
“Iya sayang, tenang saja.” Alex mengelus rambut Lili yang indah dengan lembut.
...****************...
Keesokan harinya Alex pun berpamitan pada Lili untuk berangkat mencari kerja.
Alex yang bersemangat dan percaya akan dapatkan pekerjaan pun mendatangai satu persatu toko-toko yang ada di pasar.
Sayangnya dari banyaknya yang ia datangi belum ada yang bersedia menerimanya kerja.
Alex yang masih memiliki semangat juang tak mau menyerah begitu saja.
Ia pun kembali melajukan motor Lili menuju kawasan PT yang memproduksi pakaian.
“Maaf pak, usia bapak sudah melewati batas maksimal untuk karyawan kami, disini para pelamar baru maksimal umurnya adalah 24 tahun, lebih dari itu tidak bisa lagi.” ucap sang satpam yang berjaga di gerbang masuk PT
“Baik, terimakasih banyak pak.” ucap Alex dengan perasaan kecewa.
Alex pun naik kembali ke motornya, setelah itu melaju membelah jalan raya menuju perusahaan yang belum ia datangi.
Saat Alex dalam perjalanan matanya pun tanpa sengaja melihat Supermarket Jiya yang ramai di datangi pengunjung.
Baru kemarin aku jadi bos disana, batin Alex.
Ia yang kelelahan karena belum makan siang pun meminggirkan motornya ke bawah pohon besar yang ada di seberang Supermarket mantan istrinya.
Kemudian Alex turun dari atas motor, lalu duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon besar dan rindang tersebut.
“Huffttt...” Alex menghela napas panjang, ia yang kehausan pun mengambil air minum dalam botol yang ia bawa dari rumah.
Gluk gluk gluk!!
Alex yang sedang asyik melepas dahaganya yang kering tiba-tiba melihat para karyawan Lee Jiya keluar dari toko untuk makan siang.
“Uhuk uhuk uhuk!” sontak Alex batuk-batuk karena gugup, ia juga takut jika para mantan bawahannya itu melihatnya.
Alex pun segera bangkit dari duduknya, saat ia akan pergi salah satu karyawan yang akan sampai ke pinggir jalan melihat Alex.
“Pak Alex!” ucap Reno.
Sontak teman-temannya yang lain tahu jika laki-laki yang memakai helm di hadapan mereka adalah Alex, suami bos besar mereka.
Alex yang tertangkap basah tak bisa mengelak lagi, ia pun membuka kaca helmnya lalu menoleh ke arah kanannya.
“Eh hehehe... kalian semua mau kemana?” sapa Alex dengan perasaan berdebar-debar.
Ia sangat takut jika para mantan karyawannya bertanya soal pekerjaannya.
__ADS_1
“Mau rehat disini pak, pakk Alex sendiri mau kemana?” tanya Rino berbasa-basi.
“Mau pulang,” sahut Alex.
“Pulang? Ini baru jam 13:00, apa bapak tidak bekerja?” ucap Rino yang ingin tahu soal Alex.
“Ah, itu...” Alex bingung mau menjawab apa.
“Bapak masih kerja disini enggak?” tanya Delfi seraya duduk di atas bangku.
“Sudah enggak lagi.” jawab Alex dengan menahan rasa malu yang ada dalam hatinya.
“Kenapa pak? Apa karena sudah berpisah dengan bu Jiya?” tanya Delfi lebih lanjut
Hah? Darimana mereka tahu? batin Alex.
“Enggak juga, saya yang mengundurkan diri dan menyerahkan segalanya pada bu Jiya." Alex berkata demikian untuk menjaga harga dirinya.
“Bapak dan ibu cerai, karena pak Alex ketahuan selingkuh kan?” Marco yang usil membuat Alex merasa tak nyaman.
“Bu-bukan bukan begitu.” Alex yang ingin pulang menjadi serba salah, sebab ia merasa tak enak jika pergi begitu saja.
Kesannya aku terlihat bersalah kalau kabur sekarang, batin Alex.
“Semua orang sudah tahu soal hubungan bapak dan bu Lili, apa bapak belum melihat video yang beredar di media sosial?” ucap Lakme.
“Bapak harus lihat dan kalau kemana-mana sebaiknya jangan buka helm, takutnya ada yang kenal bapak, nanti malah di pukuli lagi.” ucap Lakme dengan raut wajah meledek.
“Jangan mengada-ngada ya Lakme!” pekik Alex.
“Terserah bapak mau percaya atau tidak, masyarakat jaman sekarang ganas-ganas, hanya dengan jempolnya saja sudah bisa membunuh mental bahkan nyawa orang lain,” ucap Lakme.
“Kau benar, bahkan orang-orang yang viral karena kejahatannya bisa membawa dampak besar bagi hidup orang itu sendiri, contohnya enggak di kasih kerja sama orang lain.” secara tak langsung Reno menakut-nakuti Alex.
Mereka berempat tahu kalau Alex sedang mencari kerja, terlihat dari seragam hitam putih yang Alex pakai.
“Kalian bicara apa sih? Jangan mengatakan yang tidak-tidak.” Alex marah pada mantan karyawan yang menyindirnya secara langsung.
“Maaf kalau bapak merasa tersinggung, tapi apa bapak sendiri sudah dapat kerja?” tanya Delfi.
“Sudah, aku baru saja di terima kerja di BUMN.” Alex terpaksa berbohong agar tak di remehkan.
“Wah! Keren pak, kalau begitu traktir kita dong pak, bakso saja loh pak, pasti bisa,” pinta Lakme.
“Benar pak, bakso paling hanya 15.000, boleh ya pak.” Reno mendukung permintaan Lakme.
Alex yang terlanjur berdusta tak bisa menolak permintaan mantan karyawannya.
__ADS_1
“Ya sudah, kalian pesan saja.” dengan berat hati Alex memberikan apa yang di inginkan Lakme dan kawan-kawan.
Kemudian Lakme memanggil abang tukang bakso keliling yang mangkal 10 meter dari tempat mereka duduk.
“Bakso pak!!!”
Alex yang tak ingin di kerjai para mantan karyawannya pun mengambil inisiatif.
“Ini uangnya.” Alex memberikan uang 100 ribu pada Reno.
“Terimakasih banyak pak,” ucap Reno.
“Kalau begitu saya pergi dulu.” Alex pun segera menyalakan mesin motornya.
Setelah itu meluncur membelah jalan raya untuk mencari kerja lagi.
Reno, Lakme, Delfi dan Terios yang menyaksikan itu tertawa terbahak-bahak, mereka cukup senang bisa membuat Alex susah.
Sialan! Pada hal itu uang buat membeli ikan dan beras, batin Alex.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, Jiya yang akan pulang kerja menuju parkiran.
Saat Jiya ada di lobby kantor, tanpa sengaja ia melihat Alex sedang duduk di kursi yang ada di depan pintu masuk.
“Jiya...” wajah Alex nampak senang saat bertemu Jiya.
“Mau apa kau kesini?!” tanya Jiya dengan santai.
“Apa kita bisa bicara sebentar?” Alex berharap Jiya bersedia.
“Bukannya urusan kita sudah selesai?” ucap Jiya yang tak ingin beramah-tamah dengan Alex.
“Iya, tapi aku ingin minta tolong pada mu, ku harap kau mau.” wajah Alex yang nampak menyedihkan membuat hati Jiya iba.
“Baiklah.” Jiya pun duduk di sebelah Alex yang terlihat kelelahan.
“Ada apa?” Jiya cukup penasaran dengan apa yang akan di katakan Alex.
“Jiya, aku tahu ini tak pantas untuk ku katakan, tapi Jiya... apa kau bisa memberi ku pekerjaan?” Alex yang tak di terima kerja dimana-mana terpaksa meminta tolong pada mantan istrinya.
“Tidak bisa, aku tak ingin punya urusan lagi dengan mu.” Jiya menolak karena sudah terlanjur benci pada pengkhianatan Alex.
“Aku juga tidak akan mau datang kesini kalau bukan karena terpaksa, aku hiks... tidak di terima kerja dimana pub.” Alex menangis sesungukan.
Jiya terkejut melihat Alex yang dulunya sangar dan egois kini menjadi seorang yang cengeng.
__ADS_1