
Jiya menatap risih Alex yang meminta-minta padanya tanpa ada rasa malu sedikit pun.
“Jangan mimpi aku kasih secuil pun, yang selama ini kau gelapkan belum lunas! Itu saja sedekah ku pada mu! Lagi pula kalau mau membahagiakan keluarga baru mu, harusnya kau cari kerja yang halal! Jangan malah mengemis atau bahkan mencuri, sama anak sendiri kok kasih uang haram!” Jiya menyunggingkan bibirnya.
“Pak Marwan, bawa benalu ini ke teras! Aku jijik melihat dia ada di kamar ku yang nyaman ini.” meski ruangan itu penuh kenangan dengan Alex, namun Jiya tak merasa trauma atau sakit hati jika berada disana.
“Baik nyonya. Ayo tuan!” Marwan yang kekar dan penuh energi menuntun Alex keluar dari kamar Jiya.
“Lepaskan aku! Dasar orang-orang laknat!” Alex yang ingin meronta tak mampu menggerakkan tubuhnya.
Selain karena Marwan lebih kuat, ia juga tak punya tenaga akibat merasakan sakit di bagian hidung dan perutnya.
Jiya pun geleng-geleng kepala melihat Alex, ternyata setelah cintanya habis ia pun baru menyadari betapa buruk dan jeleknya suaminya.
Heran, kenapa dulu aku bisa tergila-gila sama laki-laki miskin ini! batin Jiya.
Meski begitu Jiya tak pernah menyesal pernah menikah dengan Alex, karena Alex sang suami tidak berguna mengajarkannya mandiri dan kerja keras meski harus di sisihkan oleh keluarganya.
Kemudian Jiya pun mengikuti langkah Alex dan Marwan menuju teras.
“Lepas! Lepaskan aku, dasar manusia sialan!” Alex mengumpat tiada henti.
Jiya dan Marwan hanya diam, tak perduli dengan Alex katakan.
Sesampainya di teras ketiganya pun melihat mobil patroli polisi setempat berhenti di depan rumah Jiya.
Wiuwiuwiu!!
Suara sirene mobil polisi membuat Alex bergidik ngeri.
“Hentikan Jiya! Kau tidak bisa melakukan ini pada ku!” Alex berteriak hingga saliva dalam mulutnya menyembur.
“Diamlah! Kau benar-benar menyebalkan!” Jiya menyunggingkan bibirnya dengan angkuh.
“Selamat malam bu, perkenalkan saya Edo, tadi saya mendapat laporan ada tindak percobaan pembunuhan disini, apa ibu sendiri yang melapor?” tanya Edo pada Jiya.
“Benar pak, dia adalah suami yang ingin membunuh saya, tepatnya di kamar yang kami tempati selama ini, bukti-bukti masih ada disana pak.” terang Jiya dengan tegar.
“Baiklah, Ilhae!” Edo memanggil bawahannya.
“Siap komandan!” sahut Ilhae.
“Lakukan olah TKP, ibu dan bapak.” mata Edo mengarah ke Alex.
“Ikut kami ke kantor polisi untuk memberi keterangan lebih lanjut, bu Jiya dan bapak juga harus ikut.” Edo meminta Jiya dan Marwan menuju kantor polisi.
“Saya tidak bersalah pak, lihatlah! Yang berdarah itu saya, bukan dia!” Alex benar-benar takut jika mendekam di penjara.
“Maaf pak, bapak bisa jelaskan di kantor.” kemudian Edo mengambil borgol yang ia gantung di cantolan gesper nya, lalu Marwan pun melepaskan Alex darinya.
__ADS_1
“Jangan! Jangan pak, saya punya istri yang sedang hamil muda, dia butuh saya pak.” Alex mencoba negoisasi, namun pihak berwajib tak mau mendengarkan Alex.
Retek!
Kedua tangan Alex pun telah di borgol dengan rapat.
Alex yang biasa keras kini malah menjadi penakut, air matanya pun mengalir karena tak sanggup membayangkan nasibnya di penjara.
“Tolong pak, perempuan mandul itu yang salah, aku hanya ingin mengambil bagian ku untuk anak ku.” Alex terus membela dirinya.
Namun si polisi yang tegas tak mau mendengar kata-kata Alex.
“Nanti di kantor polisi saja bapak bicara panjang lebar,” ucap Edo.
Setelah itu Alex pun di giring Edo menuju mobil patroli polisi.
Kemudian Jiya dan Marwan pun menyusul menggunakan mobil pribadi Jiya.
Bremm...
Alex yang berada dalam mobil patroli mulai menangis sesungukan.
Ia sangat takut jika masa depannya berakhir di penjara, ia juga tak bisa membayangkan apabila Lili mencari ayah baru untuk anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lili yang ada di rumah terus menunggu ke datangan Alex.
“Kenapa perasaan ku jadi enggak enak?” Lili merasa terjadi sesuatu pada suaminya.
Lili yang resah dan tak bisa tidur tiba-tiba merasa pusing, ia pun melihat ke arah jam yang ada di dinding yang menunjukkan pukul 23:00.
“Sebaiknya aku istirahat.” Lili pun bangkit dari sofa.
Saat ia akan menuju kamar handphone yang ia pegang pun berdering. Dengan cepat Lili melihat ke layar handphonenya.
“Akhirnya mas Alex menelepon juga.” Lili dengan cepat menerima panggilan tersebut.
Halo, mas, 📲 Lili.
Hiks, Lili... 📲 Alex.
Mas, kenapa kau menangis? Ada apa? Kau ada dimana? 📲 Lili.
Lili panik bukan main mendengar isak tangis suaminya.
Aku di kantor polisi, Lili... 📲 Alex.
Apa?! 📲 Lili.
__ADS_1
Iya, tolong kau datang kesini, aku di kantor polisi pondok Mangga, hiks... 📲 Alex.
Ya sudah, tunggu disana, 📲 Lili.
Lili pun memutus panggilan teleponnya, setelah itu ia pun mencari ibunya ke kamar.
“Bu!” Lili membuka pintu kamar ibunya.
“Ada apa?!” Rosa bangkit dari ranjang.
“Mas Alex ada di kantor polisi bu,” ucap Lili dengan napas terengah-engah.
“Apa! Kok bisa?!” sontak Rosa turun dari ranjang.
“Aku juga enggak tahu bu, ayo ke kantor polisi bu, temani aku.” Lili takut jika harus pergi sendirian.
“Ayo-ayo!” Rosa pun mengambil tasnya.
Kemudian mereka berdua pun berangkat dengan menaiki taksi online.
Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, mereka pun sampai ke kantor polisi.
Lili dan Rosa pun masuk ke dalam kantor polisi dengan langkah tergesah-gesah.
Lalu Lili melihat suaminya yang sedang di interogasi penyidik, Jiya juga duduk di sebelah Alex.
“Mas!” Lili mendatangi suaminya.
“Lili!” Alex pun bangkit dari duduknya lalu memeluk istri mudanya.
Melihat pemandangan rukun itu membuat Jiya menyunggingkan bibirnya.
“Pokoknya aku enggak mau damai pak! Laki-laki itu harus di penjara!” Jiya menatap tajam ke arah Alex.
“Jiya! Kau kejam sekali! Pada hal mas Alex adalah suami mu sendiri, aku juga sedang hamil! Pakai perasaan mu sedikit Jiya!” Lili yang emosi berteriak pada Jiya.
“Heh! Jangan banyak bicara kau! Ini semua enggak akan terjadi kalau kau dan ibu mu enggak menyuruh si bodoh ini untuk membuat surat peralihan harta!” Jiya tahu kalau otak dari kebusukan itu adalah Lili dan Rosa.
“Bicara apa kau?!” Rosa ikut-ikutan membentak Jiya.
“Tante, aku sangat lelah, jangan memancing emosi ku!” Jiya tak suka dengan Rosa yang ikut campur.
Gawat! Kalau Alex sampai di cerai dan masuk penjara, kami akan jadi gembel, uang tabungan dan emas yang Lili simpan kan sudah ku habiskan untuk judi, batin Rosa.
Ia menjadi ketar ketir, apa lagi surat rumah Lili telah ia gadaikan ke rentenir untuk mengambil uang pinjaman.
Aku harus membujuk Alex untuk meminta maaf, batin Rosa.
Ia tak memikirkan sama sekali bagaimana perasaan menantunya.
__ADS_1