
Karena kini ia benar-benar sendiri tak ada yang menemani.
“Ini benar-benar buruk.” Lili yang ketakutan pun mengunci rumahnya, lalu ia kembali ke kamar untuk istirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jiya dan Dilan yang telah ada di restoran Kissky Muchu asyik menyantap jagung bakar.
“Aku suka restoran ini,” ucap Dilan.
“Aku juga, aku terkejut ternyata kita bisa memetik sendiri jagungnya,” ujar Jiya.
Restoran indah itu pun berdiri di kelilingi oleh kebun jagung seluas 1 hektar dan siapapun yang datang kesana pasti akan tertarik.
“Kalau nanti kita sudah menikah dan punya anak, kita bawa kesini ya buat makan bersama,” ucap Dilan.
Mendengar perkataan Dilan seketika Jiya membisu.
“Ada apa?” tanya Dilan, karena Jiya terlihat tak biasa.
“Dilan, salah satu alasan suami ku selingkuh karena aku tak bisa memberinya anak, apa kau ingin hidup dengan ku? Aku ini enggak bisa kasih anak loh? Andaikan aku bisa hamil, itu juga enggak bisa di pastikan kapan,” terang Jiya.
“Aku mengerti Jiya, walau begitu aku tetap ingin menikah dengan mu, ku mohon Jiya, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk kita berpisah lagi.” Alex takut kalau Jiya menggantung hubungan mereka lagi.
“Asal kau serius, aku pasti tidak akan berubah pikiran, tapi... ku mohon kau pikirkan baik-baik, jangan sampai kau menyakiti hati ku untuk yang kedua kalinya.” Jiya ingin memastikan kalau dirinya tak salah pilih untuk kedua kalinya.
“Yakinlah, aku akan selalu bersama mu.” Dilan tersenyum pada Jiya yang wajahnya nampak resah.
“Baiklah, aku akan mencoba mempercayai mu. Kalau begitu sekarang kita lanjut makan lagi ya,” ujar Jiya.
Kemudian Dilan melihat jagung mereka yang masih banyak di atas piring.
Bagaimana cara menghabiskannya? batin Dilan.
Ia yang terlanjur senang memetik malah tak sengaja mengambil banyak jagung.
“Jagungnya kita bawa pulang saja ya, atau kau mau habiskan sendiri?” Jiya menanyakan pendapat Dilan.
“Di bawa pulang saja, rasanya aku sudah kenyang,” jawab Dilan.
“Kau sih, main petik saja, pada hal ada aturan berapa yang di petik segitu yang di bakar.” Jiya pun tertawa memikirkan tingkah konyol Dilan.
“Aku kapok.” ucap Dilan dengan sedikit tertawa kecil.
“Lain kali jangan di ulangi lagi.” Jiya pun mengelus punggung Dilan yang sangat menggemaskan di matanya.
Malam itu mereka lalui dengan canda tawa seolah tak ada masalah sebelumnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, tepat pukul 10:00 pagi, Jiya telah berada di pengadilan agama di temani oleh Marwan sebagai saksinya.
“Alex kemana sih?” Jiya dan para hakim terus menunggu kedatangan Alex. Namun Alex tak kunjung datang.
Lalu Jiya pun menelepon Alex, namun sayang tak kunjung di angkat.
“Bagaimana bu Jiya? Apa sudah ada kabar?” tanya pak hakim.
“Belum pak, apa tidak bisa di lanjut saja?” Jiya yang ingin resmi bercerai dengan Alex ingin segera ketuk palu secepatnya.
Lalu ketiga hakim yang ada di hadapan Jiya pun berunding selama 4 menit, setelah itu hakim ketua pun memutuskan melanjutkan sidang perceraian itu tanpa Alex.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alex yang ada di rumah masa kecilnya duduk termenung di pintu masuk kediamannya.
“Harusnya aku setia pada Jiya.” lalu Alex menatap lurus ke hadapannya.
Ia pun melihat gedung Supermarket Jiya yang memiliki 2 lantai.
“Andai saja aku sabar pasti posisi ku masih aman, hidup ku juga enggak susah begini.” Alex yang tidak tidur semalaman merebahkan tubuhnya ke lantai papan rumah panggungnya.
“Mungkin ini adalah balasan untuk ku.” Alex yang merasa sendirian meletakkan telapak tangannya ke dahinya.
“Jiya maafkan aku, pada hal aku tahu Lili orangnya tidak baik, tapi aku masih saja memilih dia.” Alex tak tahu harus berbuat apa untuk terbebas dari kemiskinan yang menyelimutinya saat itu.
Kini ia kembali ke titik nol tak ada apapun yang tersisa selain rumah peninggalan orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jiya yang telah berada di luar persidangan merasa lega karena kini ia telah resmi berpisah dengan Alex.
“Entah kenapa, rasanya beban hidup ku selama ini jadi hilang.” kemudian Jiya mengirim pesan pada Dilan.
Aku sudah resmi jadi janda, mau traktir aku makan? ✉️ Jiya.
Selamat ya, mungkin nanti setelah pulang kerja aku akan menemui mu, ✉️ Dilan.
Oke, ku tunggu! Hehehe... ✉️ Jiya.
Selesai berkirim pesan dengan Dilan, Jiya pun pulang ke rumahnya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dilan yang ada di office Golden Market memikirkan soal perceraian Jiya.
__ADS_1
“Jiya memang beda, harusnya dia bersedih, tapi malah terlihat biasa saja, tapi kalau sudah begini apa keluarganya mau menerimanya kembali?” Dilan berencana ingin menyatukan Jiya dan keluarganya kembali.
“Kasihan, pasti dia sangat merindukan oranh tuanya.” Dilan yang akan menikahi Jiya andai memang jodoh menginginkan aya Jiyalah yang mengucap akad nikah padanya.
“Coba aku bujuk Jiya agar mau pulang ke rumah orang tuanya,” gumam Dilan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lili yang kehabisan bahan dapur terpaksa harus pergi sendiri ke pasar.
“Pada hal aku malas banget, belum lagi badan ku sakit semua lagi, andaikan ada mas Alex disini, lumayan buat di suruh-suruh.” walau benci tapi Lili masih membutuhkan jasa Alex.
Namun Lili yang egois malah mengusir Alex hingga membuat hidupnya susah.
Lili yang terus merasa lapar pun akhirnya beranjak untuk mengambil tasnya. Sesampainya dalam kamar, Lili pun mengambil tas CD nya yang di gantung di balik pintu.
Kemudian Lili mengambil dompetnya yang ada dalam tas tersebut.
Ttreeett...
Seketika Lili di buat lemas, karena di dalam dompetnya hanya ada uang 50 ribu rupiah.
“Astaga, dapat apa dengan uang segini?” Lili menatap sedih sisa uang yang ia miliki.
“Ongkos saja sudah ketahuan 20 ribu pergi pulang, sisa 30 ribu, ya Allah...” Lili yang kewalahan menutup matanya dengan tangannya.
Bagaimana cara ku melanjutkan hidup kalau begini? batin Lili.
Lili yang berduka melihat ke arah koleksi baju-bajunya yang menumpuk dan sangat banyak.
“Benar juga, lebih baik aku jual, dari pada membuat sampah dalam lemari ku.” Lili pun mengambil sekantung plastik besar pakaiannya.
Selanjutnya Lili berangkat menuju pasar Enjo yang jaraknya 20 menit dengan menaiki angkot.
Saat angkot telah datang, Lili pun melambaikan tangannya agar angkot merah tersebut berhenti.
Setelah angkot itu merem tepat di hadapannya, Lili pun naik dan memgambil tempat duduk di bagian paling sudut.
Dalam angkot itu ada 5 penumpang, 2 orang anak remaja, 3 orangnya lagi ibu-ibu paruh baya.
Anehnya nereka semua sama-sama menatap tajam ke arah Lili.
Brem...
Setelah angkot merah itu melaju, si ibu A, yang kira-kira berusia 42 tahun berkata pada Lili.
“Heh! Kau Lili kan?!” pekik ibu A.
__ADS_1
Lili yang tak mengenal wanita tersebut merasa heran.
“Iya.” sahut Lili dengan raut wajah yang bingung.