
Jiya pun menghampiri Alex yang masih berdiri di depan pintu.
“Bang! Kau baik-baik saja? Kok bisa selama itu di toilet?” Jiya memegang perut suaminya.
“Enggak tahu juga Jiya, tiba-tiba saja perut ku melilit dan...” belum sempat Alex melanjutkan barisan katanya tiba-tiba ia sudah ingin muntah dan buang air besar lagi.
Alex pun segera masuk lagi ke dalam toilet untuk mengeluarkan isi perutnya.
Brak!
Alex menutup pintu dengan keras hingga Jiya dan Lili terkejut.
Gawat! Harus bagaimana ini, batin Lili.
Ia yang takut Alex sampai sakit parah pun mendatangi Jiya yang ada di dekat pintu toilet.
“Ji, kita bawa saja mas Alex berobat saja, aku kasihan banget sama mas Alex.” Lili memaksa Jiya agar mengizinkan Alex ke rumah sakit.
“Enggak usah, nanti mereka bilang kena Corona lagi.” ucap Jiya yang ingin membuat Alex tersiksa.
“Kau gimana sih Jiya, jelas-jelas mas Alex itu tidak baik-baik saja, dia itu keracunan!” Lili yang bersemangat malah kelepasan bicara.
Eh, mati aku, batin Lili.
“Kok bisa? Bukannya tadi bang Alex baik-baik saja dan enggak ada masalah?” Jiya menatap tajam pada Lili.
“I-iya, tapikan mas Alex kesakitan banget, mungkin dia makan enggak bersih di luar Ji, efeknya kan enggak langsung kelihatan.” Lili yang merasa bersalah malah gelagapan dan bicara tak jelas.
“Oh... kau benar juga, mungkin semalam pelacurr itu kasih di makanan basi makanya efeknya baru bekerja sekarang?” Jiya tak langsung menuduh Lili karena ia masih ingin membuat keduanya susah sampai akhirnya ia tendang keluar dari kehidupannya.
”Mungkin saja.” Lili yang di katakan pelacurr merasa sakit hati dan tak terima.
Awas saja kau! Nanti setelah aku dan suami ku mendapatkan semua harta kekayaan mu, kau akan ku buang ke jalanan! batin Lili.
Saat keduanya diam dalam perang dingin tiba-tiba Jiya mendengar handphonenya yang ada dalam kamar berdering.
“Tunggu sebentar, aku ke kamar dulu,” ujar Jiya.
“Iya,” sahut Lili.
Kemudian Jiya beranjak menuju kamar, sedangkan Lili masih setia di dapur menunggu suaminya keluar.
Jiya yang telah sampai ke dalam kamar mengambil handphonenya yang ada dalam tasnya.
“Hum? Nomor siapa ini?” Jiya tak dapat mengenali nomor baru yang mendial dirinya.
Ia yang takut itu orang penting pun langsung menerima panggilan telepon itu.
__ADS_1
Halo, ini dengan siapa ya? 📲 Jiya
Jiya, ini Dilan, 📲 Dilan.
Dilan? Dari mana dia tahu nomor ku, batin Jiya
Ada perlu apa kau menelepon ku? 📲 Jiya.
Tas CD mu tadi ketinggalan di rumah sakit, sekarang sudah ku pegang, takut hilang lumayan kan 80 juta, 📲 Dilan.
Untuk mu saja, atau berikan pada pacar mu, 📲 Jiya.
Dari pada bertemu Dilan, Jiya lebih memilih merelakan tasnya untuk Dilan.
Pacar ku enggak pernah mau menerima pemberian dari orang lain, kecuali aku, 📲 Dilan.
Kalau begitu buang saja atau berikan pada pengemis, 📲 Jiya.
Oke, 📲 Dilan.
Ya sudah, jangan pernah menelepon ku lagi! 📲 Jiya.
Jiya yang marah langsung mematikan panggilan dari Dilan, tak cukup sampai disitu, Jiya juga langsung memblokir nomor mantan kekasihnya tersebut.
Setelah itu Jiya kembali ke dapur guna menikmati penderitaan suaminya.
Saat akan sampai ke dapur Jiya pun melihat Lili sedang berbincang dengan Alex di depan pintu kamar mandi.
Melihat suami dan sahabatnya berpelukan secara langsung membuat hati Jiya murka.
“Li, perut ku masih melilit, aku mau ke rumah sakit saja biar di periksa dokter,” ucap Alex.
“Iya mas, tadi juga aku sudah bilang pada Jiya untuk membawa mu berobat, tapi dia enggak mengizinkan, entah apa maksudnya, apa mungkin dia yang telah membuat mu sakit mas?” Lili yang licik melimpahkan semua kesalahannya pada Jiya.
Wah! Benar dugaan ku, berarti dia menaruh sesuatu di bubur itu, tapi Lili benar-benar jahat ya, dia yang berbuat malah aku yang di kambing hitamkan, astaga! batin Jiya.
Untuk membalas perbuatan sahabatnya ia pun masuk ke dapur.
“Uhuk uhuk uhuk!” Jiya pura-pura batuk agar keduanya menghentikan kemesraan mereka.
Sontak Lili melepaskan pelukannya dari Alex dan mundur beberapa langkah.
“Apa kau sudah sehat bang?” Jiya pun memberikan obat Diapet dan Antimo untuk Alex.
Alex yang melihat obat bebas jual itu merasa kurang senang.
Pasalnya ia yang seorang suami dari pemilik supermarket Lee Jiya malah di beri obat biasa.
__ADS_1
“Sayang, penyakit ku parah loh, masa kau kasih aku obat warung? Yang aku butuhkan itu penanganan dokter langsung Jiya!” Alex mulai marah pada istrinya.
“Ya ampun bang kau itu hanya masuk angin, di dalam rak piring ada Angin Tolak kok, minum itu saja,” ujar Jiya.
“Aku itu keracunan Jiya, apa kau tak khawatir sedikit pun?” Alex jengkel dengan Jiya yang membuat ia ingin memukul istrinya.
“Gimana caranya kau keracunan bang? Dari tadi kau baik-baik saja, apa kau makan ikan asin basi di luar?” secara tidak langsung Jiya menyindir halus Lili.
Benar juga, batin Alex.
Sontak ia menoleh ke arah Lili yang menjadi gugup.
Oh... dia pelakunya? Sialan! Kenapa enggak kode-kode sih! batin Alex.
“Cepat minum bang, bagaimana kalau kau mati gara-gara itu?” Jiya menakut-nakuti Alex.
“Sudahlah! Aku mau ke rumah sakit saja,” ujar Jiya.
Lili yang ingin ikut sungkan pada Jiya yang berdiri seperti mengawasinya.
“Oh ya Li, kau bisa keliling toko untuk menggantikan bang Alex memeriksa atribut toko dan memastikan apa pop, price take sudah benar,” pinta Jiya.
“Sekarang?” tanya Lili.
“Iya, karena itu sangat penting.” Jiya memaksa Lili untuk pergi saat itu juga.
Lalu Lili melihat ke jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 15:00 wib.
“Apa enggak besok saja Ji?” Lili menawar karena dari jarak toko yang satu ke yang lain cukup jauh dan bisa memakan waktu sampai malam.
“Sekarang Li, aku minta tolong banget.” Jiya memeluk Lili dengan erat.
Lili yang hanya sebagai bawahan tentun sulit untuk menolak kedua kalinya.
“Iya Ji, kalau begitu aku pergi sekarang, lebih baik kau istirahat biar cepat sembuh ya.” lalu Lili melepas pelukan Jiya darinya.
“Baiklah, terimakasih banyak Lili.” setelah itu Jiya menuju kamarnya dengan tertawa lepas dalam hatinya.
Hahaha... emang enak! Ini baru permulaan, batin Jiya.
Lili yang dapat tugas dari Jiya segera bergegas agar tidak pulang terlalu malam.
Sialan! Kau sengaja ya Jiya? batin Lili.
🏵️
Dilan yang ada di kantornya membuka akun Instagramnya. Lalu ia pun mencari nama Jiya di aplikasi tersebut.
__ADS_1
“Lee Jiya.” tak lama ia pun melihat id mantannya tersebut.
“Photonya enggak ganti-ganti dari kelas X SMA.” Dilan terseyum karena Jiya tak pernah mengganti photo profilnya pada hal itu sudah belasan tahun yang lalu.