Menghajar Selingkuhan Suami Ku

Menghajar Selingkuhan Suami Ku
Main Tangan


__ADS_3

Jiya yang masih syok memberikan kartu kreditnya pada karyawati tersebut.


“Iya.” Jiya yang tak kuat berdiri duduk di sofa yang ada di antar rak susunan tas mewah yang di pakai kalangan atas yang sudah bingung membuang uangnya kemana.


Sang karyawati pun memasukkan chip kartu kredit Jiya ke dalam mesin EDC, setelah itu menekan angka sesuai dengan harga yang tertera.


“Ini bu, silahkan masukkan pin nya,” ucap si karyawati.


“Iya bu.” Jiya pun menekan 6 digit pin kartu kreditnya.


Setelah itu sang karyawati menyerahkan tas yang baru Jiya beli yang di bungkus dalam tas belanjaan yang bahannya kokoh dan terlihat mahal.


“Terimakasih sudah berbelanja di tempat kami.” ucap si karyawati dengan senyum yang mengembang.


“Tunggu.” Jiya menghentikan langkah kaki karyawati tersebut.


“Apa masih ada yang bisa saya bantu?” ucap si karyawati.


Lalu Jiya menunjukkan photo Alex yang ada di galeri handphonenya.


“Apa Lili datang dengan pria ini?” Jiya ingin memastikan sekali lagi agar merasa yakin.


“Oh, inikan pak Alex, apa pak Alex adiknya ibu?” ucap si karyawati.


Sontak Jiya menatap nanar ke arah karyawati tersebut. Lalu tanpa sebaris kata pun Jiya bangkit dari duduknya lalu berjalan pelan keluar dari toko tersebut.


Setelah Jiya berada di luar toko ia pun berjalan dengan langkah terhuyung.


“Kenapa mereka tega mengkhianati ku? Terutama Lili, pada hal aku selalu bercerita tentang semua masalah yang ku hadapi padanya, aku juga sudah baik padanya.” kenyataan pahit yang Jiya terima membuat ia panas dingin.


Ia yang takut tumbang berjalan dengan perlahan.


“Astaga, kepala ku pusing sekali.” Jiya yang memaksakan diri untuk tetap berjalan tiba-tiba merasa kalau area sekitarnya berputar.


Pandangannya pun menggelap tubuhnya terasa lemah tak berdaya.


Saat Jiya akan jatuh ke lantai tiba-tiba ada yang menangkap tubuhnya.


“Hati-hati.” ucap seorang lelaki berparas tampan pada Jiya.


Jiya yang tak bisa melihat dengan jelas tak dapat mengenali wajah yang telah menolongnya.


“Terimakasih.” setelah mengatakan itu Jiya kehilangan kesadarannya.


🏵️

__ADS_1


Lili yang ada di kantor tak melihat kehadiran Jiya.


“Apa dia libur kerja?” Lili merasa heran karena Jiya yang biasa aktif dan disiplin tak datang kerja di hari itu.


Lili pun mencoba menelepon Jiya untuk menanyakan posisi atasannya itu ada dimana.


Truttt!!


Cukup lama Lili mendial nomor Jiya yang statusnya berdering sampai akhirnya ada seorang laki-laki yang menjawab panggilan tersebut.


Halo, 📲 Dilan.


Halo, ini siapa? Bukannya ini handphonenya Jiya? 📲 Lili.


Iya benar, saya memegang handphonenya karena Jiya sekarang di rawat di rumah sakit mall RMK, 📲 Dilan.


Loh, kok bisa? Apa yang terjadi dengan sahabat saya mas? 📲 Lili.


Pingsan karena kecapean dan banyak pikiran, kalau ibu berkenan tolong jemput bu Jiya nya, karena saya akan berangkat kerja sebentar lagi, 📲 Dilan.


Baiklah, saya kesana sekarang, 📲 Lili.


Setelah itu Lili mematikan sambungan teleponnya.


“Apa dia akan mati?” Lili yang hanya ingin tahu kondisi Jiya langsung menyusun barang-barangnya ke dalam tas.


Ia juga mengirim pesan pada suaminya tentang kondisi Jiya.


Si jelek lagi di rumah sakit, do'akan sayang semoga dia mati, kau juga harus datang kesana, ✉️ Lili.


Alex yang membaca pesan itu merasa bahagia bukan main, karena harapan untuk mewarisi harta istrinya telah ada di depan mata.


🏵️


Jiya yang telah pingsan selama 30 menit akhirnya bangun.


Jiya pun membuka matanya dengan perlahan, lalu ia pun melihat cahaya lampu yang begitu menyilaukan matanya.


“Aku dimana?” ketika Jiya menoleh ke sebelahnya ia pun melihat pria yang begitu familiar.


“Kau sudah bangun Jiya?” ucap Dilan sang mantan yang pernah menoreh luka di hatinya.


Luka itu bahkan tak pernah hilang meski itu sudah 11 tahun yang lalu.


“Kau?” Jiya menatap tak suka pada Dilan yang telah merebut kesuciannya.

__ADS_1


“Apa kabar?” Dilan menatap iba pada Jiya yang begitu lusuh dan dekil.


Jiya yang tak nyaman melihat orang yang meninggalkannya demi wanita lain bangkit dari ranjang pasien meski masih kurang fit.


“Kau mau kemana?” tanya Dilan yang merasa bertanggung jawab akan Jiya sebelum Lili datang.


“Kemana pun asal tak ada kau.” lalu Jiya turun dari ranjang dan memakai sandalnya.


“Jiya! Kau belum pulih betul, tunggu sampai saudari mu datang.” Dilan yang telah melupakan segala yang terjadi tak pernah mengerti betapa peliknya hari-hari yang di hadapi Jiya karena mantan kekasihnya itu.


“Berisik!” pekik Jiya.


Srakk!!


Saat Jiya telah membuka tirai ranjangnya ia pun melihat Lili telah ada di hadapannya.


“Jiya!” Lili langsung memeluk Jiya yang terlihat pucat. Jiya yang di jenguk Lili merasa gerah.


Plak!


“Dasar perempuan enggak tahu diri!” Jiya melancarkan serangan pertamanya pada di pipi mulus Jiya.


“Jiya! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menampar ku?” Lili memegang bekas pukulan Jiya.


“Kau masih pura-pura bodoh, hah?!” Jiya yang terbakar api cemburu dan dendam kembali memukul pipi Jiya kiri dan kanan.


Plak!


Plak!


“Hentikan Jiya! Apa kau sudah gila? Kenapa kau menyakiti ku, pada hal aku enggak punya salah apapun pada mu!” Lili yang tak terima mendorong tubuh sahabat yang ia khianati.


“Lili! Apa sampai disini kau belum sadar juga kalau kau sudah menghancurkan kehidupan rumah tangga ku, sialan?!” Jiya mendorong keras tubuh Lili hingga jatuh ke lantai.


“Apa yang kau katakan? Mana mungkin aku merusak rumah tangga mu, kau waras atau tidak?! Aku enggak sejahat itu Jiya!” Lili yang tak mau mengakui kesalahannya membuat Jiya tambah kesal.


“Kau benar-benar perempuan ular berhati iblis! Aku menyesal sudah pernah mengenal mu dan menolong mu saat itu, pada hal aku sudah menganggap mu sebagai saudari tapi kau sampai hati merebut suami ku dan mengambil uang ku?!” Jiya yang tak bisa memaafkan Lili berlutut kd lantai lalu mencekik leher Lili.


“Le-lepaskan aku bodoh?! Aku enggak pernah memiliki hubungan dengan suami mu.” meski nyawanya terancam tapi Lili belum mau mengakui hubungan gelapnya dengan Alex.


“Dasar hina! Aku punya bukti perselingkuhan kalian!” Jiya yang menggila menjambak rambut Lili hingga kepalanya terjungkal ke belakang.


“Akhh!! Sakit lepaskan aku jelek! Pantas saja suami mu mendua, ternyata kau kasar, brandal dan juga lusuh! Lepaskan aku atau kau mau aku lapor ke kantor polisi?” Lili yang berdosa mengancam Jiya.


“Coba saja kalau kau berani! Karena aku akan melaporkan mu juga ke kantor polisi, wanita jahat dan pencuri seperti mu pantasnya di penjara, kau dan Alex akan ku kirim ke sana sialan! Jangan macam-macam!!” Jiya berteriak keras di wajah Lili.

__ADS_1



__ADS_2