
“Apa kau tidak malu di lihat banyak orang?” Jiya menegur perbuatan Dilan yang tak lihat situasi dan kondisi.
“Astaga! Begitu saja kau sudah marah pada ku?” Dilan yang malu dan salah tingkah membenarkan duduknya dan melihat ke arah depan.
Cup!
Dilan menoleh ke arah Jiya yang mencium pipinya secara tiba-tiba.
“Apa artinya?” tanya Dilan sebab itu adalah ciuman pertama mereka.
“Apa ada kata lain selain cinta?” Jiya tersenyum melihat kekasihnya yang salah tingkah.
“Sebesar apa kau mencintai ku?” Dilan ingin tahu jawaban Jiya.
“Sepenuh hatiku.” Jiya menatap mata indah kekasihnya.
Sontak Dilan menggigit ujung bibirnya karena sore itu Jiya begitu mengejutkannya.
“Jiya.” Dilan mengusap puncak kepala kekasihnya.
“Iya ganteng?” lagi-lagi Jiya membaut Dilan ingin terbang ke awan.
“Kau... benar-benar ya, ck!” Dilan tak jadi mengatakan apa yang ada dalam hatinya.
“Apa? Kenapa kau diam?” ucap Jiya dengan polosnya.
“Enggak jadi.” lalu Dilan tertawa membelakangi Jiya.
“Hei! Ada apa sih? Katakan pada ku?” Jiya menggoyang-goyang kedua bahu Dilan dengan kedua tangannya.
“Oke-oke, aku hanya tak menyangka kalau kau orangnya romantis juga,” ujar Dilan.
“Oh ya?” Jiya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
Tak lama idol yang mereka tunggu-tunggu pun naik panggung.
Jiya dan Dilan pun berdiri untuk mengikuti lagu yang di bawakan group idol tersebut.
Konser itu berlangsung selama 2 jam, setelah itu Jiya dan Dilan bergegas untuk pulang.
“Ji, kita makan dulu ya, soalnya aku lapar,” pinta Dilan.
“Oke! Tapi kita makan di luar ya, aku rindu makan di warung pecel ayam yang di dekat trotoar fly over Jatinegara,” ujar Jiya.
“Oh iya, kesitu juga boleh.” selanjutnya Jiya dan Dilan menuju restoran Amerika tempat mereka parkir tadi.
Setelah itu mereka pun berangkat menuju warung favorit mereka mulai dari kelas 3 SMP.
Duar!!!
Zaaarr!!
Saat masih seperempat perjalanan hujan deras tiba-tiba turun.
“Aduh Lan! Berteduh dulu yuk! Nanti buku kita basah lagi.” Jiya takut soal pekerjaan rumah yang ia salin dalam buku tulisnya luntur.
Karena itu adalah soal khusus dari gurunya dan tak terdapat di buku paket pelajarannya.
“Baiklah.” Alex pun menepikan motornya di depan hotel yang ada di pinggir jalan.
__ADS_1
Setelah mesin motor mati, Jiya dan Dilan buru-buru berteduh di halte yang ada di depan hotel tersebut.
Jiya yang telah duduk pun memeriksa tasnya untuk memastikan buku-bukunya selamat.
“Alhamdulillah, ku pikir basah Lan,” ucap Jiya.
“Iya, aku juga kering,” sahut Dilan.
Lalu Jiya dan Alex duduk bersebelahan di halte itu.
Duarr!!
Zaaarrr!
Suara gemuruh dan hujan yang semakin deras membuat Jiya resah, sebab saat itu sudah jam 21:00 malam.
“Ada apa?” Dilan bertanya karena Jiya terlihat tak tenang, kekasihnya itu terus melihat ke kiri dan kanan.
“Aku takut hujannya enggak reda-reda Lan, nanti sampai jam berapa aku ke rumah?” ucap Jiya.
“Bukannya kita sampai pagi?” Dilan mengungkit apa yang ia katakan.
“Astaga, jadi kau pikir aku benar-benar mau?” Jiya tak menyangka kalau Dilan serius padanya.
“Santai-santai, mana mungkin aku berani melakukan itu.” untuk menghindari tatapan tajam Jiya Dilan mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya yang ada di hadapannya.
Tak lama keduanya pun jadi hening karena mereka tak tahu harus bicara apa lagi.
Belum lagi cuaca malam itu begitu dingin sampai menusuk tulang.
“Hatciu!!” Dilan bersin berulang kali setelah itu ia pun bersedekap agar merasa hangat, sebab pakaiannya sempat basah.
“Panas, aduh gimana dong?” Jiya khawatir karena Dilan ternyata demam.
“Biarkan saja, nanti juga sembuh kok.” Dilan senang mendapat perhatian dari Jiya.
“Tapi kau panas banget, ayo!” Jiya bangkit dari duduknya.
“Mau kemana?” tanya Dilan seraya mendongak.
“Pesan kamar, ku rasa hujannya enggak akan reda dalam waktu cepat,” ujar Jiya.
“Ta-tapikan...” Dilan yang berpikiran kotor mengira kalau itu kode mulus dari Jiya.
“Apa kau mau menunggu hujan reda? Lihat.” Jiya menunjukkan ramalan cuaca di handphonenya pada Dilan.
“Masih kencang banget hujannya, lebih baik kita ke dalam, pasti lebih hangat.” Jiya pun menarik tangan Dilan, setelah itu keduanya menerobos hujan sebentar sebelum sampai ke lobby hotel.
Satpam yang berjaga pun membuka pintu untuk mereka berdua.
Lalu Jiya dan Dilan masuk ke dalam hotel, keduanya pun langsung menuju resepsionis.
“Kamar satu.” pinta Jiya sebelum si gadis resepsionis memberi salam padanya.
“Bisa lihat KTP nya kak?” pinta si resepsionis.
Aduh, mana boleh masuk kalau di bawah umur, batin Dilan.
Lalu Jiya yang tak memiliki kartu tanda penduduk memberikan kartu pelajarnya sebagai gantinya.
__ADS_1
Dilan yang melihat itu langsung mengambil kartu pelajar Jiya sebelum di baca si resepsionis.
“Kau gila ya, kita bisa kena lapor ke pihak sekolah.” bisik Dilan di telinga Jiya, Dilan juga takut kalau resepsionis itu mengerjai mereka.
“Enggak akan, tenang saja.” lalu Jiya mengambil kartu pelajarnya dari Dilan.
Jiya pun dengan percaya diri kembali memberikan kartu pelajarnya tersebut pada si resepsionis.
Saat si resepsionis menerimanya, sang resepsionis pun berkata.
“Maaf ya dik, hotel kami tidak bisa menerima anak di bawah umur untuk menginap disini.” sang resepsionis mengatakan peraturan hotel mereka.
Jiya yang lebih banyak aksi dari pada bicara langsung mengeluarkan atmnya.
“5 juta untuk satu malam,” ucap Jiya.
Lalu si resepsionis yang kebetulan bertugas sendirian menoleh ke kiri dan ke kanan.
“Baiklah, apa ada uang cash?” tanya si resepsionis.
“Tulis nomor rekeningnya saja,” ujar Lili.
“Baiklah.” si resepsionis pun menulis nomor rekening pribadinya.
Dilan yang melihat aksi berani Jiya menjadi terperangah.
Sejak kapan Jiya bisa menyuap orang? batin Dilan.
Setelan si resepsionis selesai menulis nomor rekeningnya, ia pun memberikannya pada Jiya.
“Kalau begitu aku bayar uang menginapnya dulu, nanti sisanya ku kirim ke atm mu,” ucap Jiya.
“Siap!” si resepsionis yang kehabisan uang tentu merasa senang mendapat dana suntik cuma-cuma.
Selanjutnya si resepsionis memberikan kunci kamar nomor 94 pada Jiya.
“Kamarnya ada di lantai 4 ya dik.” si resepsionis pun menunjuk ke arah lift pada Jiya dan Alex.
“Terimakasih banyak.” kemudian Jiya menarik tangan Dilan menuju lift tersebut.
“Apa kau sering melakukan ini?” Dilan curiga kalau Jiya adalah wanita nakal.
“Baru kali ini, itu juga karena kepepet.” jawab Jiya dengan jujur tanpa ada niat yang aneh-aneh.
“Oh ya?” meski begitu Dilan tak percaya padanya.
Ting!
Setelah pintu lift yang mereka tunggu terbuka Jiya dan Dilan pun masuk ke dalamnya. Setelah itu Dilan menekan angka 4.
Zuuuuung!!!
Perlahan-lahan lift itu pun mulai naik melewati lantai, 1,2,3, 4.
Ting!
Setelah pintu Lift pun terbuka lebar keduanya pun keluar dan segera mencari kamar mereka.
__ADS_1