Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Kenangan


__ADS_3

Selanjutnya Dilan melihat photo feed Instagram Jiya.


“Astaga, kiriman terakhir 8 tahun yang lalu?” Dilan pun melihat photo toko Jiya yang baru baru pertama kali buka.


Kemudian ia juga melihat 1 photo Jiya yang sedang tersenyum lebar di pinggir pantai.


Dilan ingat betul kalau dirinyalah yang memotret Jiya saat itu.


“Dari dulu sampai sekarang dia tetap tertutup, sampai saat aku meninggalkannya juga dia enggak koar-koar seperti wanita lain.” Dilan pun mengingat kembali kenangan indahnya dengan Jiya 13 tahun yang lalu.


...Flash Back...


Dilan yang baru keluar dari gerbang sekolahnya buru-buru melajukan motornya menuju sekolah Tunas Bangsa tempat kekasihnya Lee Jiya menuntut ilmu.


“Aku sudah telat banget nih,” gumam Dilan.


Ia pun takut jika kekasihnya marah padanya jika ia terlalu lama datang, karena jarak tempuh ke sekolahnya Jiya mencapai 20 menit.


Bremmm!!


Dilan pun melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


Meski jalanan pemerintah padat tapi Dilan yang telah profesional mengendarai sepeda motor dengan mudah mencari celah agar bisa lewat.


Ciiitt!!


Tak terasa ia pun sampai di depan sekolah kekasihnya. Ternyata Jiya sang pujaan hati telah duduk di halte yang ada di sebelah gerbang sekolah tersebut.


Tin tin!


Dilan membunyikan klakson motornya, sontak Jiya menoleh ke arah Dilan.


“Dilan?” ia pun bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah kekasihnya.


“Kau lama banget sih sayang, sampai tinggal aku seorang di sekolah ini!” Jiya kesal pada kekasihnya.


“Maaf sayang aku memang bersalah karena itu aku tetap datang menjemput mu,” ujar Dilan.


“Ya sudahlah, sekarang kita mau kemana?” tanya Jiya seraya naik ke atas motor kekasihnya.


“Ke pantai, bagaimana? Disana lagi ada konser SJ, aku suka sekali idol group yang satu itu.” Dilan mengatakan pendapatnya.


“Kesana juga boleh, sudah lama telinga ku tak mendengar hiburan,” ucap Jiya.


“Oke, kalau begitu kita berangkat!” seru Dilan seraya meremas gas motornya.


Bremmmm!!!!


“Sayang.” Dilan menggenggam tangan Jiya yang sedang memeluk dirinya.


“Ada apa sayang?” sahut Jiya.

__ADS_1


“Konsernya baru mulai jam 18:00, enggak apa-apakan kalau kau pulang malam?” Dilan takut jika orang tua Jiya akan marah.


“Aman, keluarga ku sedang keluar kota untuk menghadiri pernikahan sepupu ku,” ujar Jiya.


“Oh, kalau begitu malam ini kita habiskan waktu sampai pagi ya!” Dilan berkata demikian karena besok adalah hari minggu.


“Oke!” Jiya yang bersemangat memeluk kekasihnya semakin kencang.


Setelah beberapa saat dalam perjalanan keduanya pun sampai di pintu masuk pantai.


Lalu Dilan dan Jiya turun dari motor untuk membeli tiket.


“2 tiket kak.” pinta Dilan seraya mengeluarkan uang senilai 500 ribu rupiah.


Kemudian karyawati penjaga tiket itu melihat Jiya dan Dilan dengan seksama.


“Kenapa enggak ganti baju dulu baru main?” si karyawati yang telah beranak dua tak suka melihat kedua pasangan muda itu tak pulang terlebih dahulu ke rumah.


“Maaf kak, soalnya kami takut kehabisan tiket konser, lagi pula rumah kita jauh dari sini.” Dilan menggaruk kepalanya karena grogi.


“Ya sudah, nanti pulangnya jangan malam-malam ya.” setelah itu karyawati penjaga tiket tersebut memberikan dua tiket dan kembalian 20 ribu pada Dilan.


“Terimakasih banyak kak.” dengan perasaan malu Dilan dan Jiya kembali ke motor.


Bremmm!!


Keduanya pun melaju menuju tempat konser akan di laksanakan.


“Ibu-ibu yang tadi sibuk banget ya, pada hal kerjaannya kan hanya menjual tiket.” Jiya tak suka pada karyawati penjaga tiket yang menasehati mereka.


Ciiitt!!


Dilan merem motornya tepat di depan toko baju.


“Kita ngapain?” Jiya tak tahu tujuan Dilan.


“Mau beli baju, nanti pas seru-seru joget malah di suruh pulang sama satpam lagi, hehehe...” Dilan tertawa cengengesan.


Melihat tawa kekasihnya Jiya tersenyum, lalu turun dari atas motor.


Kemudian Dilan mematikan mesin motornya lalu menurunkan standar, setelah itu ia mengikuti Jiya yang telah masuk terlebih dahulu ke dalam toko.


Krenteng!


Bunyi pintu otomatis pun terdengar saat Dilan mendorong pintu kaca toko tersebut.


“Selamat datang kak, silahkan lihat-lihat bajunya dulu.” pemilik toko yang berdiri di kasir menyambut ramah Dilan yang baru masuk.


“Terimakasih banyak kak.” lalu Dilan mendatangi Jiya yang sedang memilih-milih baju dari sisi kanan pintu.


“Kita ambil baju yang sama ya.” Dilan ingin ia dan kekasihnya memakai baju yang sama kali itu.

__ADS_1


“Enggak mau ah! Lucu banget harus pakai baju kembar.” Jiya si tipe wanita yang tak bisa romantis menolak usul kekasihnya.


“Pokoknya harus sama, aku enggak mau tahu kali ini kau enggak boleh menolak!” Dilan yang selalu mengikuti mau Jiya kali itu bertindak tegas.


“Baiklah.” Jiya akhirnya mengalah karena ia melihat Dilan begitu menginginkan hal itu.


“Aku mau ini!” Dilan memilih baju kemeja warna merah dengan motif bunga raya yang di padukan daun buah sawit.


“Ck, jangan yang ini, gambarnya rame banget.” Jiya tak suka baju cerah penuh warna pilihan Dilan.


“Namanya juga di pantai, pokoknya aku mau yang ini!” Dilan tak mau mendengar penolakan dari Jiya.


“Ya sudah.” karena Dilan bersikukuh Jiya pun mengangguk setuju.


Setelah sepakat Jiya dan Dilan pun melakukan pembayar ke kasir.


“Ini kak.” Dilan menyerahkan 2 setel baju lengkap dengan celana potong warna navy sepanjang lutut.


Tit!


“Totalnya 200 ribu rupiah ya kak.” kemudian si pemilik toko membungkus 2 setel baju itu ke dalam plastik.


Lalu Dilan mengeluarkan uang dari dompetnya senilai yang di katakan si pemilik toko.


“Terimakasih kak.” si pemilik toko pun menyerahkan baju milik Dilan dan Jiya lengkap dengan struknya.


“Kami ganti baju disini ya kak,” ucap Dilan.


“Boleh kak, silahkan ke ruang ganti.” si pemilik toko menunjuk ke arah 2 ruangan yang jaraknya 30 meter dari kasir.


“Terimakasih banyak kak.” ucap Dilan dan Jiya.


Kemudian keduanya pun menuju ruang ganti dengan buru-buru karena mereka ingin segera ke tempat konser.


5 menit kemudian pasangan muda itu keluar, lalu Jiya dan Dilan melihat satu sama lain dan tertawa bersama sebab itu pertama kalinya mereka memakai baju yang sama.


Setelah itu mereka pun keluar dari toko


menuju restoran Amerika yang ada di pinggir pantai pasir putih itu menggunakan motor.


Sesampainya mereka di parkiran restoran mereka pun turun dari motor dan menuju ke dalam restoran untuk melepas perut mereka yang keroncongan dari siang.


Selesai makan keduanya pun menuju tempat konser yang telah ramai di datangi para penonton dengan berjalan kaki.


Jiya dan Alex berpegangan tangan untuk mencari posisi yang asyik menonton idola mereka tampil.


“Ramai ya,” ucap Jiya.


“Iya,” sahut Dilan.


Napas Dilan yang begitu hangat pun terasa di pipi Jiya.

__ADS_1


Sontak Jiya menoleh ke arah kekasihnya yang wajahnya begitu dekat padanya.



__ADS_2