilan menggeser duduknya agar lebih jauh.
Namun Jiya yang telah tidur lelap tanpa sadar menggenggam tangan Dilan.
Dilan pun melirik Jiya yang matanya tertutup rapat.
“Meski pun dia tidur tapi dia tetap cantik dan sangat cantik.” cuaca malam yang begitu dingin membuat gejolak cinta di dalam dada Dilan menggebu-gebu.
Ia yang tak bisa menahan godaan bibir Jiya yang nampak lebih lezat dari buah stroberi akhirnya nekat untuk menciumnya.
Cup!
Itu adalah sentuhan pertamanya di bibir Jiya, sensasinya jelas berbeda dari cium pipi.
Deg!
Debaran yang semakin memabukkan membuat Dilan ingin melakukannya sekali lagi.
Cup!
Meski telah jadi korban keindahan Dilan untuk yang kedua kalinya tapi Jiya tetap tak bergeming.
Dirinya bagai orang yang di beri suntik penenang hingga perbuatan nakal kekasihnya tak dapat ia rasakan.
__ADS_1