
“Jiya! Aku serius, jangan mentang-mentang aku miskin kau seenaknya pada ku!” pekik Alex.
“Aku juga enggak tahu Lex! Sudahlah aku lelah dan lapar.” Jiya kesal pada Alex yang selalu membuatnya emosi.
“Kau enggak boleh memakan itu!” Alex melarang Jiya memakan nasi pemberian Parman.
“Maksud mu?” tanya Jiya dengan menaikkan kedua alisnya.
“Buang!” titah Alex.
“Enak saja! Aku lapar tahu! Memangnya kau sendiri enggak lapar?!” Jiya yang ingin segera mengisi perutnya yang keroncongan meninggalkan suaminya yang malas di tanah kosong itu sendirian.
Ruggg!!
Suara perut Alex yang berdendang membuat ia menelan ego dan menjatuhkan harga dirinya, ia pun bergegas menyusul istrinya.
Sesampainya di rumah Alex mengambil nasi bungkus yang ada di tangan Jiya.
“Kita bagi dua.” Alex yang sudah gemetaran karena tak makan dari siang bergegas ke dapur untuk mengambil dua piring.
Kemudian ia kembali ke ruangan kecil yang mereka anggap ruang tamu.
Alex pun duduk di lantai lalu ia membuka bungkusan nasi yang masih mengeluarkan asap.
Setelah itu Alex membagi dua nasi tersebut, tentunya bagiannya lebih jauh banyak.
Jiya yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
Dasar! Laki mental kucing, batin Jiya.
Walau pun Jiya kesal tapi ia tak bisa meninggalkan Alex, sebab ia malu berpisah dengan orang yang telah membuatnya di buang oleh kelurganya.
Jiya juga ingin membuktikan kalau ia bisa sukses bersama suami yang entah kapan bisa jadi dewasa.
Keesokan harinya, karena uang telah cukup Jiya meminta bantuan 3 tukang untuk membangun toko sederhana dengan ukuran 3x5.5 meter.
Karena ukuran warung itu tidak besar pengerjaannya pun dapat selesai dalam satu hari.
Melihat warungnya yang sederhana telah berdiri hati Jiya sangat bahagia.
“Semoga usaha dagang cocok untuk ku,” gumam Jiya.
Malam harinya Jiya dan Alex sibuk membuat tempat barang-barang jualan mereka di pajang.
__ADS_1
Mereka yang memiliki modal pas-pasan mengandalkan papan bekas rumah warga yang mereka beli untuk jadi rak yang di paku ke dinding.
Alex juga membuat meja dengan ukuran 120x120x120 meter untuk di panjang di depan warung, rencananya mereka akan menempatkan jajanan anak-anak disana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya Jiya pun belanja ke agen yang jaraknya 3 jam dari rumah mereka, kali itu dia di temani Alex dengan mengendarai mobil bak L300 yang mereka sewa.
Mereka pun membeli sembako dan jajanan umum lainnya.
Setelah menghabiskan uang sebanyak 28 juta untuk modal awal jualan, Jiya masih punya uang sisa sebanyak 2 jutanya lagi, Jiya pun memutuskan untuk membeli etalase bekas di pasar, selesai berbelanja mereka pun pulang.
Sesampainya di warung Jiya dan Alex bekerja sama untuk menata barang dagangan mereka tersebut.
Jiya juga membuat papan tanda di pinggir jalan dengan tulisan.
“Toko kelontong Jiya telah buka.”
Tak cukup sampai disitu, Jiya yang kreatif memotret warungnya setelah tertata rapi, kemudian ia mengirim photo tersebut ke aplikasi Facebook dan WhatsApp dengan harapan orang-orang datang berbelanja ke toko mereka.
Orang-orang yang melihat status Jiya lewat di beranda mereka pun merasa penasaran, meski warung itu sederhana tapi terlihat rapi dan barang dagangannya banyak.
Satu persatu warga pun mendatangi toko Jiya, ada yang membeli minyak, jajanan, beras, gula dan lainnya.
Jiya yang melihat masih ada peluang untuk mendapatkan uang pun berkata pada suaminya.
“Lex, bagaimana kalau kita jual gorengan juga? Inikan jalan orang menuju ke sawah dan ladang, pasti banyak yang mampir buat beli.” Jiya yakin itu adalah ide bagus karena menurutnya semua orang suka dengan gorengan.
“Bagus juga sayang, nanti aku yang jaga warung kau yang memasak menggoreng,” ujar Alex.
“Oke.” Jiya mengacungkan jempol kanannya.
Atas kesepakatan bersama Jiya pun menjual gorengan yang ternyata laris manis.
Alex yang melihat usaha mereka ada peningkatan pun mengusulkan pada istrinya untuk membuat warung kopi di sebelah Toko kelontong mereka.
Jiya pun setuju karena ia sendiri sudah memikirkan rencana itu.
Kali itu Alex mengeluarkan tabungan yang ia simpan selama ini.
Jiya yang tahu suaminya punya uang merasa sedikit kesal, namun karena Alex sudah mau mengeluarkan modal untuk membeli keperluan warung kopi rasa marahnya pun mereda.
Jiya tak ingin mengingat yang telah lalu, karena baginya yang paling penting masa sekarang.
__ADS_1
Alex yang bersemangat dari biasanya membuat rasa sayang Jiya tumbuh kembali pada suaminya.
Sejak saat itu Jiya menghargai suaminya seperti awal mereka menikah.
6 bulan kemudian warung Jiya yang sukses besar menambah ruangan toko mereka.
1 tahun kemudian mereka yang cukup modal memutuskan untuk merangkak jadi toko grosir.
Banyak warung-warung kecil dari desa lain belanja ke toko mereka.
Jiya yang ramah dan telaten membuat banyak pelanggan menyukai dirinya, hingga tak terasa mereka yang kewalahan bekerja berdua memutuskan untuk merekrut 3 orang karyawan.
Bisnis Jiya dan Alex pun semakin sukses hingga mereka mampu membeli tanah kepala desa tersebut dan mengubah warung mereka yang sederhana menjadi sebuah supermarket di tahun ke tiga mereka menggeluti usaha tersebut.
Di tahun ke 8 pernikahan mereka, Jiya dan Alex telah sukses besar dengan membuka 10 cabang supermarket yang mereka dirikan di dekat pasar-pasar tang ada di kabupaten tempat tinggal mereka.
Jiya dan Alex pun sudah memiliki rumah mewah berlantai 2 di tanah seluas 1 hektar.
Mereka juga mampu membeli 2 mobil Fortuner berwarna silver dan hitam dan 2 motor untuk mereka pergi kemana-mana.
Sampai tahap itu ekonomi mereka telah lebih dari cukup, namun sayangnya yang kuasa belum memberikan mereka keturunan.
Alex yang ingin anak pun mulai bosan menunggu istrinya hamil, belum lagi Jiya tak mengizinkannya membeli barang-barang mewah yang ia impikan sejak lama.
Untuk baju yang paling mahal Jiya hanya membolehkan Alex membeli dengan harga 500 ribu.
Alex tak suka dengan sifat Jiya yang terlalu hemat, menurutnya tak ada salahnya jika ia membeli barang mahal, karena ia merasa uang yang mereka miliki sudah sangat banyak.
Namun Jiya yang tak ingin menghamburkan uang tak pernah mengabulkan permintaan suaminya.
Jiya yang tegas juga sering memarahi Alex yang selalu mengambil uangnya tanpa izin.
Alex yang tertekan pun mencari hiburan lain dengan mendatangi tempat hiburan malam saat istrinya sibuk mengurus bisnis mereka.
Bodohnya Jiya, ia yang gila kerja sampai tak ingat untuk merawat dirinya sendiri.
Sampai pada suatu hari, Lili sahabat Jiya semasa SMA meneleponnya.
Ji aku di pecat, apa kau punya lowongan untuk ku? Aku sudah enggak kerja selama 4 bulan, uang ku juga ludes, sekarang aku sudah tak makan selama dua hari, aku harus bagaimana Jiya??? Hiks... 📲 Lili.
Sebenarnya karyawan Jiya sudah cukup, namun ia yang iba pada Lili pun akhirnya menerima sahabatnya untuk bekerja dengannya, Jiya melakukan itu karena ia tahu betul bagaimana rasanya hidup susah.
__ADS_1