Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Biadab!


__ADS_3

Jiya yang awalnya tak pernah kerja jadi berpikir keras, karena jika ia mengandalkan penghasilan suaminya maka kehidupan mereka tidak akan ada peningkatan bahkan mereka sering terancam tak makan.


Dengan terpaksa Jiya yang tidak pernah bekerja kini harus mengikuti ibu-ibu di desanya untuk kerja serabutan.


Jiya yang sangat butuh uang mengerjakan apapun asal itu halal.


Awalnya Alex melarang karena ia tak ingin istrinya kelelahan, namun karena Jiya tetap memaksa Alex pun mengizinkan.


Hari itu musim panen, Jiya pun mengikuti kelompoknya untuk memetik cabai ke kebun kepala desa.


Panas yang begitu terik membuat Jiya dehidrasi namun ia yang kejar target untuk mendapat upah yang lebih banyak memaksakan diri memenuhi keranjang gendongnya.


Bruk!


Jiya yang terlalu lelah tumbang dan menimpa beberapa pohon cabai yang ada di hadapannya.


Teman-temannya yang melihat itu pun buru-buru menggotong Jiya ke pondok yang di sediakan sebagai tempat istirahat bagi para bekerja.


2 jam kemudian Jiya terbangun dari pingsannya, ia pun melihat langit-langit rumahnya yang tanpa loteng.


“Kau sudah bangun?” Alex mengelus puncak kepala istrinya.


“Kok aku di rumah Lex?” tanya Jiya karena ia ingat tadi dirinya ada di ladang.


“Siti tadi datang memberitahu ku kalau kau pingsan, makanya aku menjemput mu,” ujar Alex.


“Oh iya.” seketika Jiya ingat saat pandangannya menjadi gelap gulita.


“Maafkan aku Jiya karena aku belum bisa membahagiakan mu, andai perekonomian kita cukup, pasti kau tidak akan ikut banting tulang.” mata Alex memerah karena menahan air matanya.


“Tidak apa-apa, saat ini rejeki kita memang begini, semoga ke depan kita bisa jadi orang sukses.” Jiya menggenggam tangan suaminya.


Karena Jiya terlihat tegar Alex pun merasa tenang dan lama kelamaan ia juga mengharapkan tenaga Jiya untuk memenuhi kebutuhan dapur, bahkan Alex juga sering bertanya berapa penghasilan istrinya setiap kali pulang kerja.


Sebenarnya Jiya agak risih dengan sikap suaminya, tapi apa boleh buat ia yang terlanjur cinta tak bisa protes pada suaminya.


Pada suatu hari ketika Jiya akan pergi berbelanja ke pasar ia pun membuka uang yang ia simpan dalam bekas kaleng Kong Guannya.


Jiya yang sudah lama tak makan daging berencana memasak rendang hari itu.

__ADS_1


Namun saat ia telah membuka kaleng celengan tersebut ia kaget bukan main karena uang yang ia kumpulkan selama ini habis tak tersisa.


“Kemana uang ku?” Jiya berulang kali melihat ke dalam kaleng seraya memasukkan tangannya ke dalam.


“Kok bisa hilang? Hiks... pada hal aku mau makan enak dan itu juga modal untuk buka warung sayur.” Jiya menangis histeris sebab untuk memenuhi celengannya itu ia harus rela makan tanpa lauk setiap harinya.


Suami yang ia cinta juga semakin hari makin jarang memberi uang belanja.


“Siapa yang tega masuk ke rumah ini? Ya Allah tega benget sih orangnya.” Jiya meraung-raung seraya memeluk celengannya.


Tak lama Alex pun pulang dengan keadaan mabuk parah.


Jiya yang melihat kedatangan suaminya langsung menceritakan peristiwa malang yang menimpa mereka.


”Lex, tabungan ku di curi, ada orang yang masuk ke rumah kita,” ucap Jiya.


“Aku yang ambil.” jawab Alex tanpa sadar.


“Jadi kau yang ambil? Untuk apa Lex? Aku mengumpulkannya dengan susah payah untuk modal usaha, sekarang mana uangnya?” Jiya menadahkan tangannya untuk meminta kembali hasil jeripayah nya.


“Sudah habis.” ucap Alex seraya memegang kepalanya yang teras pusing.


“Aku main judi, maafkan kau Ji, aku enggak bermaksud buruk, aku hanya ingin membantu mu, pada hal aku yakin banget pasti menang, tapi sial! Akh! Angka ku meleset, aku yakin mereka pasti berbuat curang.” Alex mengatakan kekesalannya pada istrinya.


“Dasar gila! Kau malah main judi dengan uang ku? Jangan-jangan selama ini kau enggak pernah kasih uang belanja gara-gara kalah judi lagi!” Jiya dapat mengerti arti perubahan suaminya.


“Jiya, aku melakukannya demi merubah nasib, sekali menang kau tahu dapat berapa? Puluhan juta.” Alex mengatakan sesuatu yang hanya ada dalam angan-angannya.


“Mana buktinya, enggak adakan? Dasar laki-laki enggak berguna!” Jiya yang murka meninggalkan suaminya, ia berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Jiya pun berangkat tanpa membawa apapun kecuali baju yang ada di badannya.


“Kau mau kemana Jiya?!” Alex yang sempoyongan mengejar istrinya.


“Aku mau pulang ke rumah orang tua ku!” Jiya bergegas keluar rumah menuju jalan raya.


Alex yang tak ingin di tinggal Jiya yang sudah lama menafkahinya tentu tidak rela jika wanita itu pergi.


Aku harus mempertahankannya, bisa-bisa uang penghasilan ku malah berkurang buat masuk kafe lagi, batin Alex.

__ADS_1


Ternyata selama ini Alex menggunakan uang yang ia dapat untuk bermain judi, main wanita dan minum-minum alkohol bersama teman-temannya.


Parahnya Alex masih sering meminta uang bensin pada Jiya jika ia ingin pergi kerja serabutan dengan orang lain.


Alex pun mengikuti Jiya sampai ke pinggir jalan.


“Jiya, jangan pergi, aku janji enggak akan mengulanginya lagi sayang.” Alex memeluk Jiya yang bersimbah air mata.


“Tidak, aku sudah muak dengan mu lebih baik kita berpisah karena aku tidak suka dengan laki-laki yang main judi!” Jiya yang telah muak tak mau lagi bersama suaminya.


Pada saat bis datang Jiya dengan cepat menghentikannya.


“Jiya jangan pergi sayang,” Alex menahan tangan istrinya.


“Menyingkir kau sialan! Dasar laki-laki enggak berguna!” lalu Jiya mendorong tubuh Alex hingga terjatuh ke tanah.


Setelah itu Jiya naik ke dalam bis dan meninggalkan suaminya yang membuat ia kecewa.


“Aku akan minta maaf pada mereka semua.” Jiya yakin jika keluarganya akan menerima ya kembali jika ia memohon dengan sungguh-sungguh.


Alex yang ada di pinggir jalan menatap nanar ke arah bis yang di tumpangi istrinya.


“Istri kurang ajar! Pada hal aku sudah baik padanya selama ini, hanya karena uang dia malah meninggalkan ku.” Alex merasa kalau istrinya lah yang bersalah.


Setelah 8 jam dalam perjalanan akhirnya Jiya sampai di rumah orang tuanya.


Kinan yang baru pulang kerja melihat ada seorang wanita berbaju lusuh di depan gerbang rumahnya.


“Pak, tolong berhenti di sebelah wanita itu,” titah Kinan pada supirnya.


“Baiknya nyonya.” kemudian Farhat menghentikan mobil yang ia setir tepat si sebelah Jiya.


Jiya yang melihat mobil ibunya merasa senang bukan main.


Jiya pun tersenyum lebar ke arah ibunya yang ada di bangku kedua dalam mobil tersebut.


Kinan yang tak mengenali Jiya yang wajah dan fisiknya telah berubah 90 persen mengira kalau putrinya adalah seorang pengemis.


__ADS_1


__ADS_2