
Alex sendiri hanya menonton apa yang di lakukan istrinya, pada hal waktu itu ia telah sembuh.
Namun Alex yang pemalas dan telah ketergantungan pada Jiya enggan untuk turun tangan.
Jiya sendiri tak marah, bahkan wanita yang di buta kan oleh cinta itu menganggap itu wajar karena suaminya baru pulih.
“Hiks...” Alex yang di mandikan oleh perawat laki-laki itu terus menangis tiada henti mengingat kebaikan Jiya di masa lalu.
Kenapa kau berubah Ji? Kemana dirimu yang dulu tergila-gila pada ku? Andai kau cantik pasti aku tidak akan melirik wanita lain, batin Alex.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jiya yang baru tiba di restoran lintas timur melihat kesana kemari untuk mencari keberadaan Dilan.
Dimana sih dia! batin Jiya.
“Ck! Kenapa aku enggak telepon dia dulu ya sebelum kesini, haih...” Jiya merasa konyol dengan dirinya sendiri.
“Iya, harusnya kau telepon aku dulu.” ucap Dilan yang berdiri tepat di belakang Jiya.
Sontak Jiya menoleh ke belakangnya, dan ia pun melihat pria tampan namun menyebalkan itu tersenyum padanya.
“Untung aku tak menunggu terlalu lama.” ucap Jiya seraya melangkahkan kakinya menuju salah satu meja yang ada di dalam restoran itu.
“Hei, kita masuk room saja.” Dilan tak nyaman bicara di lihat banyak orang.
“Aku tidak mau.” Jiya menolak karena ia akan canggung menatap wajah Dilan.
“Ayolah, aku tidak akan macam-macam pada mu kok, lagi pula kalau kita bicara disini aku takut kau teriak-teriak di depan umum,” ujar Dilan.
Jiya terdiam sejenak untuk memikirkan apa yang di katakan Dilan.
Benar juga, nanti orang-orang tahu lagi masa lalu ku, batin Jiya.
“Baiklah, tapi kau yang pesan makanan.” setelah mengatakan itu Jiya pun berjalan terlebih dahulu menuju room 5.
Draakkk!!!
Jiya yang baru menggeser pintu room pun melihat suasana tempat makan yang nyaman.
Selain meja persegi 4 di sana juga ada televisi untuk menonton dan juga karaoke.
“Bagus juga.” lalu Jiya masuk ke dalam dan duduk di sebelah dinding karena terlihat nyaman.
Dilan yang baru datang pun melihat suasana room itu terlebih dahulu lalu ia pun menutup pintunya.
Draakkk!
Jiya tiba-tiba merasa sesak saat mereka berdua ada di tempat sempit berduaan.
Tapi Jiya mencoba tenang agar tak di ejek Dilan.
__ADS_1
“Kenapa kau tegang begitu?” sapa Dilan seraya duduk di atas di kursinya.
“Siapa bilang?” Jiya menyibukkan diri dengan membersihkan meja yang ada di hadapannya dengan tisu yang ia ambil dari atas meja itu sendiri.
“Aku, wajah mu juga pucat, apa kau hamil?” Dilan tak sadar kata-kata bercandaannya membuat Jiya sakit hati.
“Aku belum hamil sejak saat itu,” ucap Jiya.
Sontak senyum Dilan jadi hilang karena ia sadar kalau dirinya telah menyakiti hati Jiya.
“Sudah berapa lama kau menikah?” tanya Dilan.
“10 tahun sejak aku tamat SMA,” jawab Jiya.
“Apa kau...” saat Dilan ingin melanjutkan pertanyaannya tiba-tiba seorang pramusaji mengetuk pintu room mereka.
Tok tok tok!
“Permisi saya mau antar makanan.” ucap si pramusaji dari balik pintu.
“Masuk,” titah Dilan.
Lalu pramusaji itu pun membuka pintu dengan sangat pelan.
Drakkk...
“Maaf mengganggu waktunya bapak, ibu.” lalu sang pramusaji pun masuk dan menghidangkan makanan yang di pesan Dilan yaitu spaghetti daging panggang dan jus lemon.
Jiya pun menatap nanar makanan yang ada di hadapannya karena itu adalah menu favorit mereka berdua semasa pacaran.
Jiya merasa Dilan sengaja melakukan itu padanya.
“Apa kau sudah punya pacar?” Dilan menggoda pramusaji cantik yang sedang melayani mereka.
“Saya janda anak satu pak.” jawaban sang pramusaji membuat Jiya tersenyum kecil.
Dasar buaya rawa, batin Jiya.
Dilan sendiri tertegun saat mendengar pengakuan wanita itu.
“Maaf, ku pikir kau siswi baru tamat SMA, wajah mu ternyata menipu ku.” bukan Dilan namanya kalau tidak mengatakan sesuatu yang manis pada seorang wanita.
Jiya yang mendengar itu hanya tertawa getir seraya geleng-geleng kepala.
Sejak kapan dia jadi lebay begitu, batin Jiya.
“Terimakasih banyak pak atas pujiannya.” pramusaji itu tersenyum lalu keluar dari room itu seraya menutup pintu.
Kemudian Dilan melihat Jiya yang ekspresinya biasa saja.
“Gadis itu cantik ya.” Dilan bermaksud ingin menggoda Jiya.
__ADS_1
“Iya, kalian berdua terlihat mirip,” ungkap Jiya.
“Astaga, kau ini serius sekali pada hal aku hanya bercanda.” Dilan pun meminum jus lemon nya melalui sedotan.
“Oh.” Jiya yang cuek hanya menganggukkan kepalanya.
“Oh ya, aku sampai lupa, apa kau pernah keguguran?” Dilan melanjutkan pertanyaannya yang sebelumnya.
“Iya,” sahut Jiya.
Dilan menatap wajah Jiya yang sedang mengaduk-aduk spaghettinya.
Lebih baik aku tanya hal ini lagi, batin Dilan.
“Aku turut berduka cita, maaf kalau aku menanyakan hal itu,” ucap Dilan.
“Ya, enggak apa-apa, oh ya kau bilang ingin meluruskan beberapa masalah dengan ku, bisa ke intinya saja?” Jiya tak ingin membahas hal-hal yang di luar konteks dengan Dilan.
“Kenapa kau pergi meninggalkan aku? Dan kenapa waktu itu kau datang ke sekolah ku? Bisakah kau jawab dengan jujur?” Dilan benar-benar penasaran dengan jawab Jiya.
“Oh, yang pertama karena aku jijik pada mu dan yang kedua aku mengandung anak mu dari hasil perbuatan mu malam itu.” setelah mengatakannya Jiya menyantap spaghetti yang ada di piringnya dengan garpu.
Deg!
Mendengar pengakuan Jiya hati Dilan menolak untuk percaya.
Deg!
“Kau pasti bohong.” Dilan berpikir kalau Jiya bercanda padanya.
Respon Dilan membuat selera makan Jiya hilang.
“Kau pikir perbuatan mu tidak membuahkan hasil? Karena mu hidup ku jadi susah, dikucilkan di bully, tak punya muka di hadapan keluarga, saat ku temui kau, ternyata kau sudah punya wanita lain.” Jiya geleng-geleng saat mengingat kisah masa lalunya yang begitu pelik.
“Waktu itu ku pikir aku akan mati muda karena merasa tertekan dari segala arah.” Jiya pun mengatakan kesulitan yang ia lalui.
Dilan yang mendengar pun antara percaya dan tidak pada mantan kekasihnya.
“Kalau memang benar, kenapa kau tidak mengatakan tujuan mu waktu itu? Lalu dimana anak yang kau kandung itu?” Dilan butuh bukti dari semua pengakuan Jiya.
“Demi masa depan ku yang masih panjang, aku mengikuti keinginan semua orang, yaitu menggugurkannya,” ucap Jiya.
Deg!
“Jiya! Kau bisa serius enggak?” Dilan marah karena Jiya seperti mempermainkannya.
Lalu Jiya pun meletakkan garpu yang ia pegang.
“Kau pikir aku bercanda? Untuk apa aku mengatakan hal-hal memalukan itu kalau tidak benar? Apa kau pikir aku tak cukup baik dengan membiarkan mu lepas tanggung jawab? Sudah begitu kau tak mencoba menghubungi ku!” Jiya berteriak pada Dilan.
Melihat wajah serius Jiya Dilan langsung percaya, karena ia tahu betul Jiya bukan tipe wanita yang banyak drama.
__ADS_1